Pasar saham Korea Selatan mengalami guncangan besar setelah Kospi ditutup jatuh 6,31 persen pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Indeks kehilangan 468,81 poin dan berakhir di level 6.820, setelah sempat anjlok sekitar 8 persen ke 6.731 dalam perdagangan intraday.
Tekanan ini tidak hanya datang dari satu arah. Kenaikan suku bunga, aksi jual saham semikonduktor yang terkait reli AI, serta kekhawatiran terhadap ETF leverage bertemu pada saat yang sama dan memperbesar volatilitas pasar.
Penurunan tersebut membuat Kospi kini berada lebih dari 27 persen di bawah puncaknya pada Juni, ketika indeks sempat menyentuh 9.386. Meski demikian, indeks masih mencatatkan kenaikan 2.510 poin atau 58,26 persen sejak awal tahun.
Saham semikonduktor menjadi pusat tekanan
Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi dua saham yang paling diperhatikan karena bobotnya besar dalam Kospi. Pelemahan keduanya langsung menggerus kekuatan indeks yang sebelumnya banyak ditopang reli sektor semikonduktor.
Menurut data yang dikutip Money Kompas, dua emiten itu menyumbang sekitar dua pertiga dari kenaikan Kospi sepanjang tahun berjalan. Ketika investor melanjutkan aksi ambil untung, pasar juga menilai ulang prospek penguatan yang sebelumnya didorong tema kecerdasan buatan atau AI.
| Emiten | Pelemahan intraday | Koreksi sekitar 1 bulan |
|---|---|---|
| Samsung Electronics | Sekitar 9 persen | Sekitar 26 persen |
| SK Hynix | Hingga 12 persen | Hampir 23 persen |
Koreksi pada dua saham tersebut menunjukkan betapa rentannya indeks terhadap perubahan sentimen di sektor teknologi. Samsung Electronics dan SK Hynix merupakan aset penting di pasar Korea Selatan, sehingga pergerakannya menjadi perhatian utama investor.
Kenaikan bunga memperberat sentimen risiko
Di tengah aksi jual saham teknologi, Bank of Korea menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen dari 2,50 persen. Keputusan ini menjadi kenaikan bunga pertama sejak Januari 2023.
Bank sentral mengambil langkah itu untuk menekan inflasi yang meningkat di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk mengendalikan tingginya utang rumah tangga.
Suku bunga yang lebih tinggi membuat biaya pinjaman rumah tangga dan perusahaan meningkat. Kondisi itu dapat menekan prospek laba emiten sekaligus mengurangi minat investor terhadap aset berisiko seperti saham.
Pasar pun harus menghadapi dua tekanan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, valuasi saham teknologi diuji oleh aksi jual; di sisi lain, biaya dana yang lebih mahal mempersempit ruang bagi sentimen investasi agresif.
ETF leverage ikut memicu kekhawatiran
Volatilitas juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap ETF leverage berbasis saham tunggal. Produk ini dinilai berisiko tinggi karena dapat memperbesar pergerakan pasar ketika harga saham acuannya berubah tajam.
Banyak ETF leverage di Korea Selatan menggunakan Samsung Electronics dan SK Hynix sebagai aset acuan. Dominasi dua saham itu membuat tekanan di sektor semikonduktor berpotensi menyebar lebih cepat ke instrumen investasi lain.
Financial Services Commission atau FSC menyatakan akan segera mengumumkan langkah perbaikan untuk instrumen tersebut. Ketua FSC Lee Eog-weon mengatakan regulator sedang meninjau sejumlah upaya untuk memperbaiki pengawasan ETF leverage.
“Ini pada dasarnya adalah produk berisiko tinggi,” kata Lee. “Kami telah menjelaskan risikonya kepada investor.”
Pemerintah Korea Selatan belum berencana menghentikan sementara perdagangan ETF leverage. Penghentian perdagangan justru dinilai dapat memicu gejolak yang lebih besar di pasar.
Pergerakan Kospi kini memperlihatkan bagaimana kebijakan moneter yang lebih ketat, koreksi saham AI, dan instrumen leverage dapat saling memperkuat tekanan. Ketiga faktor tersebut menjadi perhatian pasar setelah reli besar Kospi sejak awal tahun.
Source: money.kompas.com






