Ketua Umum TP PKK Tri Tito Karnavian menyoroti minyak kemiri dari Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, sebagai produk lokal yang punya peluang ekonomi besar. Ia menilai komoditas ini bukan hanya bernilai jual, tetapi juga berpotensi menjadi usaha keluarga yang tumbuh dari potensi rumah tangga.
Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri Pelatihan Pembuatan dan Pengelolaan Minyak Kunir di Rumah Jabatan Bupati Belu. Di hadapan peserta, Tri menekankan bahwa Belu dikenal memiliki kemiri dalam jumlah melimpah, sehingga bahan bakunya tersedia dan mudah diperoleh masyarakat setempat.
Potensi ekonomi dari bahan lokal
Tri melihat kemiri Belu sebagai bahan baku yang layak dikembangkan lebih serius karena termasuk minyak asiri yang bisa diarahkan ke pasar yang lebih luas. Ia menilai, jika pengolahan dilakukan dengan tepat, produk ini bukan hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memiliki peluang masuk pasar ekspor.
Dari sisi ekonomi keluarga, Tri menilai minyak kemiri dapat memberi manfaat langsung terutama bagi ibu-ibu rumah tangga. Ia menyebut pengolahan yang serius dapat membuka sumber pendapatan baru dan turut mendorong kesejahteraan di daerah.
Tri juga mendorong agar pengembangan produk tidak berhenti di level pelatihan. Ia berharap TP PKK Kabupaten Belu bisa berkoordinasi dengan unit kementerian agar minyak kemiri benar-benar diposisikan sebagai produk lokal unggulan PKK.
Murah bahan baku, nilai tambah dari proses organik
Salah satu keunggulan minyak kemiri Belu ada pada proses pembuatannya yang dinilai masih organik. Tri menyebut produk itu diolah tanpa campuran bahan kimia, sehingga punya nilai tambah dari sisi keaslian dan daya tarik pasar.
Ketersediaan bahan baku juga menjadi faktor penting yang membuat usaha ini lebih realistis dijalankan warga. Kemiri disebut mudah didapat di Belu, sehingga masyarakat tidak perlu bergantung pada pasokan dari luar kabupaten untuk memulai produksi.
Di sisi manfaat produk, minyak kemiri sudah dikenal luas untuk perawatan rambut. Produk ini kerap dikaitkan dengan manfaat membuat rambut lebih sehat, subur, dan mengilap, yang membuatnya punya peluang pasar jika pengemasan dan distribusinya dilakukan dengan baik.
Peluang pemasaran lebih luas
Tri juga menyoroti pentingnya pemasaran digital agar produk dari Belu tidak hanya berputar di tingkat lokal. Ia menyebut media sosial dapat menjadi jalur untuk menjangkau pembeli yang lebih luas di seluruh Indonesia.
Dorongan itu sejalan dengan harapan agar usaha minyak kemiri tidak berhenti pada kelompok tertentu saja. Tri ingin lebih banyak warga ikut terlibat, termasuk anak-anak dan tetangga di lingkungan sekitar, sehingga pengembangannya berjalan sebagai usaha bersama.
Langkah seperti ini dinilai bisa memperluas manfaat ekonomi dari satu komoditas lokal. Produksi yang konsisten, menurut Tri, memang tidak langsung memberi hasil besar, tetapi tetap dapat menciptakan dampak nyata bagi penguatan ekonomi keluarga.
Dari rumah tangga ke produk unggulan daerah
Minyak kemiri Belu dipandang memiliki posisi unik karena lahir dari sumber daya yang tersedia di daerah sendiri dan diolah dengan cara sederhana. Kombinasi bahan baku yang mudah didapat, proses organik, dan peluang pasar membuatnya relevan untuk didorong menjadi produk unggulan daerah.
Tri menekankan bahwa usaha kecil seperti ini dapat menjadi pintu masuk ekonomi yang lebih luas bila dijalankan dengan serius. Dengan dukungan pelatihan, koordinasi kelembagaan, dan pemasaran yang tepat, minyak kemiri Belu berpeluang berkembang dari kebutuhan rumah tangga menjadi komoditas yang memberi nilai tambah bagi masyarakat Kabupaten Belu.
Source: www.viva.co.id






