Limbah Jadi Produk Bernilai, Dari Dapur Rumah Tangga Lilis Tembus Omzet Rp1 Miliar

Di tengah pameran UMKM yang ramai di Jakarta, sebuah booth sederhana justru mencuri perhatian karena membawa cerita yang lebih besar dari sekadar kerajinan tangan. Lilis Suryani menunjukkan bahwa limbah kain, botol plastik bekas, dan kaleng minuman bisa naik kelas menjadi produk bernilai jual tinggi.

Perempuan yang dikenal lewat merek Mutiara Craft itu tidak hanya memamerkan tas, tote bag, kain batik, dan aksesori daur ulang. Ia juga membawa model usaha yang memberi penghasilan bagi ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah.

Dari produk rumah tangga ke kerajinan daur ulang

Sebelum fokus pada kerajinan daur ulang, Lilis menjalankan usaha bantalan kursi untuk rotan dan kayu. Perubahan arah itu terjadi ketika ia aktif di organisasi dan dipercaya menjadi ketua UKM, sehingga ia terdorong memiliki produk usaha kecil sendiri.

Dari situ, ia mulai membuat tas, ecoprint, dan souvenir di bawah merek Mutiara Craft. Lilis mengatakan usahanya memadukan produk ecoprint dan souvenir, termasuk tas-tas untuk suvenir.

Di booth-nya, bahan yang sering dianggap tidak bernilai justru tampil sebagai produk jadi. Limbah cushion ia ubah menjadi tas, botol plastik bekas dihancurkan lalu dipintal menjadi benang, sementara kaleng minuman bekas disulap menjadi aksesori dan bingkai cermin.

Modal minim, nilai jual maksimal

Bagi Lilis, daur ulang bukan hanya soal kepedulian lingkungan. Ia melihatnya sebagai cara usaha yang efisien karena modal bisa ditekan, tetapi nilai jual tetap tinggi.

Ia menilai produk recycle punya keunggulan ganda karena membantu mengurangi limbah sekaligus mendukung semangat go green. Dalam pandangannya, barang bekas bisa punya harga lebih baik jika diolah dengan ide yang tepat.

Produk yang ia bawa menunjukkan cara pikir itu dengan jelas. Botol plastik bekas bisa berubah menjadi bros dan kalung, sedangkan kaleng minuman bekas menjadi bingkai cermin berbentuk daun.

Lilis juga melihat kerajinan tangan memiliki karakter harga yang tidak selalu baku. Karena itu, ruang kreativitas menjadi pembeda penting dalam pemasaran produk handmade.

Pemberdayaan ibu rumah tangga dari rumah

Di balik produk yang rapi, ada pola kerja yang dirancang agar ibu rumah tangga tetap bisa mengurus keluarga sambil bekerja. Lilis memilih melibatkan perempuan di sekitar tempat tinggalnya supaya mereka mendapat penghasilan tanpa harus keluar rumah.

Ia menempatkan mesin jahit di rumah para pekerja, menaikkan daya listrik, lalu mengajari mereka menjahit dengan standar yang lebih rapi. Setelah itu, mereka mengerjakan pesanan dari rumah dan mengantar hasil jahitan pada sore hari.

Saat ini, sedikitnya 15 ibu rumah tangga terlibat dalam produksi tas dan kerajinan Mutiara Craft. Sistem itu memberi fleksibilitas kerja, sekaligus membuka tambahan pemasukan bagi keluarga.

Lilis menyebut para pekerjanya menerima gaji setiap Sabtu. Dari pola ini, ia melihat dampak langsung seperti kemampuan mencicil motor hingga membayar daftar ulang sekolah anak.

Ecoprint jadi pembeda di pasar

Selain kerajinan daur ulang, ecoprint juga menjadi daya tarik utama di pameran. Motif daun asli yang tercetak di kain maupun kulit membuat setiap produk terlihat unik.

Lilis menjelaskan bahwa prosesnya bergantung pada alam, sehingga susunan daun yang sama pun bisa menghasilkan corak berbeda. Keunikan itu membuat ecoprint memiliki nilai jual tersendiri di mata pembeli.

Dalam pasar yang semakin kompetitif, karakter visual dan cerita di balik proses pembuatan menjadi kekuatan tambahan. Bagi Lilis, dua hal itu membantu produk Mutiara Craft menonjol di tengah banyak pilihan serupa.

Didorong pembinaan dan jaringan pasar

Perjalanan usaha ini juga diperkuat oleh pembinaan BRI. Lilis aktif mengikuti kurasi, pelatihan, dan pameran UMKM, bahkan pernah masuk 15 besar program Brilianpreneur.

Dari pameran-pameran itu, ia mendapatkan pelanggan baru yang tidak berhenti setelah acara selesai. Menurut Lilis, pembinaan seperti ini penting karena membantu pelaku usaha naik kelas dan memperluas jaringan pasar.

Berkat perjalanan tersebut, omzet Mutiara Craft kini disebut sudah menembus lebih dari Rp 1 miliar per tahun. Capaian itu menunjukkan bahwa produk berbasis daur ulang dan kerajinan tangan masih punya ruang besar bila dikelola secara konsisten.

Di tingkat yang lebih luas, LKPP mencatat kontribusi UMKM dalam belanja negara melalui pengadaan telah mencapai sekitar 44%. Sekretaris Utama LKPP Iwan Herniwan menyebut peningkatan itu didukung penguatan mekanisme pasar, termasuk lewat katalog elektronik atau e-katalog.

Wakil Menteri UMKM Helvi Moraza juga menegaskan pemerintah terus membuka akses pembiayaan dan pasar seluas-luasnya bagi pelaku usaha. Namun, ia menilai tantangan terbesar tetap ada pada kesiapan internal UMKM, terutama legalitas, manajemen usaha, dan literasi keuangan.

Bagi Lilis, semua itu kembali pada satu hal sederhana: limbah bisa berubah menjadi peluang ekonomi jika dikelola dengan ide, keterampilan, dan jaringan yang tepat. Dari sebuah booth kecil di pameran, pesan itu terlihat lewat tas, ecoprint, dan kerajinan yang lahir dari kerja banyak tangan, termasuk tangan para ibu rumah tangga yang kini ikut berdaya.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button