Tari Piring hingga Saman Bertemu Hip-Hop, Growth Membawa Tradisi ke Ruang Gen Z

Author: Cung Media

Gerak Tari Piring, Jaipong, Gantar, dan Saman tampil dalam satu panggung bersama dentuman hip-hop, jazz, serta balet kontemporer. Perpaduan itu menjadi kekuatan musikal Growth, yang mengajak penonton melihat tari daerah Indonesia melalui bahasa gerak yang lebih dekat dengan selera visual generasi muda.

Alih-alih menjadikan tradisi sebagai bagian pembuka atau sisipan pertunjukan, Growth menempatkan ragam tari daerah sebagai elemen penting dalam koreografi. Energi tari urban kemudian hadir untuk membangun ritme panggung yang dinamis tanpa menghapus identitas dasar dari tiap tarian.

Tradisi Tidak Lagi Tampil Kaku

Gagasan utama pertunjukan ini berangkat dari upaya mendobrak pandangan bahwa tari tradisional selalu harus disajikan dalam bentuk yang formal dan jauh dari keseharian anak muda. Growth mempertemukan gerak gemulai tari daerah dengan ekspresi street dance dan teknik kontemporer dalam satu format musikal.

Format tersebut membuat unsur budaya lokal tidak hanya hadir sebagai materi edukasi, tetapi juga sebagai pengalaman panggung yang mengandalkan musik, cerita, dan koreografi. Penonton diajak mengikuti pertunjukan sambil menyaksikan tradisi berdialog dengan gaya tari yang berkembang secara global.

Menurut laporan detik.com, pertunjukan ini mengusung tajuk Tarian Raya di Balik Hutan Nusantara. Pohon digunakan sebagai metafora perjalanan manusia dalam cerita tentang pertumbuhan dan pencarian identitas diri.

Pesan itu selaras dengan tantangan yang dihadapi anak muda saat berusaha mengenali akar budaya di tengah derasnya tren global. Melalui panggung tari, tema pertumbuhan pribadi dipadukan dengan pengenalan terhadap kekayaan gerak dari berbagai daerah di Indonesia.

Empat Tarian dalam Satu Panggung

Empat tarian daerah menjadi bagian utama dari bangunan koreografi Growth. Masing-masing datang dari latar budaya berbeda, lalu dipadukan dengan unsur jazz, hip-hop, dan balet kontemporer.

Tarian Asal Daerah Unsur Paduan
Tari Gantar Kalimantan Timur Jazz, hip-hop, balet kontemporer
Tari Jaipong Jawa Barat Jazz, hip-hop, balet kontemporer
Tari Piring Sumatera Barat Jazz, hip-hop, balet kontemporer
Tari Saman Tidak disebutkan Jazz, hip-hop, balet kontemporer

Tari Gantar dari Kalimantan Timur membawa salah satu warna gerak yang diolah dalam produksi ini. Tari Jaipong dari Jawa Barat dan Tari Piring dari Sumatera Barat turut memperluas ragam ekspresi yang muncul di atas panggung.

Tari Saman juga menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan, meski asal daerahnya tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia. Keempat tarian tersebut dirangkai sebagai bagian dari cerita, bukan dipisahkan menjadi segmen-segmen tradisi yang berdiri sendiri.

Hip-hop memberi dorongan energi dan karakter urban pada penampilan para penari. Sementara itu, jazz serta balet kontemporer memperluas pilihan teknik gerak sehingga transisi antarkoreografi terasa lebih berlapis.

Melibatkan Sekitar 250 Siswa

Skala Musikal Growth terlihat dari keterlibatan sekitar 250 siswa aktif RAFA International Dance School. Jumlah penampil yang besar memungkinkan koreografi kelompok dibangun dengan formasi padat dan membutuhkan koordinasi kuat di atas panggung.

Pertunjukan ini digagas oleh Nevine Rafa Kusuma bersama RAFA International Dance School. Produksinya juga melibatkan kolaborasi dengan Teuku Rassya melalui Yayasan Raya Budaya Nusantara.

Keterlibatan anak-anak dan generasi muda menjadi bagian penting dari tujuan pertunjukan tersebut. Seni pertunjukan digunakan sebagai medium untuk memahami budaya Indonesia lewat pengalaman langsung dalam musik, gerak, dan cerita.

Pendekatan seperti ini membuat pesan pelestarian budaya hadir tanpa harus disampaikan dengan cara menggurui. Tradisi tetap menjadi akar pertunjukan, sementara bentuk penyajiannya memberi ruang bagi generasi baru untuk menikmati dan menafsirkannya dengan cara yang lebih akrab.

Source: hot.detik.com
Terbaru