Pembukaan RTS Link pada Januari 2027 berpotensi mengubah arah belanja lintas batas Singapura dan Malaysia secara signifikan. Warga Singapura diproyeksikan menambah pengeluaran hingga US$810 juta per tahun di Johor Bahru, angka yang dapat menekan pelaku ritel, restoran, dan jasa di negara tersebut.
Perbedaan harga diperkirakan menjadi magnet utama bagi konsumen Singapura untuk berbelanja di Malaysia. Ketika akses perjalanan makin cepat, kebutuhan rutin yang sebelumnya dibeli di lingkungan tempat tinggal berpotensi dialihkan ke seberang perbatasan.
Kawasan Pinggiran Hadapi Arus Keluar Belanja
Dampak RTS Link diperkirakan paling terasa di kawasan pinggiran Singapura, bukan di pusat kota. Wilayah barat, timur laut, utara, dan timur diproyeksikan mencatat arus belanja bersih ke luar negeri setelah layanan kereta ini beroperasi.
Kawasan barat diperkirakan mengalami arus keluar belanja terbesar senilai S$104 juta per tahun. Wilayah timur laut menyusul dengan S$103 juta, sementara kawasan utara diproyeksikan kehilangan S$82 juta.
| Kawasan Singapura | Proyeksi Arus Belanja Bersih | Arah Dampak |
|---|---|---|
| Barat | S$104 juta | Arus keluar |
| Timur laut | S$103 juta | Arus keluar |
| Utara | S$82 juta | Arus keluar |
| Timur | S$25 juta | Arus keluar |
| Pusat kota | S$25 juta | Tambahan belanja |
Pusat kota justru diperkirakan menerima tambahan belanja sekitar S$25 juta setiap tahun. Kawasan ini masih ditopang minat wisatawan terhadap pusat perbelanjaan premium, hotel, restoran, serta hiburan.
Mobilitas Warga Singapura Diproyeksikan Naik 51%
Studi Singapore Business Federation bersama Singapore Retailers Association dan Restaurant Association of Singapore memperkirakan mobilitas warga Singapura ke Johor Bahru meningkat 51%. Kenaikan itu setara dengan tambahan sekitar 11,2 juta perjalanan pulang-pergi dalam setahun.
Kajian tersebut menilai dampak pembukaan RTS Link terhadap konsumsi masyarakat, pariwisata, dan aktivitas usaha di kedua sisi perbatasan. Besarnya tambahan perjalanan menunjukkan bahwa kereta cepat ini dapat mendorong perubahan kebiasaan belanja, bukan sekadar memperlancar perjalanan.
Tambahan belanja warga Johor Bahru di Singapura diperkirakan mencapai S$756 juta per tahun. Namun, nilainya dinilai belum mampu mengimbangi pengeluaran warga Singapura di Malaysia.
| Indikator | Proyeksi Tahunan | Keterangan |
|---|---|---|
| Belanja warga Singapura di Johor Bahru | US$810 juta | Tambahan pengeluaran |
| Belanja warga Johor Bahru di Singapura | S$756 juta | Tambahan pengeluaran |
| Defisit belanja lintas batas Singapura | S$290 juta | Arus keluar bersih |
| Tambahan perjalanan pulang-pergi | 11,2 juta | Mobilitas naik 51% |
Singapura diproyeksikan mencatat defisit belanja lintas batas sebesar S$290 juta per tahun. Nilai itu setara sekitar 0,4% dari total penjualan sektor ritel serta makanan dan minuman Singapura pada 2025.
Kebutuhan Harian Menjadi Sektor Paling Rentan
Produk kebutuhan pokok, toko obat, restoran, dan layanan kecantikan diperkirakan menjadi kategori yang paling banyak menyerap belanja warga Singapura di Johor Bahru. Kategori tersebut dekat dengan pengeluaran harian dan sangat sensitif terhadap perbedaan harga.
Bisnis di kawasan permukiman Singapura berpotensi menghadapi dampak yang lebih langsung karena pelanggan memiliki pilihan baru untuk memenuhi kebutuhan rutin. Kondisi itu menambah tantangan bagi usaha yang telah bergulat dengan kekurangan tenaga kerja, biaya sewa, dan biaya operasional.
Chief Executive Officer Singapore Business Federation Kok Ping Soon menilai RTS Link dapat memperkuat tekanan persaingan yang sudah bersifat struktural. “Harga kebutuhan pokok, toko obat, restoran, dan layanan kecantikan diperkirakan akan menjadi sektor yang paling banyak menarik belanja warga Singapura di Johor Bahru,” ujar Kok Ping Soon.
Pelaku usaha dalam survei menilai persaingan akan semakin ketat pada produk dan layanan yang peka terhadap harga. Peningkatan layanan, pengalaman pelanggan, dan diferensiasi produk dipandang penting agar bisnis Singapura tetap mampu bersaing.
