Proyek gas raksasa Blok Masela di Laut Arafura, Maluku, akhirnya memasuki tahap konstruksi setelah tertunda selama 28 tahun. Groundbreaking yang telah dilakukan membuka jalan bagi Proyek Abadi LNG untuk mengejar target mulai berproduksi pada 2029.
Perkembangan ini penting karena proyek tersebut telah melewati enam periode kepresidenan sejak keberadaannya tercatat pada 1998. Selama hampir tiga dekade, potensi produksi gas, LNG, dan penerimaan negara belum dapat berjalan akibat keputusan pengembangan yang tak kunjung tuntas.
Perdebatan Offshore dan Onshore Berakhir
Hambatan utama Blok Masela selama ini berkaitan dengan pilihan lokasi fasilitas pengolahan, antara dibangun di laut atau offshore dan di darat atau onshore. Perbedaan pandangan mengenai skema tersebut membuat proyek berinvestasi besar ini tertahan dalam waktu panjang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menilai perdebatan yang berlarut-larut hanya menunda manfaat ekonomi dari proyek migas itu. “Kalau ini terus menjadi perdebatan, kapan selesainya? Dampaknya, kita baru akan mendapatkan pendapatan negara ketika proyek ini berjalan,” tegasnya.
Bahlil menyebut Blok Masela telah ada sejak 1998 dan melewati enam presiden hingga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, arahan Presiden Prabowo mendorong langkah eksekusi proyek hingga persoalan yang sebelumnya berlarut dapat diselesaikan dalam satu tahun sampai groundbreaking terlaksana.
Groundbreaking menjadi penanda dimulainya pembangunan fisik proyek di Laut Arafura. Tahap tersebut sekaligus menggeser fokus proyek dari perdebatan desain pengembangan menuju pelaksanaan konstruksi dan penyelesaian fasilitas produksi.
Investasi Besar untuk LNG, Gas, dan Kondensat
Mediaindonesia.com melaporkan proyek ini dioperasikan oleh Inpex Corporation bersama mitranya dengan nilai investasi sekitar US$21 miliar. Nilai tersebut mencakup tambahan investasi US$1 miliar untuk teknologi Carbon Capture and Storage atau CCS.
Skala investasi itu sejalan dengan rencana kapasitas produksi yang disiapkan dari blok migas tersebut. Saat beroperasi, proyek ini direncanakan menghasilkan LNG, gas pipa, serta kondensat setiap hari.
| Komponen | Rencana Produksi atau Nilai |
|---|---|
| Nilai investasi | Sekitar US$21 miliar |
| Tambahan investasi CCS | US$1 miliar |
| Produksi LNG | 9,5 juta ton per tahun |
| Produksi gas | 150 juta standar kaki kubik per hari |
| Produksi kondensat | 35.000 barel per hari |
Kapasitas LNG dari proyek tersebut direncanakan mencapai 9,5 juta ton per tahun. Angka ini menjadi komponen utama dari pengembangan lapangan gas yang selama ini tertunda.
Selain LNG, Blok Masela diproyeksikan memproduksi gas sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari atau MMSCFD. Produksi lainnya berupa kondensat dengan target 35.000 barel per hari.
Tambahan investasi untuk CCS menunjukkan adanya penggunaan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon dalam rencana proyek. Teknologi itu menjadi bagian dari nilai investasi yang disebut mencapai sekitar US$21 miliar.
Target Penyelesaian pada 2029
Setelah groundbreaking, pembangunan proyek diperkirakan berjalan hingga 2029. Tahun tersebut menjadi target penyelesaian konstruksi sekaligus awal produksi dari Blok Masela.
Bahlil mengatakan tahapan pembangunan kini telah dimulai setelah proses pengambilan keputusan pengembangan diselesaikan. “Dengan groundbreaking itu, maka tahap pembangunan mulai berjalan dan diperkirakan selesai, Insyaallah, tahun 2029,” pungkasnya.
Target itu menempatkan 2029 sebagai titik penting bagi proyek yang telah tertahan sejak 1998. Jika pembangunan rampung sesuai rencana, produksi LNG, gas pipa, dan kondensat dari Laut Arafura akan mulai berjalan pada tahun tersebut.
Bagi pemerintah, dimulainya konstruksi berarti manfaat ekonomi dan penerimaan negara dari proyek ini tidak lagi hanya berada dalam rencana pengembangan. Pelaksanaan proyek kini bergantung pada penyelesaian pembangunan fisik sesuai jadwal yang ditetapkan.
