
Sousse menampilkan wajah Tunisia yang jarang habis dibaca dalam satu kunjungan. Kota pesisir ini menyimpan jejak peradaban lebih dari dua ribu tahun, dengan warisan sejarah yang masih hidup di tengah aktivitas warganya.
Daya tarik itu membuat Sousse tidak sekadar dikenal sebagai kota pantai di Laut Mediterania. Letaknya yang strategis sejak masa kuno menjadikannya titik pertemuan perdagangan, budaya, dan pengaruh kekuasaan dari berbagai periode.
Kota tua yang tetap bernyawa
Bagian paling menonjol dari Sousse ada pada Medina of Sousse, kawasan kota tua yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Lorong sempit, tembok kota, bangunan bersejarah, pasar tradisional, dan permukiman yang masih digunakan warga membuat kawasan ini terasa tua sekaligus aktif.
Keaslian kawasan itu menjadi alasan Sousse masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1988. Pengakuan tersebut menegaskan nilai historis kota tua Sousse sebagai contoh penting tata ruang abad pertengahan yang masih bertahan hingga kini.
Jejak perdagangan dari masa Fenisia
Sejarah Sousse erat dengan jalur perdagangan laut. Kota ini didirikan oleh bangsa Fenisia sebagai pusat perdagangan karena posisinya yang strategis di pesisir timur Tunisia.
Perannya tidak berhenti di masa awal itu. Pada masa Romawi hingga Dinasti Aghlabiyah, pelabuhan Sousse tetap penting untuk arus barang dan aktivitas ekonomi di kawasan Mediterania.
Minyak zaitun dari wilayah Sahel termasuk komoditas yang diperdagangkan melalui jalur laut dari kota ini. Posisi itu memperlihatkan bagaimana Sousse tumbuh sebagai kota pesisir yang sejak lama terhubung dengan ekonomi lintas wilayah.
Warisan yang tersimpan di museum
Jejak masa lalu Sousse juga terlihat jelas di Museum Arkeologi Sousse. Museum ini dikenal memiliki koleksi mosaik Romawi terbesar kedua di Tunisia, dengan banyak temuan berasal dari Sousse dan daerah sekitarnya.
Koleksinya menampilkan tokoh mitologi, kehidupan sehari-hari, dan aktivitas masyarakat pada masa Romawi. Selain mosaik, museum ini juga menyimpan patung marmer dan artefak bersejarah lain yang membantu membaca kehidupan di Tunisia pada era tersebut.
Keberadaan koleksi itu membuat Sousse tidak hanya penting sebagai kota tua, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan bukti visual tentang kehidupan masa lalu. Dari satu tempat, pengunjung bisa melihat bagaimana seni dan sejarah saling bertaut dalam peradaban Mediterania.
Pesisir yang memberi identitas lain
Di luar sisi historisnya, Sousse juga dikenal sebagai “Mutiara Sahel”. Julukan itu muncul dari pesona garis pantainya yang membentang di pesisir Mediterania.
Hamparan pasir yang luas dan air laut yang jernih memberi kota ini identitas sebagai destinasi pesisir yang kuat. Iklimnya yang relatif nyaman di kawasan Sahel Tunisia membuat Sousse kerap dipilih untuk berenang, berjalan santai di tepi pantai, atau menikmati pemandangan laut.
Perpaduan antara kota tua dan pantai membuat Sousse tampil berbeda dari banyak kota bersejarah lain. Dalam satu wilayah, warisan masa lampau dan daya tarik wisata bahari berjalan berdampingan tanpa saling menutupi.
Tempat bertemunya banyak peradaban
Sousse menjadi saksi pengaruh Fenisia, Romawi, Arab, Ottoman, hingga Prancis. Pengaruh yang datang silih berganti itu membentuk wajah kota dan meninggalkan peninggalan yang masih terlihat sampai sekarang.
Bangunan, situs arkeologi, dan karya seni dari periode yang berbeda tersebar di kota ini. Karena itu, Sousse sering dipandang sebagai salah satu kota di Tunisia yang paling kuat merekam pertemuan budaya dan peradaban dalam satu ruang sejarah.
Kombinasi antara kota tua, pelabuhan bersejarah, museum arkeologi, dan garis pantai membuat Sousse punya karakter yang padat lapisan. Kota ini menunjukkan bahwa sebuah destinasi pesisir bisa sekaligus menjadi arsip hidup bagi perjalanan panjang Mediterania.
Source: www.idntimes.com




