Batuk pilek, demam, hingga infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA kerap dianggap keluhan biasa. Namun, ketika penyakit ringan itu muncul berulang dalam satu keluarga, biaya konsultasi dan obat dapat menggerus pengeluaran bulanan.
Tekanan tersebut terjadi di tengah kenaikan harga obat yang terus berlangsung dari tahun ke tahun. Kondisi ini membuat kebutuhan pengobatan sehari-hari perlu diperhitungkan, bukan hanya biaya saat menghadapi penyakit berat.
ISPA Menjadi Klaim Rawat Jalan Terbanyak
Data Allianz Indonesia mencatat ISPA sebagai kondisi dengan tagihan obat rawat jalan terbanyak sepanjang 2025. Jumlahnya mencapai 32.519 kasus, sekaligus menunjukkan tingginya frekuensi keluhan pernapasan di antara nasabah.
Tren itu berlanjut pada kuartal I 2026 dengan 10.026 klaim terkait ISPA. Dalam periode yang sama, diare, radang tenggorokan, demam, serta batuk pilek juga masuk deretan kondisi yang banyak diklaim.
| Kondisi | Kasus Rawat Jalan 2025 | Klaim Kuartal I 2026 |
|---|---|---|
| ISPA | 32.519 | 10.026 |
| Radang tenggorokan | 8.581 | 2.795 |
| Demam dan pilek | 7.728 | – |
| Diare | – | 3.741 |
| Demam | – | 2.394 |
| Batuk pilek | – | 2.369 |
Tingginya jumlah kasus tidak berarti penyakit ringan selalu lebih mahal dibandingkan penyakit kronis dalam satu kali pengobatan. Meski begitu, frekuensi sakit yang berulang membuat total pengeluaran obat dapat menjadi biaya rutin yang sering luput dari perencanaan.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie, menilai masyarakat cenderung lebih bersiap menghadapi risiko penyakit berat. Padahal, keluhan umum yang datang berkali-kali tetap memerlukan biaya pemeriksaan dan pengobatan.
“Masyarakat sering kali hanya mengantisipasi biaya ketika menghadapi penyakit berat. Padahal, penyakit yang umum terjadi seperti ISPA, radang tenggorokan, maupun demam dan pilek juga tetap membutuhkan pengobatan,” kata dr. Tubagus Argie.
Kenaikan Harga Obat Menambah Beban
Allianz Indonesia mencatat kenaikan harga obat tertinggi terjadi pada 2023, yakni 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Chief Technical Officer Allianz Life Indonesia Brandon Heng menyebut kenaikan harga obat berada di kisaran 6 hingga 15 persen setiap tahun.
Obat memang bukan komponen terbesar dalam inflasi medis, tetapi kenaikan harganya tetap memberi tekanan tambahan pada biaya kesehatan. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing turut berdampak pada biaya bahan baku dan obat impor.
Pada 11 Juni 2026, Kementerian Kesehatan menetapkan penyesuaian harga obat komersial swasta dengan batas maksimal 20 persen. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengendalikan pasar serta melindungi masyarakat dari lonjakan harga yang tidak terkendali.
Allianz Indonesia memproyeksikan inflasi medis di Indonesia mencapai 17,6 persen pada 2026. Angka ini berada jauh di atas inflasi umum, dengan biaya layanan medis, teknologi kesehatan, dan permintaan layanan turut menjadi pendorongnya.
Terapi Kronis Juga Kian Mahal
Dampak kenaikan biaya obat lebih berat dirasakan pasien yang menjalani terapi jangka panjang. Penderita diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit kronis lain membutuhkan obat secara berulang, bukan hanya ketika gejala muncul.
Sepanjang 2025, Allianz Indonesia mencatat harga obat diabetes meningkat sekitar 10 persen. Harga obat hipertensi pada periode yang sama naik hingga 15 persen.
| Jenis Obat | Kenaikan Harga Sepanjang 2025 |
|---|---|
| Obat diabetes | Sekitar 10 persen |
| Obat hipertensi | Hingga 15 persen |
Kebutuhan obat menjadi bagian penting dari total biaya ketika seseorang sakit, selain pemeriksaan dokter dan tindakan medis. Karena itu, perlindungan kesehatan dan persiapan pengeluaran perlu mempertimbangkan risiko penyakit ringan yang berulang maupun terapi kronis yang berlangsung lama.
