Kebaya yang semula dipandang Dara sebagai bagian dari pekerjaan justru membawanya pulang pada kenangan keluarga yang lama tersimpan. Perubahan itu menjadi inti film pendek Jalan Pulang, yang mempertemukan Sheila Dara dan Widyawati dalam kisah ibu serta anak perempuan.
Film berdurasi 20 menit ini tidak menempatkan kebaya sekadar sebagai busana tradisional atau pelengkap visual. Kebaya hadir sebagai benda warisan yang menyimpan cerita, momen hangat, dan jarak emosional yang ingin dipulihkan.
Proyek kerja yang berujung pada pencarian identitas
Dara bekerja sebagai creative director di sebuah agensi dan mendapat proyek rebranding untuk desainer kebaya legendaris, Madame Yati. Namun, gagasan modern yang ia ajukan ditolak, sehingga pekerjaannya berkembang menjadi perjalanan personal untuk memahami kebaya dari sudut pandang berbeda.
Penolakan itu membuat Dara kembali ke rumah ibunya dan berhadapan dengan tumpukan kebaya peninggalan keluarga. Di antara koleksi milik ibu dan neneknya, ia menemukan sumber inspirasi yang tidak ia dapatkan dari pendekatan profesional semata.
Perjalanan Dara kemudian memperlihatkan bahwa nilai kebaya tidak berhenti pada bentuk, bahan, atau cara memakainya. Ada riwayat keluarga yang melekat pada setiap helai, sekaligus kesempatan untuk membuka kembali percakapan antara dua generasi perempuan.
| Pemeran | Karakter | Peran dalam cerita |
|---|---|---|
| Sheila Dara | Dara | Creative director yang mencari makna baru tentang kebaya |
| Widyawati | Ibu Dara | Penghubung Dara dengan kebaya dan kisah keluarga |
| Asri Welas | Madame Yati | Desainer kebaya legendaris yang menjadi klien Dara |
| Sharon Sitania | – | Turut membintangi film pendek ini |
Relasi ibu dan anak menjadi pusat cerita
Tim Bakti Budaya Djarum Foundation menemukan lewat riset bahwa kebaya kerap memiliki cerita personal di tengah masyarakat. Ada kebaya yang diwariskan dari ibu kepada anak perempuan, serta kebaya yang berpindah kisah di antara saudara dalam satu keluarga.
Temuan tersebut diterjemahkan oleh Widya Arifianti dan Ayesha Alma Almera dalam naskah yang berfokus pada relasi ibu dan anak perempuan. Bramsky menggarap film ini, sementara penataan kostumnya ditangani Hagai Pakan.
Sheila Dara menerima tawaran bermain dalam film ini setelah tersentuh oleh naskahnya dan kesempatan beradu akting dengan Widyawati. Perjalanan tokoh Dara terasa dekat baginya karena karakter tersebut bermula dari pandangan yang pragmatis terhadap kebaya.
“Rasanya diingatkan lagi kalau kebaya itu yang diwariskan itu bukan cuma fisiknya saja, cuma pakaiannya saja, tetapi ada cerita-ceritanya, momen-momen hangatnya, kenangan-kenangannya,” kata Sheila Dara. Pengalaman berbagi kebaya di keluarganya juga membuat ia melihat busana tersebut sebagai sesuatu yang melampaui pakaian dan identitas perempuan Nusantara.
Pendekatan lebih tenang menjelang Hari Kebaya Nasional
Jalan Pulang menjadi rilisan terbaru kampanye tahunan berkebaya dari Bakti Budaya Djarum Foundation menjelang Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli 2026. Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, mengatakan proyek tahun ini sengaja mengambil pendekatan yang lebih tenang dan mendalam.
Kampanye Kebaya Kala Kini pada 2024 sebelumnya mengusung pendekatan yang lebih artistik, sedangkan Kita Berkebaya pada 2025 dibuat dalam skala lebih kolosal. Berbeda dari keduanya, Jalan Pulang diarahkan pada kisah yang lebih personal melalui dinamika keluarga.
Dalam jumpa media setelah gala premier pada Rabu (22/7), Renitasari mengatakan, “Kami ingin membuat yang lebih deep, lebih kalem, lebih memaknai arti dari kebaya itu.” Ia menilai kebaya sebagai warisan budaya yang tetap dapat dipertahankan karena masih bisa dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.
Film ini akan tayang di kanal YouTube Indonesia Kaya mulai 24 Juli 2026. Melalui kisah Dara yang kembali memahami asal-usulnya, kebaya dibawa lebih dekat ke ruang keseharian dan hubungan keluarga.
