Wayang kulit di Klaten kembali diposisikan sebagai ruang penting untuk menjaga nilai budaya, bukan hanya tontonan malam bagi warga. Pemerintah Kabupaten Klaten menegaskan bahwa pertunjukan ini memuat pesan pendidikan karakter yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Gelaran rutin malam Selasa Kliwon di halaman Gedung Sunan Pandanaran (RSPD) Klaten itu mempertemukan seni pertunjukan, pelestarian budaya lokal, dan ruang interaksi masyarakat. Di panggung yang sama, tradisi pedalangan juga memberi tempat bagi generasi baru untuk tampil bersama para dalang yang sudah dikenal publik.
Dua Generasi Dalang di Satu Panggung
Dalam pentas yang digelar Senin (6/7) malam, masyarakat menyaksikan dua penampilan dengan lakon berbeda. Ki Sarlair Puspo Pandoyo membawakan Banjaran Sumantri, sementara dalang cilik Ananda Maulana Langit Romadhona tampil dengan lakon Dewa Ruci.
Kehadiran dalang dari dua generasi ini menunjukkan bahwa tradisi wayang kulit di Klaten tidak berhenti pada pelestarian bentuk pertunjukan. Tradisi itu juga terus dirawat melalui ruang publik yang membuka kesempatan bagi regenerasi.
| Dalang | Lakon | Peran dalam Gelaran |
|---|---|---|
| Ki Sarlair Puspo Pandoyo | Banjaran Sumantri | Menampilkan pewayangan dari kalangan dalang senior |
| Ananda Maulana Langit Romadhona | Dewa Ruci | Menunjukkan hadirnya dalang cilik dalam tradisi yang terus tumbuh |
Pesan Budaya yang Ditegaskan Pemerintah Daerah
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Staf Ahli Bidang Hukum Politik dan Pemerintahan Sutopo, menegaskan bahwa wayang kulit bukan sekadar hiburan. Pemerintah daerah memandangnya sebagai warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia yang telah diakui dunia.
Dalam sambutan itu, Hamenang menyebut wayang sebagai salah satu mahakarya budaya yang memuat nilai luhur. Setiap lakon dan dialog dalam pewayangan, menurutnya, mengandung ajaran tentang kehidupan, kejujuran, pengabdian, kesetiaan, dan kebijakan dalam mengambil keputusan.
Penekanan itu memperlihatkan bahwa wayang kulit masih dipahami sebagai medium yang punya fungsi sosial kuat. Di Klaten, pertunjukan ini diposisikan sebagai cara untuk menghidupkan kembali pesan-pesan budaya dalam bentuk yang dekat dengan masyarakat.
Media Pendidikan Karakter dan Ruang Sosial
Pentas wayang kulit di Klaten juga dijadikan sarana pendidikan karakter. Pemerintah daerah mengajak masyarakat mengambil inspirasi dari nilai-nilai pewayangan, mulai dari kejujuran, kerja keras, penghormatan kepada orang tua, hingga kebiasaan mengutamakan musyawarah.
Dengan cara itu, pertunjukan budaya tidak berhenti pada aspek estetika. Ia bergerak menjadi ruang pembelajaran yang bisa dihubungkan langsung dengan kehidupan sehari-hari warga.
Kehadiran para dalang yang tergabung dalam Guyub Dalang Klaten dan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Klaten juga menunjukkan dukungan komunitas seni terhadap keberlanjutan tradisi ini. Dukungan tersebut penting agar wayang kulit tetap punya panggung yang hidup di tengah masyarakat.
Apresiasi Warga dan Dampak di Sekitar Lokasi
Suparman, salah satu penonton, menyampaikan apresiasi kepada Disbudporapar Klaten yang rutin menggelar wayang kulit setiap malam Selasa Kliwon di halaman RSPD Klaten. Menurutnya, kegiatan itu tidak hanya memberi hiburan dan menjaga budaya, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku usaha kuliner di sekitar lokasi.
Fungsi ekonomi ini membuat pentas wayang kulit punya dampak yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan seni. Di sekitar arena, aktivitas warga ikut bergerak karena acara budaya tersebut menciptakan keramaian yang memberi peluang bagi pedagang makanan dan minuman.
Di Klaten, wayang kulit terus hadir sebagai tradisi yang hidup dan bertahan melalui pertemuan antara seni, pendidikan nilai, dan aktivitas warga. Dari panggung malam Selasa Kliwon, pesan budaya itu kembali ditegaskan sebagai bagian dari warisan adiluhung bangsa yang masih punya tempat di tengah masyarakat.
Source: mediaindonesia.com






