Kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat konsumen mulai lebih serius menghitung biaya harian kendaraan. Di tengah situasi itu, motor listrik Alva disebut ikut terdorong karena pertanyaan soal efisiensi kini jauh lebih sering muncul.
Fokus calon pembeli tidak lagi berhenti pada teknologi atau keamanan semata. Banyak konsumen kini ingin tahu apakah motor listrik benar-benar lebih hemat untuk dipakai setiap hari saat ongkos bahan bakar terus naik.
Efisiensi jadi alasan baru yang dicari konsumen
Chief Marketing Officer Alva, Putu Swaditya Yudha, mengatakan peningkatan pertanyaan terhadap motor listrik sudah terasa pada kuartal pertama. Lonjakan harga BBM memicu rasa penasaran baru dari calon pembeli yang mulai mempertimbangkan alternatif dengan biaya operasional lebih efisien.
Meski begitu, pertanyaan dasar dari calon konsumen belum banyak berubah. Mereka masih menyoroti lokasi pengisian daya, keamanan saat hujan, garansi baterai, jarak tempuh, kemampuan menanjak, dan performa saat dipakai berboncengan.
Penjualan naik meski tanpa subsidi
Alva mencatat pertumbuhan penjualan 52,9% pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan disebut naik dari sekitar 3.000 unit menjadi 4.500 unit.
Kinerja itu dinilai menarik karena terjadi saat motor listrik tidak mendapatkan subsidi pada 2025. Menurut Putu, kondisi tersebut menunjukkan permintaan tetap bisa terbentuk selama edukasi konsisten, produk sesuai kebutuhan, dan jaringan purnajual tersedia.
Alva juga memproyeksikan tren permintaan pada 2026 akan lebih tinggi dibanding pencapaian tahun sebelumnya. Perusahaan melihat perubahan perilaku calon konsumen yang semakin sensitif terhadap pengeluaran rutin sebagai pendorong utama.
Tantangan adopsi belum hilang
Di lapangan, kekhawatiran soal pengisian daya dan daya tahan pemakaian masih menjadi hambatan yang sering ditemui. Pertanyaan “ngecas di mana” masih menjadi salah satu yang paling umum diajukan calon pembeli.
Konsumen juga tetap ingin memastikan motor aman saat terkena hujan dan tidak menimbulkan risiko kelistrikan. Di sisi fungsional, jarak tempuh, kemampuan membawa dua penumpang, serta performa saat menanjak masih masuk daftar pertimbangan utama.
Jaringan pengisian diperluas
Untuk menjawab kekhawatiran itu, Alva memperluas infrastruktur pengisian daya sepanjang 2026. Pada akhir 2025, perusahaan memiliki 180 konektor di 150 lokasi, lalu dalam enam bulan jumlahnya naik menjadi 355 konektor di 170 lokasi.
Alva menyebut rata-rata pemasangan mencapai satu konektor baru setiap hari selama 2026. Jaringan pengisian dayanya juga diklaim menjadi yang terbesar untuk roda dua di Indonesia, dengan koridor utama Jawa-Bali yang sudah terhubung penuh.
Beberapa rute yang telah terlayani antara lain Jakarta-Bandung via Puncak, jalur lingkar Jawa Tengah dari Semarang, Salatiga, Solo, hingga Yogyakarta, serta kawasan Surabaya, Gresik, dan Malang. Ekspansi juga sudah menjangkau Medan, Palembang, dan Kalimantan Timur, sementara Makassar disebut sebagai wilayah berikutnya yang akan disasar.
Efek rekomendasi dari pengguna lama
Alva juga melihat adanya efek promosi organik dari pengguna yang sudah lebih dulu membeli. Mereka disebut mulai merekomendasikan motor listrik itu kepada orang-orang di sekitarnya.
Pola ini menunjukkan keputusan beralih ke motor listrik tidak hanya dipengaruhi iklan atau insentif. Pengalaman penggunaan sehari-hari dan rasa hemat yang dirasakan langsung ikut membentuk permintaan baru di pasar.
Di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi, perubahan perilaku itu memberi ruang lebih besar bagi Alva untuk dipertimbangkan sebagai kendaraan utama mobilitas harian.
