Vance Sentil Israel, Posisi Tel Aviv Makin Terjepit di Panggung Dunia

Author: Cung Media

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance melontarkan kritik keras yang membuat posisi Israel kembali disorot. Ia menilai Tel Aviv kian terpinggirkan di panggung internasional dan hanya punya sedikit sekutu yang benar-benar tersisa.

Komentar itu muncul di tengah menguatnya perbedaan sikap antara Washington dan Tel Aviv soal kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran untuk menghentikan perang. Dari Gedung Putih, Vance juga menyiratkan bahwa sebagian pejabat Israel kurang menghargai dukungan diplomatik dan militer yang selama ini datang dari Amerika Serikat.

Pernyataan keras dari Gedung Putih

Vance menyebut Presiden Donald Trump sebagai satu-satunya kepala negara di dunia yang masih bersimpati kepada Israel saat ini. Ia kemudian menegaskan bahwa persoalan utama Israel bukanlah Trump, melainkan realitas politik yang membuat negara itu makin sulit bertahan di luar negeri.

“Masalah bagi Israel bukanlah Donald J Trump,” kata Vance, sembari meminta pihak di Israel yang menyalahkan presiden AS untuk melihat situasi secara lebih jernih. Ia juga menyinggung bahwa Israel masih bisa bertahan karena dukungan persenjataan besar yang dibiayai AS.

Pernyataan ini memperlihatkan jarak pandang yang makin lebar antara pemerintah AS dan Israel. Ketegangan tersebut mengemuka setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara yang diumumkan Trump.

Perbedaan arah setelah gencatan senjata diumumkan

Sebelum kesepakatan itu, Israel dan AS disebut bekerja sama erat dalam operasi militer gabungan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Koordinasi kedua pihak berlangsung intens selama lebih dari satu bulan dalam menjalankan agresi terhadap Iran.

Namun, arah kebijakan berubah setelah Trump mengumumkan gencatan senjata pada 8 April 2026. Netanyahu disebut mendorong kelanjutan operasi militer, sedangkan Trump memilih mengakhiri perang yang dinilai ikut membebani perekonomian global.

Situasi itu membuat hubungan politik keduanya tampak tidak lagi sejalan sepenuhnya. Hingga berita ini diturunkan, Netanyahu belum secara terbuka mengkritik atau menanggapi perjanjian damai antara AS dan Iran.

Respons dari kubu sayap kanan Israel

Di internal pemerintahan Israel, tidak semua pihak menerima kesepakatan yang didorong Trump. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir, yang memimpin partai ultranasionalis kecil dalam koalisi pemerintahan, menyatakan Israel tidak terikat pada perjanjian tersebut.

Ben-Gvir juga menegaskan bahwa Israel tidak akan tunduk pada tekanan internasional. Sikap itu menambah gambaran bahwa perbedaan pandangan di internal Israel dan antara Israel dengan AS semakin terlihat di tengah dinamika perang dan upaya gencatan senjata.

Pernyataan Vance pada akhirnya menempatkan sorotan pada posisi Israel yang dinilai makin sulit di forum global. Di saat dukungan Amerika Serikat masih besar secara militer, tekanan diplomatik dan pergeseran sikap dari sekutu utamanya membuat Israel menghadapi situasi internasional yang jauh lebih kompleks.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru