Gunungan Sayur Tak Komplit, Cara Komunitas Lima Gunung Merayakan Syukur

Author: Cung Media

Gunungan yang dibawa Komunitas Lima Gunung di Dusun Warangan justru tampak sengaja sederhana. Isi yang tidak penuh itu menjadi cara mereka merayakan syukur tanpa berpura-pura mewah di tengah kondisi petani lereng Merbabu.

Dalam kirab budaya Festival Lima Gunung XXV, kesan yang muncul bukan kemegahan, melainkan kejujuran. Ratusan warga bergerak dari perempatan jalan kampung menuju panggung utama, membawa tradisi, seni, dan kedekatan yang kuat dengan alam sekitar.

Gunungan yang sengaja dibuat bersahaja

Berbeda dari gunungan pesta panen yang biasanya menjulang penuh, kirab tahun ini hanya menampilkan beberapa hasil bumi setempat. Di antaranya sawi, lonjang atau daun bawang, terong, daun singkong, klobot jagung, dan selipan bunga mawar.

Sih Agung Prasetyo, pembawa acara FLG, menyinggung situasi sosial yang melatarbelakangi pilihan itu. Ia menyebut, “Mungkin saja kondisi masyarakat dan rakyat di kalangan bawah saat ini gek garing karo ilang jagunge”, lalu menambahkan, “Mula menika namung sekedik ingkang dipun betha” dan “Menika pertanda zaman”.

Pesannya jelas: saat keadaan di akar rumput tidak baik-baik saja, festival ini memilih tidak menutupinya dengan tampilan berlebihan. Gunungan yang tidak komplit justru menjadi simbol syukur yang jujur.

Kirab yang menghidupkan dusun

Prosesi kirab dimulai dari perempatan jalan kampung di Dusun Warangan, lalu bergerak ke panggung utama festival. Barisan kostum warna-warni dan tabuhan musik tradisional membuat tradisi terasa hidup di tengah udara dingin lereng gunung.

Di titik akhir, suasana berubah lebih khidmat saat para pegiat Komunitas Lima Gunung memukul beduk secara bergantian. Dentuman itu menandai pembukaan resmi kemeriahan esok hari dan menjadi penegas bahwa seni, tradisi, dan alam masih dirawat bersama warga.

Tahun perak Festival Lima Gunung kembali ke tempat asal

Handoko dari Sanggar Dhom Sunthil mengenang bahwa Festival Lima Gunung pertama kali lahir di dusun itu pada 2001. Setelah seperempat abad, perayaan Tahun Perak kembali digelar di Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.

Festival berlangsung selama tiga hari, 10–12 Juli 2026, dengan tema Makin Goblok Bareng. Tema tersebut menarik perhatian banyak kelompok seni dari Magelang maupun luar daerah, termasuk Cirebon, Bogor, Yogyakarta, Semarang, dan Solo.

Informasi Rincian Keterangan Catatan
Lokasi Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang Lereng Gunung Merbabu Kirab menjadi magnet utama
Durasi acara 10–12 Juli 2026 Tiga hari Bagian dari Festival Lima Gunung XXV
Grup lolos kurasi 85 grup 1.274 orang terlibat Durasi tampil maksimal 15 menit

Kurasi ketat karena ruang tampil terbatas

Antusiasme yang besar membuat panitia menerapkan seleksi ketat. Pendaftaran dilakukan terpusat secara daring, lalu setiap penampil diberi durasi maksimal 15 menit agar seluruh rangkaian tetap tertata.

Endah Pertiwi menjelaskan bahwa banyak kelompok seni tidak dapat masuk karena keterbatasan ruang tampil. Dari 85 grup yang lolos, total keterlibatan mencapai 1.274 orang, sehingga pengaturan waktu menjadi sangat ketat.

Panggung besar, tapi dikelola mandiri

Di panggung utama berukuran 8 x 16 meter, pertunjukan seni tradisional dan kontemporer bergantian tampil dari pagi hingga larut malam. Acara itu didukung sound system 10.000 watt, tata cahaya yang apik, dan pameran seni rupa di sudut lain dusun.

Yang membuat Festival Lima Gunung XXV menonjol bukan hanya isi acaranya, tetapi juga cara festival ini bertahan. Novian Nugroho dari Komunitas Lima Gunung menegaskan bahwa agenda tahunan tersebut digelar tanpa sponsor maupun donatur.

Di tengah banyak festival yang bergantung pada dukungan korporasi atau anggaran pemerintah, Komunitas Lima Gunung memilih jalan mandiri. Dari gunungan sayur yang sederhana sampai panggung berdana nol rupiah, mereka menjaga pesan yang sama: seni dan martabat tidak harus dibungkus kemewahan untuk tetap kuat.

Source: www.rmoljawatengah.id
Terbaru