NASA Mengungkap Dua Wajah Laut yang Kontras, Pirus di Siang dan Putih pada Malam

Author: Cung Media

Laut dapat menampilkan dua wajah yang sama-sama mengejutkan dari pengamatan antariksa, tetapi penyebabnya sangat berbeda. Satu fenomena membuat permukaan air tampak putih kebiruan pada malam hari, sedangkan yang lain mengubah laut menjadi pirus terang saat terkena Matahari.

Perbedaan ini penting karena warna yang terlihat serupa dari kejauhan tidak selalu menandakan proses yang sama di dalam laut. Pada satu kasus, cahaya berasal dari bakteri, sementara pada kasus lain warna terang muncul dari pantulan cahaya oleh fitoplankton mikroskopis.

Dua Fenomena dengan Mekanisme Berbeda

Fenomena Penyebab Tampilan Waktu Terlihat
Milky seas Bakteri bioluminesensi, termasuk Vibrio harveyi Putih kebiruan seperti susu bercahaya Malam hari
Warna pirus Laut Hitam Mekarnya fitoplankton coccolithophores Biru kehijauan hingga putih susu Akhir musim semi hingga awal musim panas

Milky seas merupakan peristiwa langka ketika wilayah laut yang luas tampak menyala dalam gelap. Para pelaut telah mencatat sekitar 400 penampakan selama lebih dari 400 tahun, dengan gambaran permukaan laut seperti salju atau air raksa yang memantulkan cahaya.

Fenomena itu pernah digambarkan Angkatan Laut pada 1980 menyerupai langit-langit kamar anak yang dipenuhi bintang fosfor. Kapten kapal Moozuffer juga melaporkan pemandangan serupa ketika berlayar di Laut Arab pada musim dingin 1849.

Misteri laut bercahaya ini bahkan masuk ke novel 20.000 Leagues Under the Sea karya Jules Verne pada 1870. Dugaan Verne bahwa cahaya berasal dari organisme kecil kemudian mendapat dasar dari penelitian modern mengenai bakteri laut.

Bakteri di Balik Laut Putih Bercahaya

Penjelasan penting muncul pada 1985 ketika sebuah kapal penelitian menemukan milky seas dan berhasil mengambil sampel air secara langsung. Sampel tersebut dipenuhi Vibrio harveyi, bakteri bercahaya yang diyakini menjadi sumber sinar pada hamparan laut itu.

Meski demikian, ilmuwan belum sepenuhnya memahami alasan bakteri tersebut dapat berkumpul dalam jumlah sangat besar. Konsentrasi mikroorganisme itu harus cukup luas dan padat agar cahaya putih kebiruan dapat terlihat dari permukaan laut maupun instrumen satelit.

Studi di jurnal Earth and Space Science pada April 2025 yang dilakukan Justin Hudson dari Colorado State University dan profesor Steven Miller menganalisis laporan kemunculan fenomena ini. Laut Arab serta Asia Tenggara menjadi kawasan yang paling sering dilaporkan mengalami milky seas.

Tim itu menduga kemunculannya berkaitan dengan Indian Ocean Dipole dan El Niño Southern Oscillation atau ENSO. Jika hubungan tersebut dapat dipastikan, ilmuwan berpeluang memprediksi lokasi serta waktu kemunculan laut bercahaya dengan lebih baik.

Instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS pada satelit NOAA dan NASA telah memperluas pemantauan fenomena ini dari antariksa. Dalam penelitian di Scientific Reports pada 2021, Miller dan tim mengidentifikasi 12 kejadian milky seas sepanjang 2012 hingga 2021.

Salah satu kejadian terbesar tercatat pada 2019 dengan area yang diperkirakan hampir seluas Islandia. Pengamatan semacam ini membantu ilmuwan meneliti organisme bercahaya dan perannya dalam sistem Bumi.

Laut Hitam Berubah Pirus karena Fitoplankton

Fenomena berbeda terlihat di Laut Hitam, yang direkam satelit PACE pada 22 Juni 2026. Instrumen Ocean Color Instrument atau OCI mendeteksi perubahan perairan dari warna gelap menjadi pirus terang akibat ledakan populasi coccolithophores.

Fitoplankton ini memiliki lapisan kalsium karbonat yang mampu memantulkan sinar Matahari. Pantulan itu membuat air tampak biru muda, pirus, atau putih susu dari orbit, tanpa melibatkan cahaya biologis yang muncul dalam kegelapan.

Pada musim lain, Laut Hitam cenderung terlihat lebih gelap karena didominasi diatom dengan cangkang silika. Diatom tidak memantulkan cahaya dengan cara yang sama, sehingga kontras warna air dapat berubah mengikuti organisme mikroskopis yang mendominasi perairan.

Warna pirus juga tampak meluas ke arah Selat Bosphorus yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Marmara. Pada 27 Mei 2026, astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional memotret pola arus pirus yang mengikuti pusaran air di kedua sisi selat.

Mekarnya coccolithophores turut menjadi perhatian karena fitoplankton berperan dalam siklus karbon Bumi. Saat tumbuh, organisme ini menyerap karbon dari atmosfer dan air laut, sementara sebagian karbon dapat tenggelam ke dasar laut setelah organisme tersebut mati.

Terbaru