Upaya mencairkan hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali tersendat setelah Teheran menutup lagi Selat Hormuz. Jalur pelayaran paling strategis di kawasan itu kini berubah menjadi alat tekanan, sementara pembicaraan damai ikut terseret konflik di Lebanon.
Pertemuan delegasi kedua negara di Swiss semula dimaksudkan untuk membahas jalur damai yang sudah disepakati lewat nota kesepahaman. Namun, Iran menolak melanjutkan pembahasan program nuklir sebelum serangan di Lebanon mereda dan kompensasi ekonomi yang dijanjikan diberikan.
Selat Hormuz Jadi Titik Tekanan Baru
Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu inti kesepakatan yang dibahas Iran dan Amerika Serikat. Jalur ini sangat penting karena menjadi rute utama pelayaran dan pasokan energi global.
Menurut informasi yang dikutip Reuters, Iran memilih menutup kembali selat itu setelah tidak melihat tanda nyata berakhirnya pertempuran di Lebanon. Kantor berita Iran Fars juga mengutip sumber militer yang mengatakan otoritas Teheran menghentikan penerbitan izin pelayaran baru untuk kapal komersial tanpa batas waktu yang jelas.
Pemerintah AS sempat membantah adanya pemblokadean total. Washington menyebut masih ada 55 kapal dagang yang berhasil melintas pada hari Sabtu.
Diplomasi Swiss Ikut Terseret Perang di Lebanon
Pertemuan di Swiss itu merupakan implementasi awal dari MoU yang disepakati sepekan sebelumnya. Isinya mencakup penghentian konfrontasi bersenjata, pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, dan penghentian invasi militer Israel ke Lebanon yang berlangsung sejak Maret lalu.
Di tengah agenda itu, delegasi AS dan Iran sempat berdiskusi terpisah dengan mediator dari Qatar dan Pakistan. JD Vance juga sempat bertemu singkat dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Iran menilai kegagalan menghentikan konflik di Lebanon membuat pembahasan yang lebih besar sulit bergerak. Sikap tersebut membuat agenda diplomasi yang semestinya membahas masa depan hubungan kedua negara justru kembali tersandera oleh situasi di lapangan.
Israel Disebut Menjadi Penghambat Utama
Dokumen kesepakatan damai yang digagas Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sejak Februari lalu juga memunculkan penolakan di internal Israel. Kabinet Netanyahu memilih absen dari perundingan di Swiss dan menyatakan tidak akan menarik pasukan dari wilayah Lebanon selatan yang diduduki.
Sikap itu memperkuat pandangan Iran bahwa Washington tidak memiliki kendali penuh atas Israel. Dalam konteks ini, Teheran menilai kesepakatan damai sulit maju jika agresi militer Israel masih berlangsung dan tuntutan penarikan pasukan tidak dipenuhi.
Pada awal perang, Trump dan Netanyahu menyebut target operasi militer mereka adalah menghancurkan fasilitas nuklir Iran, melumpuhkan pasokan rudal kelompok proksi, dan memicu penggulingan pemerintahan di Teheran. Namun hingga pertengahan tahun 2026, belum ada satu pun target strategis itu yang tercapai.
Pengumuman penutupan Selat Hormuz datang saat bursa komoditas global sedang libur, sehingga dampak langsungnya ke pasar belum terlihat sepenuhnya. Tetapi dengan ketegangan yang belum mereda, jalur diplomasi antara Iran dan AS kembali berada di bawah bayang-bayang konflik Israel di Lebanon dan tarik-menarik kepentingan di kawasan.
