Destroyer AS Paksa Dua Tanker Iran Berbalik, Hormuz Memanas di Hari Pertama Blokade

Blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz langsung memicu ketegangan baru di jalur pelayaran paling strategis di dunia. Pada hari pertama kebijakan itu berjalan, sebuah destroyer AS disebut memaksa dua tanker minyak Iran yang berangkat dari pelabuhan Chabahar di Teluk Oman untuk berbalik arah melalui komunikasi radio.

Langkah tersebut menandai tekanan langsung Washington terhadap Teheran setelah kebijakan Presiden Donald Trump resmi berlaku sehari sebelumnya. Selat Hormuz menjadi titik krusial karena sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur ini, sehingga setiap gangguan di kawasan itu segera memengaruhi pasar energi global.

Blokade yang menekan Iran

Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan dua tanker itu termasuk dalam enam kapal dagang yang diminta Komando Pusat AS untuk kembali ke pelabuhan Iran. Komando Pusat AS juga menyebut tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade sejak kebijakan itu diterapkan pada Senin pukul 10.00 waktu Washington.

Washington menempatkan blokade ini sebagai upaya memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz dan menerima syarat untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026. Dalam versi AS, pembukaan jalur itu juga harus menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang lebih luas.

Kekuatan militer AS di kawasan

AS tidak hanya mengandalkan peringatan diplomatik dalam operasi ini. Untuk menjalankan blokade, Washington mengerahkan lebih dari 10.000 personel militer, belasan kapal perang, dan puluhan pesawat tempur di kawasan Teluk.

Kehadiran unsur laut dan udara dalam jumlah besar menunjukkan bahwa operasi ini dirancang untuk menekan pergerakan kapal Iran secara langsung. Di sisi lain, langkah itu juga meningkatkan risiko salah hitung yang bisa memperlebar konflik.

  1. Dua tanker dipaksa berbalik oleh destroyer AS.
  2. Kapal itu berangkat dari pelabuhan Chabahar di Teluk Oman.
  3. AS menyebut blokade berlaku sejak pukul 10.00 waktu Washington.
  4. Selat Hormuz dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
  5. AS menurunkan lebih dari 10.000 personel, belasan kapal perang, dan puluhan pesawat tempur.

Dampak cepat ke pasar minyak

Pengumuman blokade langsung mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak sempat melonjak di atas 100 dolar AS per barel sebelum terkoreksi, menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap ancaman gangguan di Selat Hormuz.

Riwayat ketegangan di jalur ini juga memperkuat kekhawatiran investor. Ancaman Iran terhadap pelayaran sebelumnya pernah mendorong kenaikan harga minyak global hingga sekitar 50 persen, terutama karena jalur tersebut menjadi nadi utama transportasi energi internasional.

Efektivitas masih diperdebatkan

Sejumlah analis menilai blokade ini belum cukup lama berlangsung untuk diukur hasilnya secara pasti. Peneliti The Washington Institute for Near East Policy, Noam Raydan, mengatakan satu kapal tanker memang telah berbalik arah, tetapi situasi di lapangan masih terlalu dini untuk dinilai.

“Kita belum tahu seberapa efektifnya. Kita masih di hari kedua,” kata Raydan. Pandangan itu mencerminkan keraguan bahwa tekanan militer di laut bisa langsung mengubah posisi Iran, terutama bila Teheran memilih respons yang tidak simetris.

Risiko eskalasi di Teluk

Para analis menilai blokade ini berpotensi memicu bentrokan baru di kawasan Teluk. Jika berlangsung lama, Iran disebut masih memiliki opsi untuk membalas melalui gangguan pelayaran, serangan ke kapal, atau tekanan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi lokasi basis militer AS.

Raydan juga memperingatkan bahwa situasi ini bisa berubah cepat bila kedua pihak tidak menahan diri. Di tengah konflik yang disebut telah menewaskan sekitar 5.000 orang, Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia karena setiap manuver militer di kawasan itu dapat mengguncang perdagangan minyak dan stabilitas regional dalam hitungan jam.

Source: www.beritasatu.com
Terkait