
Industri karoseri truk di dalam negeri sedang berada dalam tekanan berat setelah truk impor asal China makin banyak masuk ke area pertambangan. Dampaknya terasa langsung pada pesanan bak truk dan modifikasi yang anjlok dari puluhan unit per bulan menjadi hanya 1-2 unit.
Penurunan itu tidak hanya terjadi sesaat, tetapi sudah berlangsung dalam 2-3 tahun terakhir. Bagi pelaku karoseri, kondisi ini menunjukkan perubahan pasar yang besar karena truk datang dalam bentuk utuh dan siap kerja, sehingga kebutuhan modifikasi di dalam negeri menyusut tajam.
Order yang menghilang dari dealer
Direktur PT Metalindo Teknik Utama, Syarifuddin Tangka, mengatakan dealer yang dulu rutin memesan 30 hingga 50 unit truk per bulan untuk dimodifikasi kini hampir tidak lagi melakukan order. Sisa pesanan yang masih masuk disebut hanya sekitar 1-2 unit per bulan.
Bagi industri karoseri, hilangnya order dari dealer berarti berkurangnya pekerjaan pada lini pembuatan rumah atau bak truk. Padahal, lini itu selama ini menjadi bagian penting dalam ekosistem kendaraan komersial nasional.
Truk datang sudah lengkap
Syarifuddin menjelaskan, masalah utama ada pada truk impor China yang masuk ke Indonesia dalam kondisi sudah lengkap dengan dump atau baknya. Karena datang sebagai complete vehicle, unit itu bisa langsung dipakai di tambang tanpa perlu masuk ke proses modifikasi oleh karoseri lokal.
Situasi ini membuat pelaku industri dalam negeri kehilangan ruang kerja yang sebelumnya tersedia. Ketika kendaraan datang sudah siap pakai, kebutuhan terhadap pembuatan bak truk di Indonesia otomatis turun drastis.
Ia juga menyoroti soal kandungan lokal. Menurut dia, pelaku lokal diarahkan untuk memenuhi ketentuan TKDN, sementara truk impor yang masuk dalam kondisi lengkap tidak melalui skema yang sama.
Aturan yang dinilai tidak setara
Keluhan lain muncul dari sisi penerapan aturan teknis. Syarifuddin menilai industri lokal dibatasi oleh beragam regulasi, tetapi truk impor yang beroperasi di area pertambangan justru tidak menghadapi tuntutan setara.
Ia menyinggung kewajiban mematuhi aturan ODOL yang harus dijalankan pelaku industri dalam negeri. Pada saat yang sama, menurut dia, masih ada truk impor yang dari sisi emisi memakai standar Euro2 atau Euro3, sementara industri lokal dipaksa mengikuti standar Euro4.
Ukuran dimensi kendaraan juga ikut dipersoalkan. Syarifuddin menilai kondisi ini menciptakan persaingan yang tidak adil karena kendaraan lokal harus tunduk pada aturan ketat, sedangkan kendaraan impor dinilai bisa masuk dan digunakan dengan kelonggaran lebih besar.
Efeknya menjalar ke industri pendukung
PT Metalindo Teknik Utama sendiri bergerak dalam pembuatan bak atau rumah-rumah truk. Karena itu, perubahan pola pembelian kendaraan tambang langsung memukul bisnis inti perusahaan.
Masuknya truk impor dalam bentuk utuh juga mengubah pasar kendaraan komersial di luar penjualan unit. Efek lanjutannya menjalar ke industri pendukung, terutama karoseri yang selama ini mengerjakan tahap akhir agar truk siap dipakai sesuai kebutuhan operasional.
Keluhan sudah sampai ke pemerintah
Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, mengakui pihaknya sudah menampung persoalan ini dan menyampaikannya ke Kementerian Perindustrian. Menurut dia, ada beberapa jalur legal atau celah yang dimanfaatkan truk-truk China untuk masuk, salah satunya melalui skema investasi.
Gaikindo juga mengusulkan langkah yang dinilai bisa mengembalikan persaingan menjadi lebih sehat. Intinya, semua kendaraan yang memiliki roda dan mesin harus lolos standar yang berlaku di Indonesia sebelum dapat digunakan.
Usulan itu diarahkan agar tidak ada lagi perbedaan perlakuan antara produk lokal dan produk impor. Jika seluruh kendaraan, termasuk truk, wajib memenuhi standar laik jalan yang sama, ruang persaingan dinilai akan lebih setara bagi pelaku industri nasional.
Bagi karoseri lokal, isu ini bukan hanya soal kompetisi dagang, tetapi juga keberlangsungan pasar kerja yang selama ini bergantung pada pemesanan dari dealer dan ATPM. Selama truk impor terus masuk dalam kondisi siap pakai dan tanpa beban aturan yang setara, tekanan terhadap industri karoseri diperkirakan akan tetap besar.
Source: oto.detik.com




