Ketika kekuasaan Dinasti Shang memasuki masa akhir, masyarakat di China utara diduga menghadapi ancaman yang datang berulang kali dari langit. Kekeringan panjang, hujan deras, banjir, hingga kekhawatiran gagal panen tercatat dalam prasasti kuno yang dikenal sebagai tulang ramalan.
Catatan tersebut memberi gambaran bahwa tekanan lingkungan bukan terjadi sebagai satu bencana tunggal. Pola cuaca yang berubah tajam berpotensi mengganggu pangan dan memperbesar beban sosial saat kerajaan juga menghadapi persoalan politik, ekonomi, serta peperangan.
Prasasti Kuno yang Merekam Kecemasan Cuaca
Penelitian yang dipublikasikan dalam Nature Communications menganalisis ribuan prasasti pada tulang ramalan dari China kuno. Artefak ini digunakan kalangan kerajaan untuk menanyakan berbagai urusan penting, mulai dari panen dan perang hingga cuaca serta pertanda bencana.
Tulang ramalan umumnya dibuat dari tempurung kura-kura atau tulang belikat sapi. Permukaannya dipanaskan sampai retak, lalu retakan itu ditafsirkan oleh peramal dan pertanyaan maupun hasil ramalannya diukir pada artefak tersebut.
Bagi para peneliti, ukiran itu tidak hanya menunjukkan praktik keagamaan dan pengambilan keputusan di lingkungan istana. Prasasti tersebut juga merekam kecemasan masyarakat terhadap keadaan alam yang dapat menentukan hasil pertanian dan ketersediaan pangan.
Laporan mengenai cuaca buruk disebut meningkat pada penghujung pemerintahan Shang, sekitar abad ke-11 sebelum Masehi. Menurut laporan detik.com, prasasti dari periode ini memuat lebih banyak perhatian terhadap kekeringan, banjir, gangguan panen, dan kondisi cuaca berat lainnya.
| Gangguan Lingkungan | Pola yang Tercatat | Dampak yang Diduga |
|---|---|---|
| Kekeringan | Berlangsung dalam periode panjang di China utara | Menekan produksi pertanian |
| Hujan deras dan banjir | Muncul setelah periode kering | Mengganggu kehidupan masyarakat dan pasokan pangan |
| Gagal panen | Semakin sering disebut dalam prasasti | Menambah tekanan terhadap stabilitas sosial |
Monsun yang Tidak Lagi Stabil
Analisis ilmiah menunjukkan China utara mengalami rangkaian kekeringan berkepanjangan yang kemudian diikuti hujan sangat deras dan banjir. Peralihan kondisi yang ekstrem seperti itu membuat pertanian sulit berjalan dengan pola yang stabil.
Bagi masyarakat yang bergantung pada hasil panen, gangguan cuaca dapat meluas menjadi persoalan sehari-hari. Produksi pangan yang terganggu berpotensi memengaruhi kemampuan masyarakat dan pemerintahan untuk menghadapi tekanan lain pada saat bersamaan.
Temuan dari prasasti kuno itu sejalan dengan bukti paleoklimatologi dari sedimen dan inti gua. Data tersebut menunjukkan adanya perubahan besar dalam sistem monsun Asia Timur pada periode yang sama.
Kesesuaian dua jenis bukti ini memperkuat dugaan bahwa gangguan lingkungan pada masa Shang bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Masyarakat tampaknya menghadapi pola hujan yang berubah dalam rentang waktu yang relatif singkat dan sulit diprediksi.
Iklim Bukan Satu-satunya Faktor
Penelitian ini tidak menyatakan bahwa iklim ekstrem menjadi penyebab tunggal keruntuhan Dinasti Shang. Dinasti tersebut ditaklukkan Dinasti Zhou sekitar 1046 SM, dalam situasi yang juga melibatkan persoalan politik, konflik perang, dan tekanan ekonomi.
Namun, perubahan lingkungan kemungkinan memperburuk kerentanan yang telah ada. Saat pangan tertekan oleh kekeringan atau banjir, kemampuan kerajaan untuk merespons masalah sosial dan politik dapat ikut melemah.
Karena itu, catatan tulang ramalan memberi sudut pandang berbeda tentang masa akhir Dinasti Shang. Artefak tersebut memperlihatkan bahwa kekhawatiran terhadap hujan, kekeringan, bencana, dan panen telah menjadi bagian dari kehidupan politik maupun keseharian ribuan tahun lalu.
Gabungan arkeologi, sejarah, dan data iklim purba membantu menunjukkan bagaimana tekanan alam dapat ikut membentuk perjalanan sebuah peradaban. Dalam kasus Shang, cuaca yang makin tidak menentu tampaknya menjadi salah satu beban tambahan di tengah masa kekuasaan yang sudah rapuh.
