Hamparan laut yang memancarkan cahaya rata di tengah malam pernah terlihat begitu luas hingga dapat ditangkap sensor satelit. Fenomena langka ini disebut milky seas atau laut susu, dan hingga kini masih menyisakan pertanyaan besar bagi ilmuwan.
Cahayanya tidak hanya muncul sebentar di sekitar ombak, melainkan dapat menutupi wilayah laut lepas selama berhari-hari. Dalam salah satu kejadian, area bercahaya yang terpantau hampir seluas Islandia dan bertahan lebih dari 40 malam berturut-turut.
Bukan Kilau Ombak di Dekat Pantai
Laut susu berbeda dari bioluminesensi biru yang umum terlihat ketika ombak pecah di pesisir. Fenomena ini menghasilkan cahaya yang menyelimuti permukaan air secara merata, sehingga pelaut menggambarkannya seperti salju tanpa batas atau air raksa yang berpendar.
Laporan mengenai laut susu sudah muncul dari para pelaut selama lebih dari 400 tahun. Namun, kemunculannya yang sangat jarang membuat banyak kesaksian tersebut sulit diverifikasi secara ilmiah selama berabad-abad.
Pemantauan dari orbit kini membuka cara baru untuk membuktikan kejadian itu. Sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS pada satelit NOAA dan NASA mampu mendeteksi cahaya redup di permukaan laut pada malam hari.
| Catatan Pengamatan | Periode atau Tahun | Temuan |
|---|---|---|
| Analisis data satelit | 2012-2021 | Teridentifikasi 12 kejadian laut susu |
| Kejadian berskala besar | 2019 | Hampir seluas Islandia, berlangsung lebih dari 40 malam |
12 Kejadian Terekam dari Data Satelit
Tim yang dipimpin profesor atmosfer Colorado State University, Steven Miller, mengidentifikasi 12 kejadian laut susu lewat data satelit sepanjang 2012 hingga 2021. Temuan itu menunjukkan bahwa cahaya laut yang sebelumnya banyak hidup dalam cerita pelaut ternyata dapat dilacak dengan pengamatan modern.
Data tersebut juga membantu peneliti melihat pola kemunculan fenomena dalam skala yang tidak mungkin diamati dari kapal saja. Sebagian besar laporan historis laut susu berasal dari kawasan Laut Arab dan Asia Tenggara.
Kemampuan untuk memperkirakan lokasi serta waktu kemunculannya dinilai penting bagi riset berikutnya. Peneliti dapat membandingkan peristiwa bercahaya itu dengan kondisi laut dan atmosfer di sekitarnya untuk memahami perannya dalam sistem Bumi.
Bakteri Bercahaya Sudah Ditemukan, Polanya Masih Misterius
Petunjuk terkuat mengenai sumber cahaya datang dari sebuah ekspedisi di Laut Arab pada 1985. Ketika kapal riset memasuki kawasan laut susu, peneliti menemukan populasi besar bakteri bercahaya Vibrio harveyi di dalam air.
Bakteri tersebut memang diketahui mampu menghasilkan cahaya. Akan tetapi, ilmuwan belum memahami mekanisme yang membuat mikroorganisme itu dapat berkumpul dalam jumlah sangat besar dan menyebarkan pendaran secara rata di wilayah yang amat luas.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya alasan air laut dapat menyala, tetapi juga proses yang memungkinkan cahaya bertahan dalam cakupan puluhan ribu kilometer persegi. Skala inilah yang membedakan laut susu dari bentuk bioluminesensi laut lain yang lebih lokal.
Justin Hudson, mahasiswa doktoral Colorado State University dan salah satu penulis studi terbaru, mengatakan fenomena itu mungkin menyimpan informasi tentang keadaan ekosistem laut. “Milky seas bisa menjadi tanda ekosistem yang sangat sehat. Bisa juga justru menunjukkan ekosistem yang tidak sehat. Sampai sekarang kami belum mengetahuinya,” ujarnya.
Diduga Terhubung dengan Pola Iklim Laut
Para peneliti menduga laut susu dapat berkaitan dengan sistem iklim besar, termasuk Indian Ocean Dipole dan El Niño Southern Oscillation atau ENSO. Namun, hubungan tersebut masih berupa dugaan yang memerlukan lebih banyak pengamatan untuk diuji.
Kondisi laut dan atmosfer dapat memengaruhi pertumbuhan organisme mikroskopis serta perubahan lingkungan di permukaan air. Data yang tersedia belum cukup untuk memastikan apakah perubahan iklim regional benar-benar menjadi pemicu langsung kemunculan laut susu.
Dalam pernyataan NASA, Steven Miller menilai studi mengenai bakteri bercahaya juga dapat memberi pelajaran tentang kehidupan sederhana dan peran bioluminesensi pada bentuk kehidupan awal. Pemahaman itu berpotensi berguna dalam pencarian tanda-tanda biologis dari jauh, termasuk ketika ilmuwan menelaah kemungkinan kehidupan di luar Bumi.
Satelit VIIRS telah membuat cahaya misterius ini lebih mudah dipantau dibanding masa ketika laut susu hanya dikenal dari kesaksian pelaut. Meski begitu, asal-usul, fungsi ekologis, dan alasan kemunculannya dalam skala raksasa masih belum terpecahkan.
