Kerja Keras Tak Cukup, Dosen USU Ungkap Skill untuk Menguatkan Daya Tawar

Bekerja lebih lama tidak otomatis membuat kondisi keuangan terasa lebih lega. Ketika harga kebutuhan tumbuh lebih cepat daripada pendapatan, pekerja bisa merasa gajinya berjalan di tempat meski beban kerja terus bertambah.

Situasi ini dikenal sebagai stagnasi upah, yakni ketika pendapatan tidak meningkat berarti dalam waktu panjang atau kenaikannya kalah cepat dari biaya hidup. Dampaknya terlihat dari daya beli yang menyusut dan semakin sulitnya menyisihkan uang untuk kebutuhan lain.

Masalahnya Bukan Sekadar Nominal Gaji

Dosen Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Dr. Monika Andrasari, S.E., M.Si., menilai kenaikan gaji dan harga barang seperti saling mengejar. Namun, harga di pasar dapat berubah lebih sering, sementara gaji pekerja pada umumnya hanya mengalami penyesuaian sekali dalam setahun.

Monika mencontohkan inflasi yang berada di kisaran 3,34 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia per Juni 2026. Inflasi yang stabil tetap dapat menekan pekerja bila pertumbuhan upah lebih lambat daripada pengeluaran rutin mereka.

Tekanan tersebut bisa dirasakan pada kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang harganya terus bergerak. Karena itu, kenaikan gaji secara nominal belum tentu berarti peningkatan kesejahteraan jika nilai belanjanya justru berkurang.

Persaingan Kerja Menentukan Ruang Negosiasi

Persoalan gaji yang terasa stagnan juga berkaitan erat dengan kondisi pasar tenaga kerja. Saat jumlah lulusan atau pencari kerja melampaui lowongan yang tersedia, posisi tawar pekerja cenderung melemah.

Dalam situasi seperti itu, pekerja dapat menerima penghasilan pas-pasan atau mengambil pekerjaan yang levelnya berada di bawah pendidikan yang dimiliki. Perusahaan juga mempunyai lebih banyak pilihan kandidat ketika persaingan tenaga kerja meningkat.

“Kalau di pasar tenaga kerja terlalu banyak nih lulusan atau (lapangan kerja) yang tersedia lebih sedikit daripada lulusan yang ada. Yang terjadi apa? Bargaining power (daya tawar) dari pihak supply jadi kecil,” kata Monika.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kerja keras tetap penting, tetapi tidak selalu cukup untuk mendorong kenaikan penghasilan. Keterampilan yang sangat umum dan dimiliki banyak pelamar dapat membuat ruang negosiasi seorang pekerja menjadi lebih terbatas.

Kombinasi Keahlian sebagai Pembeda

Monika menyarankan pekerja dan mahasiswa meningkatkan nilai diri melalui kombinasi keahlian yang lebih spesifik. Kemampuan pelengkap yang tepat dapat membuat kompetensi seseorang lebih relevan dengan kebutuhan industri dan tidak mudah digantikan.

Keahlian tambahan tidak harus menjauh dari bidang pendidikan utama. Justru, kemampuan pelengkap akan lebih kuat bila memperdalam atau memperluas fungsi dari keterampilan inti yang sudah dimiliki.

BidangKemampuan IntiKeahlian Pelengkap
EkonomiEkonometrikaData analytics
AkuntansiMembuat laporan keuanganExcel tingkat lanjut
KomunikasiKemampuan berbicaraContent strategy dan data insight
Ilmu hukumRegulasiKontrak digital dan teknologi

Mahasiswa ekonomi, misalnya, dapat memadukan pemahaman ekonometrika dengan data analytics. Kombinasi ini membuat kemampuan analisis ekonomi memiliki penerapan yang lebih luas dalam kebutuhan kerja.

Di bidang akuntansi, keterampilan membuat laporan keuangan dapat diperkuat melalui penguasaan Excel tingkat lanjut. Sementara itu, kemampuan berbicara di bidang komunikasi dapat dilengkapi dengan pemahaman mengenai content strategy dan data insight.

Untuk bidang hukum, pemahaman regulasi dapat dipadukan dengan pengetahuan mengenai kontrak digital dan teknologi. Kombinasi kompetensi seperti ini membuat profil pekerja lebih khusus dibandingkan keterampilan dasar yang tersedia pada banyak pelamar.

Penjelasan Monika disampaikan melalui video yang diunggah akun Instagram resmi USU, @official.usu, pada 7 Juli 2026. Ia menekankan bahwa nilai seseorang dapat meningkat ketika kombinasi keahliannya semakin unik.

“Jadi kalau gaji terasa stagnan, bukan kerja kerasnya yang dikurangi tapi kombinasi skill atau strateginya yang harus diubah,” ujar Monika. Pendekatan ini menempatkan pengembangan kemampuan sebagai salah satu langkah untuk memperkuat daya tawar di tengah persaingan kerja.

Terkait