Ribuan warga memadati gelaran wayang kulit di Jalan Raya Kupang Baru, Kelurahan Sonokwijenan, Surabaya, pada Minggu (12/7/2026). Ramainya penonton menunjukkan bahwa pertunjukan tradisi masih punya daya tarik kuat di tengah kehidupan kota.
Acara ini juga memperlihatkan sisi lain dari kebudayaan yang hidup. Saat warga berkumpul menikmati pertunjukan, lapak-lapak UMKM di sekitar lokasi ikut bergerak dan seniman mendapat ruang tampil.
Budaya yang tidak hanya ditonton
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menilai momentum seperti ini penting untuk menjaga identitas budaya bangsa. Ia menegaskan bahwa wayang kulit bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu terus dirawat.
Menurut Cahyo, budaya yang hidup akan menggerakkan banyak sektor. Ia menyebut pertunjukan seperti ini membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal budaya daerahnya sekaligus memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil.
“Budaya yang hidup akan menggerakkan banyak sektor. Ketika masyarakat berkumpul menikmati pertunjukan wayang, UMKM ikut tumbuh, seniman mendapat ruang berkarya, dan generasi muda memiliki kesempatan mengenal budaya daerahnya,” kata Cahyo.
10 dalang dan lakon Pendowo Syukur
Pergelaran kali ini mengangkat lakon Pendowo Syukur atau Sesaji Rojo Suyo. Acara tersebut menghadirkan 10 dalang, yakni Ki Madiro, Ki Surono Gondo Taruno, Ki Demang Sapto, Ki Daniel Nugroho, Ki Bayu Wiyan Wijaya, Ki Khoirul Anam, Ki Sabdo Sutejo, Ki Ilham Kukuh Hadi Wibowo, Ki Nyu Warsono, dan Ki Doto Bawono.
| Elemen Acara | Detail |
|---|---|
| Lakon | Pendowo Syukur (Sesaji Rojo Suyo) |
| Jumlah dalang | 10 orang |
| Lokasi | Jalan Raya Kupang Baru, Kelurahan Sonokwijenan, Surabaya |
| Waktu | Minggu (12/7/2026) |
Selain para dalang, pertunjukan itu juga dimeriahkan oleh Niken Salindri, Lusi Brahman, serta pelawak Cak Komet dan Cak Slendro. Susunan pengisi acara itu membuat suasana pertunjukan terasa meriah sejak sore hingga akhir acara.
Pelestarian yang diharapkan rutin hadir
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Jawa Timur, Sadari, menyebut pergelaran wayang kulit sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah menjaga warisan budaya. Ia menekankan bahwa kolaborasi dengan DPRD menjadi salah satu cara memperluas ruang pelestarian di tengah masyarakat.
Sadari juga mengingatkan bahwa wayang kulit telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2003. Ia menambahkan bahwa Indonesia juga memiliki warisan budaya lain yang mendapat pengakuan dunia, termasuk keris, gamelan, pencak silat, jamu, dan Reyog Ponorogo.
“Wayang kulit adalah warisan budaya yang harus terus hidup di tengah masyarakat. Melalui kolaborasi dengan DPRD Jawa Timur, kami ingin memastikan budaya ini tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari jati diri bangsa,” ujar Sadari.
Cahyo berharap pertunjukan wayang kulit bisa digelar secara rutin di Surabaya agar budaya lokal tetap hidup. Ia menilai kegiatan seperti ini bukan hanya menjaga kebersamaan warga, tetapi juga memberi ruang bagi seniman dan membantu perputaran ekonomi UMKM.
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono yang turut hadir juga menyoroti tradisi Sedekah Bumi sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penguat kebersamaan warga. Ia berharap kegiatan budaya seperti itu terus dipertahankan sebagai bagian dari kearifan lokal.
“Mudah-mudahan acara Sedekah Bumi ini menjadi wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT dan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat,” pungkas Bambang.
