5 Kebiasaan Scrolling saat Stres yang Diam-Diam Membuat Mood Makin Terpuruk

Author: Cung Media

Membuka ponsel saat lelah, cemas, atau tertekan memang terasa seperti cara cepat untuk mengalihkan pikiran. Namun, scrolling tanpa tujuan justru dapat membuat kepala lebih penuh dan suasana hati semakin berat setelah aplikasi ditutup.

Masalahnya tidak selalu terletak pada platformnya, melainkan pada pola penggunaan ketika emosi sedang rentan. Paparan konten yang terus berganti dapat memicu perbandingan sosial, kecemasan, hingga kebiasaan menunda menghadapi sumber stres.

Rangkuman yang dimuat Beautynesia menyoroti lima pola scrolling yang dapat menghambat pemulihan mood. Dampaknya berkisar dari kelelahan mental sampai kecenderungan menjadikan ponsel sebagai pelarian sementara.

No. Kebiasaan saat Scrolling Dampak yang Dapat Muncul
1 Menerima informasi tanpa henti Kelelahan mental
2 Membandingkan diri dengan orang lain Mood negatif dan tidak puas pada diri
3 Terus mencari konten negatif Stres dan kecemasan meningkat
4 Menjadikan media sosial sebagai pelarian Masalah hanya tertunda
5 Mengabaikan aktivitas pemulihan Mood lebih sulit pulih

1. Otak Tetap Bekerja saat Tubuh Ingin Berhenti

Scrolling membuat otak memproses video, foto, berita, komentar, dan notifikasi dalam waktu singkat. Ketika informasi datang tanpa jeda, pikiran tidak memperoleh ruang yang cukup untuk benar-benar beristirahat dari tekanan.

Nature Reviews Psychology pada 2023 menyoroti bahwa paparan informasi digital yang berkelanjutan dapat menambah beban kognitif. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa lebih lelah secara mental meski hanya menghabiskan waktu dengan melihat layar.

2. Perbandingan Sosial Bisa Memperburuk Penilaian Diri

Saat sedang stres, unggahan tentang pencapaian, penampilan, atau kehidupan orang lain lebih mudah memancing kebiasaan membandingkan diri. Padahal, apa yang tampil di media sosial sering kali hanya potongan kehidupan yang telah dipilih untuk dibagikan.

Penelitian dalam Computers in Human Behavior pada 2021 mengaitkan perbandingan sosial di media sosial dengan kecemasan, ketidakpuasan terhadap diri, dan mood yang lebih negatif. Efeknya dapat terasa lebih kuat ketika seseorang sudah berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.

3. Scroll Tanpa Tujuan Dapat Berubah Menjadi Doomscrolling

Kebiasaan melihat ponsel untuk mengisi waktu bisa berkembang menjadi pencarian informasi negatif secara berulang. Pola ini dikenal sebagai doomscrolling, terutama ketika seseorang terus mengikuti berita atau konten yang memicu rasa khawatir.

Menurut penelitian dalam Health Communication pada 2022, doomscrolling berkaitan dengan peningkatan stres, kecemasan, dan kelelahan emosional. Semakin lama paparan konten negatif berlangsung, semakin sulit perhatian kembali ke kondisi yang lebih tenang.

4. Rasa Lega yang Muncul Hanya Bersifat Sementara

Ponsel dapat mengalihkan perhatian dari masalah dalam beberapa saat, tetapi penyebab stres biasanya tetap ada. Setelah scrolling berhenti, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama tanpa perubahan pada situasinya.

Studi dalam Journal of Behavioral Addictions pada 2020 menyebut penggunaan media sosial sebagai pelarian emosi atau avoidance coping sering hanya memberi kelegaan sesaat. Waktu yang berlalu juga dapat memunculkan rasa bersalah ketika masalah utama belum ditangani.

5. Aktivitas Pemulihan Justru Tersisih oleh Layar

Saat tekanan meningkat, perhatian yang terserap layar dapat menggantikan aktivitas sederhana yang berpotensi membantu mood pulih. Berjalan kaki, peregangan, berbicara dengan orang terdekat, melakukan self-care, dan mindfulness memberi jeda dari arus informasi digital.

Frontiers in Psychology pada 2021 mencatat aktivitas fisik ringan serta teknik mindfulness dapat membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati. Memberi batas waktu layar saat emosi sedang berat dapat menjadi langkah kecil untuk menjaga kesehatan mental.

Terbaru