Ben Gvir Minta Libanon Dibakar, Tekanan Diplomasi atas Israel Kian Menguat

Author: Cung Media

Seruan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir untuk menghancurkan Libanon memicu gelombang kecaman dan mempertegas kerasnya arah politik di kabinet Benjamin Netanyahu. Pernyataan itu muncul setelah empat tentara Israel tewas di Libanon Selatan akibat serangan Hizbullah.

Di saat yang sama, jalur diplomasi justru sedang bergerak. Amerika Serikat dilaporkan tengah membahas nota kesepahaman dengan Iran untuk mengakhiri perang, sehingga retorika Ben Gvir dinilai makin kontras dengan upaya meredakan konflik.

Seruan keras yang memantik reaksi

Melalui unggahan di platform X pada Jumat waktu setempat, Ben Gvir menegaskan bahwa Israel tidak boleh lagi menahan diri. Ia juga menyampaikan sikap keras itu langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pertemuan pribadi.

Dalam unggahannya, Ben Gvir menulis bahwa seluruh Libanon harus dibakar dan setiap korban dari pihak Israel harus dibalas dengan dampak besar bagi Libanon. Ia menempatkan keamanan warga Israel di atas tekanan internasional dan desakan sekutu.

Menurut Ben Gvir, langkah keras diperlukan untuk melenyapkan ancaman di kawasan. Ia juga mendesak pemerintah agar tidak tunduk pada tekanan Amerika Serikat soal pengendalian diri militer.

Respons dari Amerika Serikat ikut menambah tekanan

Retorika itu muncul ketika sejumlah tokoh politik Amerika Serikat justru mengkritik cara Israel menjalankan operasi militernya di Libanon. Mantan Presiden Donald Trump, dalam KTT G7, menilai perang Israel melawan Hizbullah sudah berlangsung terlalu lama dan menimbulkan terlalu banyak korban sipil.

Trump juga mengatakan Israel tidak perlu merobohkan gedung apartemen setiap kali mencari target. Ia menegaskan bahwa banyak orang di wilayah konflik bukan anggota Hizbullah.

Sikap serupa datang dari Wakil Presiden terpilih JD Vance. Ia mengingatkan bahwa Israel sangat bergantung pada bantuan militer AS, dengan menyebut dua pertiga senjata pertahanan Israel dalam tiga bulan terakhir diproduksi dan didanai oleh pembayar pajak Amerika.

Kekhawatiran di dalam Israel

Di dalam negeri, pernyataan Ben Gvir menambah kekhawatiran bahwa posisi Israel di mata dunia akan makin tertekan. Pemimpin oposisi Yair Lapid memperingatkan bahwa pengaruh menteri-menteri ekstremis seperti Ben-Gvir dan Smotrich berisiko merusak hubungan diplomatik Israel.

Lapid menilai hubungan dengan mitra penting seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat bisa terdampak jika pemerintah terus mengambil sikap ekstrem. Peringatan itu menunjukkan betapa rapuhnya posisi kabinet Netanyahu di tengah tekanan dari dalam dan luar negeri.

Prospek gencatan senjata masih terbuka

Meski tensi politik meningkat, laporan terbaru menyebut masih ada peluang kesepakatan gencatan senjata baru antara Israel dan Libanon. Kesepakatan itu disebut menguat setelah pembahasan MoU AS-Iran yang menuntut penghentian segera seluruh operasi militer dan penghormatan terhadap kedaulatan Libanon.

Namun, jalan menuju kesepakatan belum mulus. Sejumlah menteri sayap kanan dilaporkan mengancam mundur jika Netanyahu melanjutkan kesepakatan yang dianggap merugikan posisi militer Israel.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru