Iran Diduga Raup Rp107 Triliun saat Blokade Laut AS Dicabut di Tengah Jeda Ketegangan

Author: Cung Media

Iran diduga memperoleh pemasukan hingga US$6 miliar, atau sekitar Rp107,7 triliun, dari penjualan minyak dalam periode sekitar satu bulan. Periode itu terjadi ketika blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan dan kawasan pesisir Iran dicabut.

Nilai penjualan tersebut menjadi penting karena memberi Teheran peluang memperkuat cadangan devisa sebelum tekanan Washington kembali meningkat. Di tengah perubahan cepat situasi keamanan, pemasukan minyak ini dinilai dapat menjadi penyangga bagi ekonomi Iran.

Penjualan Diperkirakan Mencapai 70 Juta Barel

The Wall Street Journal, mengutip analis dan data organisasi nirlaba United Against Nuclear Iran atau UANI, melaporkan Iran diduga menjual sekitar 70 juta barel minyak selama masa pelonggaran. Estimasi nilainya berada di kisaran US$5 miliar hingga US$6 miliar, atau sekitar Rp89,7 triliun sampai Rp107,7 triliun.

Angka tersebut bukan data penjualan resmi yang diumumkan pemerintah Iran. Perkiraan itu berasal dari analisis serta data pelacakan yang digunakan untuk memantau pergerakan pengiriman minyak.

Periode/Peristiwa Informasi Utama Pihak Terkait
Sekitar satu bulan Perkiraan penjualan 70 juta barel senilai US$5-6 miliar Iran
Juni Blokade laut terhadap pelabuhan dan pesisir Iran dicabut Komando Pusat AS
9 Juli Gencatan senjata dinyatakan tidak lagi berlaku Donald Trump

Ruang Napas bagi Cadangan Devisa

Ekspor Minyak Iran menjadi salah satu jalur utama bagi Teheran untuk mengumpulkan dana di tengah tekanan geopolitik. Penjualan dalam jumlah besar selama masa singkat itu memberi arti strategis, terutama ketika pembatasan dari AS berpotensi kembali diterapkan.

Cadangan devisa dari hasil minyak dapat membantu Iran menghadapi periode ekonomi yang lebih menekan. Namun, laporan yang ada tidak merinci penggunaan dana hasil penjualan minyak tersebut.

Pada Juni, Komando Pusat Amerika Serikat atau US Central Command menyatakan pasukan AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan serta wilayah pesisir Iran. Langkah itu dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump dan membuka akses pengiriman minyak yang sebelumnya dibatasi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan AS mencabut pembatasan terhadap ekspor minyak Iran. Menurut dia, sejumlah aset Iran yang sebelumnya dibekukan turut dicairkan seiring peluncuran rencana pemulihan ekonomi negara tersebut.

Jeda Singkat yang Berakhir dengan Serangan Balasan

Di tengah perkembangan ekonomi itu, situasi politik dan militer antara Teheran serta Washington tidak bertahan stabil. Pada malam 18 Juni, kedua pihak menandatangani memorandum yang menyerukan penghentian perang.

Konflik tersebut disebut dipicu agresi militer AS bersama Israel pada 28 Februari. Kesepakatan penghentian perang itu kemudian menjadi latar bagi masa pelonggaran pembatasan laut dan perdagangan minyak Iran.

Namun, militer AS dilaporkan kembali melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran sejak 8 Juli. Iran lalu membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di beberapa negara Timur Tengah.

Teheran menuduh Washington melanggar kesepakatan Gencatan Senjata AS-Iran. Pada 9 Juli, Trump menyatakan gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku.

Peralihan dari pencabutan Blokade Laut AS menuju kembali memanasnya konflik memperlihatkan rapuhnya jeda ketegangan itu. Dalam rentang singkat tersebut, dugaan penjualan minyak bernilai miliaran dolar AS menjadi salah satu dampak ekonomi paling menonjol bagi Iran.

Source: www.viva.co.id
Terbaru