Harga Elektronik Tertekan, Polytron dan Sharp Kencangkan Efisiensi demi Cegah PHK

Author: Cung Media

Kenaikan biaya produksi membuat produsen elektronik menghadapi pilihan sulit pada paruh kedua 2026. Polytron dan Sharp Indonesia memilih memperketat efisiensi agar kenaikan harga tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen serta risiko pemutusan hubungan kerja dapat ditekan.

Tekanan ini muncul saat konsumen semakin berhati-hati membeli barang elektronik tahan lama. Pembelian televisi, AC, lemari es, atau mesin cuci cenderung ditunda ketika harga naik dan daya beli melemah.

Harga Komponen dan Rupiah Menjadi Beban

Depresiasi rupiah meningkatkan biaya impor komponen yang masih dibutuhkan industri elektronik nasional. Beban itu bertambah karena harga bahan baku plastik dan logam ikut naik, sementara harga jual tidak selalu dapat langsung disesuaikan.

Commercial Director Polytron Tekno Wibowo menyebut kombinasi nilai tukar, kelangkaan cip semikonduktor, dan kenaikan bahan baku akan melemahkan prospek industri pada semester II/2026. Produsen menghadapi risiko permintaan makin tertunda jika seluruh lonjakan biaya diteruskan ke harga produk.

Tekno mengatakan harga cip untuk smart TV telah melonjak hingga tiga kali lipat sejak awal tahun. Ketergantungan pada pemasok luar negeri masih tinggi karena Indonesia belum memiliki industri cip domestik.

Menurut Tekno, margin perusahaan tertekan karena kenaikan biaya belum dapat dibebankan penuh kepada konsumen. “Menekan margin sudah pasti karena belum semua kenaikan bisa dibebankan secara penuh ke konsumen,” ujarnya.

Perusahaan Tekanan Utama Respons
Polytron Harga cip smart TV naik hingga tiga kali lipat, rupiah melemah, bahan baku meningkat Efisiensi proses produksi dan penataan ulang rantai pasok
Sharp Indonesia Biaya bahan baku serta impor komponen meningkat Penyesuaian harga bertahap, efisiensi logistik, dan diversifikasi pemasok

Efisiensi Didorong untuk Menahan Risiko PHK

Polytron menempatkan efisiensi proses dan penataan ulang rantai pasok sebagai langkah utama untuk mengendalikan biaya. Strategi tersebut ditujukan menjaga ketersediaan komponen tanpa memperbesar tekanan terhadap tenaga kerja.

Stabilitas nilai tukar dan konsistensi kebijakan pemerintah juga dinilai penting bagi industri. Kondisi itu dapat mendukung masuknya investasi di sektor hulu, termasuk pengembangan industri cip di dalam negeri.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik, Deny Irawan, menyatakan permintaan domestik belum turun drastis. Namun, pola belanja masyarakat yang berubah telah membatasi ruang pertumbuhan produsen elektronik.

Utilisasi pabrik anggota asosiasi rata-rata masih berada di kisaran 65% hingga 70%. Angka tersebut belum kembali ke tingkat optimal dan membuat sejumlah perusahaan menyesuaikan aktivitas produksinya.

Penyesuaian yang dilakukan mencakup pengurangan jam lembur, perubahan jadwal produksi, penundaan ekspansi, serta penahanan perekrutan pekerja baru. Pada sebagian perusahaan, tekanan juga terlihat melalui pengurangan jam kerja, tidak memperpanjang kontrak, hingga PHK.

Konsumen Makin Memburu Produk Hemat Energi

Di tengah kenaikan harga elektronik, konsumen disebut semakin mempertimbangkan biaya penggunaan jangka panjang. Perangkat dengan teknologi inverter dan fitur hemat listrik menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum membeli.

National Sales Senior General Manager Sharp Indonesia Andry Adi Utomo menilai kebutuhan elektronik rumah tangga lebih banyak tertunda daripada hilang. Konsumen tetap membutuhkan perangkat tersebut, tetapi kini lebih selektif dalam menentukan waktu dan jenis pembelian.

“Saya lihat konsumen saat membeli produk elektronik mereka akan mencari produk elektronik yang hemat energi,” kata Andry. Preferensi itu membuat produsen perlu menyeimbangkan harga jual, fitur produk, dan efisiensi operasional bagi pengguna.

Sharp Indonesia telah menyesuaikan harga jual secara bertahap sekitar 10% untuk merespons kenaikan biaya. Perusahaan juga mengoptimalkan sumber daya dalam logistik dan memperluas pilihan pemasok di tengah ketidakpastian global.

Selain mengendalikan biaya, Sharp memperluas jaringan penjualan hingga kota-kota kecil untuk menjaga pangsa pasar. Pasar elektronik Indonesia pada semester II/2026 hingga 2027 masih diproyeksikan tumbuh lebih baik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, dengan permintaan ditopang LED TV, AC, lemari es, mesin cuci, dan peralatan rumah tangga kecil.

Terbaru