Lestari Moerdijat Ingatkan, AI Tanpa Inklusi Bisa Menggerus Hak Disabilitas

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa literasi digital dan literasi artificial intelligence bagi penyandang disabilitas bukan sekadar program tambahan. Ia memandangnya sebagai bagian dari amanat konstitusi karena seluruh warga negara berhak ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pernyataan itu menguatkan satu pesan utama: akses ke teknologi harus diperlakukan sebagai hak, bukan fasilitas yang hanya dinikmati kelompok tertentu. Pesan tersebut disampaikan dalam pelatihan AI program EQUAL yang digelar Alunjiva Indonesia bersama Microsoft di kantor Komite Nasional Disabilitas, Cawang Kencana, Jakarta Timur.

Akses teknologi harus setara

Lestari, yang akrab disapa Rerie, menilai hambatan bagi penyandang disabilitas kini tidak hanya muncul di ruang fisik. Jika dulu diskriminasi terlihat dari bangunan tanpa ramp, kini hambatan juga bisa hadir lewat aplikasi yang tidak ramah bagi semua pengguna.

Ia menyebut AI yang tidak inklusif bukan hanya belum sempurna, tetapi juga berpotensi mengancam hak dasar warga negara. Karena itu, transformasi digital menurutnya harus berjalan seiring dengan transformasi sosial agar tidak melahirkan ketimpangan baru.

Pancasila dan martabat manusia

Dalam pandangan Lestari, nilai-nilai Pancasila penting untuk memastikan teknologi tetap menghormati martabat manusia. Ia menilai kemajuan digital tidak boleh berjalan terpisah dari prinsip keadilan sosial yang menjadi dasar kehidupan berbangsa.

Anggota Komisi X DPR RI itu juga mengingatkan bahwa isu disabilitas terlalu lama ditempatkan dalam bingkai belas kasihan. Ia menegaskan paradigma itu harus ditinggalkan karena penyandang disabilitas adalah subjek hak, bukan objek kebaikan.

Bukan hanya peserta, tetapi juga perancang

Lestari menilai penyandang disabilitas tidak cukup hanya dilibatkan sebagai peserta pelatihan. Mereka juga perlu diberi ruang untuk menjadi perancang teknologi dan penguji aksesibilitas agar produk digital benar-benar bisa digunakan semua orang.

Menurut dia, aksesibilitas harus menjadi prinsip dasar sejak tahap awal desain teknologi. Dengan cara itu, AI tidak hadir sebagai sistem yang meminggirkan kelompok tertentu, melainkan sebagai alat yang membuka peluang setara.

Dorongan agar disabilitas ikut menentukan masa depan

Di hadapan peserta pelatihan AI program EQUAL, Lestari menekankan pentingnya keberadaan penyandang disabilitas dalam proses pembangunan teknologi. Ia menyampaikan bahwa masa depan tidak boleh dibentuk tanpa kehadiran mereka.

Pesan itu menegaskan bahwa literasi AI bagi penyandang disabilitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memakai teknologi. Lebih dari itu, literasi tersebut menjadi jalan agar mereka ikut menentukan arah pengembangan teknologi dan memastikan Indonesia membangun masa depan bersama seluruh warga bangsa.

Source: www.medcom.id
Terkait