“Permata Biru” kembali ke suara Lilis setelah puluhan tahun dikenal luas lewat versi Nicky Astria. Bersama Erny dan Evie dalam Lee Voice, Lilis membawa lagu ciptaan Ote Abadi itu ke arah rock ballad yang lebih manis dan romantis.
Pembaruan ini tidak mencoba menyalin karakter lady rock yang lekat pada versi Nicky Astria. Lee Voice memilih mengandalkan harmoni tiga vokal untuk menjangkau pendengar lama sekaligus generasi yang lebih muda.
Lagu yang Pernah Direkam Lilis
Riwayat “Permata Biru” memberi makna khusus bagi Lilis dan Ote Abadi. Menurut Suara.com, lagu itu semula sudah direkam oleh Lilis sebelum Nicky Astria memintanya pada era 1990-an.
Ote Abadi menyebut Nicky Astria kala itu meminta dua lagu kepadanya, termasuk “Permata Biru”. Lilis kemudian merelakan lagu tersebut dibawakan Nicky hingga berkembang menjadi hit besar.
“Padahal, saat itu lagu tersebut sudah direkam oleh istri saya sendiri, Lilis. Namun, demi profesionalisme, Lilis mengalah dan merelakan lagu itu dinyanyikan Nicky hingga menjadi hits besar,” kata Ote Abadi saat peluncuran single.
Kini, Lilis menyanyikan kembali “Permata Biru” dalam formasi yang berbeda. Kehadiran dua vokalis lain membuat lagu itu tidak hanya menjadi pengulangan dari rekaman terdahulu.
Harmoni Tiga Vokal Jadi Pembeda
Lee Voice merupakan grup vokal yang beranggotakan Lilis, Erny, dan Evie di bawah naungan Ussy Pieters Management. Mereka resmi memperkenalkan single perdana “Permata Biru” di Toeti Roosseno Plaza, Kemang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (18/7/2026).
Aransemen rock ballad menjadi fondasi utama versi baru ini. Pendekatan tersebut mempertahankan tenaga khas “Permata Biru”, tetapi memberi nuansa yang lebih lembut melalui perpaduan karakter vokal ketiga personelnya.
Lilis mengisi warna alto dalam harmoni Lee Voice, sementara Evie membawa karakter mezzo soprano. Kombinasi ini menjadi identitas baru yang membedakan versi mereka dari interpretasi rock Nicky Astria.
Lilis mengatakan pembaruan aransemen diperlukan agar lagu tersebut tetap dekat dengan pendengar masa kini. Sasaran mereka mencakup generasi milenial dan Gen Z yang mungkin belum mengalami masa kejayaan awal lagu itu.
“Kami ingin ‘Permata Biru’ menjadi kekinian agar bisa related dengan selera musik Gen Z. Kami membawa semangat baru dalam harmoni tiga suara ini,” ujar Lilis.
Menjembatani Nostalgia dan Pendengar Muda
Dalam konferensi pers peluncuran, Lilis turut menghadirkan anak-anaknya yang berasal dari generasi milenial dan Gen Z. Kehadiran mereka menegaskan keinginan Lee Voice untuk membuka dialog antargenerasi lewat lagu yang telah lama dikenal publik.
Ussy Pieters selaku eksekutif produser mengaku tertarik pada perpaduan karakter vokal Lilis, Erny, dan Evie. Ia menilai versi baru “Permata Biru” memiliki peluang untuk kembali diterima masyarakat Indonesia.
Bagi Lee Voice, proyek ini juga membawa pesan bahwa seniman tetap dapat berkarya tanpa batas usia. Evie menyebut perilisan lagu tersebut sebagai upaya menghadirkan warisan bagi industri musik.
“Kami ingin menjadikan lagu ini sebagai warisan bagi industri musik. Kami ingin membuktikan bahwa karya musik tidak mengenal batasan usia,” ucap Evie.
Untuk memperluas jangkauan, Lee Voice menyiapkan showcase di sejumlah kafe dan mengoptimalkan media sosial. Pengamat musik senior Buddy Ace, yang memandu peluncuran, menilai format rock ballad mereka dapat diterima penikmat musik lintas generasi.
