AI Membuka Jalan Mandiri bagi Penyandang Disabilitas, Peluang Ekonomi Menguat

Author: Cung Media

Kecerdasan buatan mulai dipandang sebagai alat yang dapat mengurangi hambatan sehari-hari bagi penyandang disabilitas. Teknologi ini berpotensi memperluas akses komunikasi, membantu mengenali lingkungan, serta mendukung produktivitas pengguna.

Potensinya menjadi penting ketika peluang kerja bagi kelompok disabilitas masih menghadapi tantangan besar. Data Badan Pusat Statistik pada 2025 menunjukkan sekitar 70 persen penyandang disabilitas bekerja di sektor informal.

Teknologi yang menyesuaikan kebutuhan pengguna

Berbeda dari alat bantu yang seragam, AI dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap pengguna. Kemampuan personalisasi ini membuat teknologi digital berpeluang memberi dukungan lebih relevan dalam aktivitas harian.

Bagi pengguna tunanetra, computer vision dapat membantu mendeskripsikan gambar dan keadaan di sekitar mereka. Sementara itu, pengguna tunarungu dapat memanfaatkan transkripsi ucapan ke teks serta penerjemahan bahasa isyarat untuk memperluas akses komunikasi.

Kelompok Pengguna Teknologi AI Potensi Manfaat
Tunanetra Computer vision Mendeskripsikan gambar dan lingkungan sekitar
Tunarungu Speech-to-text dan penerjemahan bahasa isyarat Membuka akses komunikasi lebih luas

Fungsi tersebut menunjukkan bahwa AI tidak semata berkaitan dengan otomatisasi pekerjaan. Dalam konteks disabilitas, teknologi ini dapat menjadi jembatan untuk mengurangi hambatan terhadap informasi dan interaksi.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai pemanfaatan AI perlu terus ditingkatkan agar transformasi digital tidak meninggalkan kelompok disabilitas. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi instrumen keadilan sosial yang dapat diakses seluruh warga negara.

Dorongan bagi pendidikan yang lebih setara

Akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa disabilitas juga menjadi bagian penting dari perkembangan teknologi inklusif. Data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi per Juni 2025 mencatat 3.128 mahasiswa disabilitas sedang menempuh pendidikan di 282 perguruan tinggi.

Angka itu menandakan ruang belajar di pendidikan tinggi kian terbuka bagi penyandang disabilitas. Namun, ketersediaan teknologi pendukung tetap diperlukan agar proses belajar dan pengembangan keterampilan berlangsung lebih setara.

AI dapat memberi bantuan pada aktivitas yang melibatkan pengenalan visual, pemrosesan suara, dan komunikasi. Pemanfaatannya perlu diarahkan berdasarkan kebutuhan pengguna, bukan hanya mengikuti laju perkembangan teknologi digital.

Peluang produktivitas dan kemandirian ekonomi

Lestari, yang akrab disapa Rerie, memandang penguasaan AI dapat membantu meningkatkan produktivitas serta kemandirian pengguna. Teknologi ini dinilai dapat menjadi akselerator untuk membuka peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas.

Peran itu relevan di tengah dominasi sektor informal yang masih menjadi tempat bekerja bagi sebagian besar kelompok disabilitas. Penguasaan teknologi dapat membantu pengguna mengembangkan kapasitas saat dunia kerja terus berubah.

Dalam keterangan tertulis yang dikutip Medcom, Lestari menekankan bahwa pemanfaatan AI juga berkaitan dengan amanat konstitusi. “Pembukaan UUD 1945 memberi mandat yang sangat jelas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang berarti bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas. Pemanfaatan AI bagi disabilitas merupakan bagian pelaksanaan amanat konstitusi,” kata Lestari.

Menurut Lestari, transformasi digital harus menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk kelompok disabilitas. Dengan penerapan yang tepat, AI dapat memperkuat akses komunikasi, pendidikan, produktivitas, dan kemandirian mereka.

Source: www.medcom.id
Terbaru