Luis de la Fuente tidak ingin Spanyol menggantungkan tugas meredam Lionel Messi kepada satu pemain dalam final Piala Dunia 2026 melawan Argentina. Pelatih Spanyol itu memilih pengawasan kolektif agar bentuk permainan timnya tidak rusak saat menghadapi kapten Argentina tersebut.
Pendekatan itu menempatkan seluruh pemain Spanyol dalam tanggung jawab yang sama, terutama ketika Messi bergerak mencari ruang di antara lini. De la Fuente menilai pemain berusia 39 tahun itu tetap mampu mengubah arah pertandingan dalam waktu singkat.
Risiko Penjagaan Khusus terhadap Messi
Keputusan menolak penjagaan satu lawan satu lahir dari pengalaman lama De la Fuente saat masih menangani tim muda Sevilla. Ia pernah menghadapi Barcelona di Piala Spanyol dan merasakan langsung betapa cepat situasi berubah ketika penjaga khusus Messi tidak lagi berada di lapangan.
Pada pertandingan itu, Sevilla disebut mampu menahan Barcelona hingga menit ke-70 dengan menempatkan Messi dalam pengawalan man-to-man. “Jelas kami menempatkannya di bawah pengawalan man-to-man sejak awal. Dan pada menit ke-70, skornya 0-0,” ujar De la Fuente.
Keadaan berubah setelah pemain yang ditugaskan mengawal Messi menerima kartu lalu ditarik keluar. Dalam 15 menit berikutnya, Messi disebut mencetak empat gol dan membalikkan jalannya laga.
Pengalaman tersebut membuat De la Fuente melihat kelemahan besar dalam ketergantungan pada satu penjaga. Jika pemain itu kehilangan posisinya, terkena kartu, atau harus meninggalkan pertandingan, struktur bertahan tim bisa ikut terganggu.
“Apa artinya ini? Bahwa kami akan menjaganya satu lawan satu? Tidak. Tapi bahwa kami akan mengawasinya dengan sangat ketat? Ya,” kata De la Fuente. Pernyataan itu menggambarkan rencana Spanyol untuk membatasi pengaruh Messi tanpa mengorbankan organisasi permainan.
Disiplin Kolektif Jadi Pilihan Spanyol
Dalam skema tersebut, pemain Spanyol dituntut memperhatikan posisi, pergerakan, dan ruang yang berpotensi dimanfaatkan Messi. Fokusnya bukan memenangkan satu duel individual, melainkan memastikan Argentina tidak mudah menemukan celah ketika sang kapten menerima bola.
Pengawasan kolektif juga membuat tanggung jawab bertahan tersebar ke seluruh tim. Spanyol ingin tetap mampu menjaga keseimbangan antara menutup ruang, merebut bola, dan membangun serangan saat kesempatan datang.
Menurut Suara.com, De la Fuente menilai kewaspadaan bersama menjadi cara yang lebih cocok untuk menjaga organisasi permainan timnya. Spanyol akan menghadapi Argentina sebagai satu unit, bukan dengan perhatian yang hanya terpusat pada satu pemain.
Meski demikian, De la Fuente tidak mengecilkan arti Messi bagi Argentina maupun sepak bola. Ia menyebut Messi sebagai pemain dengan talenta luar biasa sekaligus contoh penting bagi atlet muda.
Lamine Yamal Diminta Tidak Hidup dalam Bayang-bayang
Di sisi lain, Lamine Yamal diperkirakan menjadi salah satu tumpuan Spanyol untuk menekan pertahanan Argentina. Pemain Barcelona berusia 19 tahun itu kerap dibandingkan dengan Messi, tetapi De la Fuente meminta agar perbandingan tersebut tidak menjadi beban.
“Messi adalah satu-satunya. Dia adalah talenta yang luar biasa dan, yang terpenting, contoh bagi atlet yang lebih muda,” tegas De la Fuente. Ia menilai tidak ada pemain yang perlu dipaksa meniru identitas pemain Argentina tersebut.
De la Fuente ingin Yamal berkembang melalui karakter permainannya sendiri. “Tetapi Lamine harus menjadi Lamine,” katanya, menegaskan bahwa dukungan terbaik bagi pemain muda itu adalah membiarkannya tampil sebagai dirinya sendiri.
Kondisi Yamal disebut tidak menjadi masalah menjelang pertandingan setelah ia sempat absen latihan sebagai langkah pencegahan. Ia mengalami benturan keras pada paha setelah dilanggar di kotak penalti dalam semifinal melawan Prancis.
Yamal kemudian sudah kembali berlatih bersama rekan-rekan setimnya seperti biasa. Kesediaannya tampil memberi Spanyol tambahan pilihan menyerang dalam laga yang menuntut ketenangan saat bertahan dan keberanian ketika memperoleh peluang.
Spanyol memburu gelar juara dunia pertama sejak edisi 2010 di Afrika Selatan, sementara Argentina mengejar catatan mempertahankan trofi secara beruntun. Di tengah ambisi itu, cara Spanyol menjaga Messi berpotensi menjadi salah satu penentu terbesar dalam final.
Source: www.suara.com






