Harga emas batangan Antam berpeluang bergerak menuju Rp2.720.000 per gram pada pekan depan, setelah ditutup di Rp2.614.000 per gram. Peluang tersebut muncul di tengah minat beli yang kembali terlihat ketika harga emas global sempat turun di bawah US$4.000 per ons.
Meski target kenaikan itu menarik, ruang pergerakannya diperkirakan tetap lebar dan tidak lepas dari risiko koreksi. Lonjakan harga minyak, kekhawatiran inflasi, serta peluang kenaikan suku bunga AS menjadi faktor yang masih menekan pasar emas.
Emas Global Baru Mencatat Koreksi Tajam
Menurut Liputan6 yang mengutip CNBC, harga emas mengalami koreksi mingguan terbesar dalam enam minggu pada Jumat, 17 Juli 2026 waktu setempat. Dalam sepekan, harga logam mulia tersebut tercatat turun sekitar 3%.
Harga emas spot kemudian menguat 1,1% menjadi US$4.015,09 per ons setelah sempat mencapai level terendah sejak 1 Juli. Kontrak berjangka emas AS pengiriman Agustus juga naik 0,7% menjadi US$4.018,80.
Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer menilai pembeli kembali masuk saat harga berada di bawah US$4.000. “Emas mulai bergerak naik hari ini setelah harga logam tersebut turun di bawah US$4.000 menarik minat pembeli,” katanya.
Penguatan harian tersebut belum sepenuhnya menghilangkan tekanan yang terbentuk selama sepekan. Arah harga emas dunia masih sensitif terhadap perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran yang turut mendorong harga minyak.
Minyak, Inflasi, dan Imbal Hasil Jadi Penahan
Harga minyak naik sekitar 12% sepanjang pekan ketika konflik AS-Iran meningkat dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan. Kenaikan minyak ini berisiko menghidupkan kembali tekanan inflasi di pasar global.
Inflasi yang lebih tinggi dapat memperbesar kemungkinan kenaikan suku bunga AS. Kondisi tersebut biasanya menjadi tantangan bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.
Dalam situasi suku bunga tinggi, investor cenderung mempertimbangkan aset yang menawarkan imbal hasil lebih besar. Waterer menyebut kekhawatiran inflasi dan pergerakan imbal hasil masih menjadi faktor dominan yang menahan harga emas.
Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan disebut menjadi kolega baru Ketua Fed Kevin Warsh pertama yang terbuka menyerukan kenaikan suku bunga. Wakil Ketua Fed Philip Jefferson juga mengisyaratkan keterbukaan untuk menaikkan suku bunga apabila inflasi belum membaik.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pedagang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 73% pada Desember. Ekspektasi itu membuat arah harga emas dunia menjadi penentu penting bagi pergerakan harga emas domestik.
Rentang Harga Antam Pekan Depan
Pengamat komoditas dan emas Ibrahim Asyuaibi memproyeksikan emas Antam bergerak dalam rentang Rp2.430.000 hingga Rp2.720.000 per gram. Ia menyampaikan proyeksi tersebut kepada wartawan pada Minggu, 19 Juli 2026.
Ibrahim menempatkan Rp2.590.000 per gram sebagai area support pertama apabila harga melemah dari penutupan terakhir. Jika tekanan berlanjut, level Rp2.430.000 per gram menjadi batas bawah proyeksi pergerakan.
| Pasar | Level Bawah | Level Atas | Catatan |
|---|---|---|---|
| Emas Antam | Rp2.430.000 per gram | Rp2.720.000 per gram | Support pertama Rp2.590.000 per gram |
| Emas dunia | US$3.856 per troy ounce | US$4.149 per troy ounce | Proyeksi pergerakan sepekan |
“Kemarin ditutup di Rp2.614.000. Kalau seandainya turun, support pertama itu di Rp2.590.000,” ujar Ibrahim. Untuk pasar internasional, ia memperkirakan emas dunia akan diperdagangkan pada kisaran US$3.856 hingga US$4.149 per troy ounce.
Di pasar fisik Asia, diskon emas di India melebar ke level tertinggi dalam satu bulan karena pembeli menunggu kemungkinan harga yang lebih rendah. Sementara itu, premi emas di China dilaporkan sebagian besar stabil.
Source: www.liputan6.com






