
Segmen paling barat Sesar Baribis kini jadi sorotan karena tampil seperti “diam” selama lebih dari seabad. Namun, tenang bukan berarti aman, terutama bagi Jakarta dan wilayah penyangganya yang berada di kawasan dengan kerentanan gempa tinggi.
Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Tectonophysics menunjukkan bagian sesar yang membentang hingga selatan Serang, Banten, itu tidak memperlihatkan aktivitas seismik yang jelas. Temuan ini membuat pertanyaan lama kembali muncul: apakah Jakarta benar-benar bisa disebut aman dari gempa?
Aktivitas yang nyaris tak terlihat
Peneliti dari ITB bersama tim pakar gempa memasang tujuh borehole seismometer dan sembilan seismometer permukaan di sepanjang segmen barat Sesar Baribis. Pengamatan dilakukan dari September 2024 hingga Juli 2025 untuk menangkap mikrogempa yang kerap luput dari jaringan pemantau biasa.
Selama hampir 10 bulan, hanya terdeteksi 14 gempa dangkal dengan magnitudo 2,0 hingga 3,4. Setelah dianalisis, sebagian besar gempa itu tidak berkaitan langsung dengan pergerakan Sesar Baribis bagian barat.
Dua gempa yang terekam di Banten dinilai lebih mungkin terkait sesar mendatar lokal di sekitar Serang atau aktivitas panas bumi di kawasan Gunung Karang. Dari data ini, peneliti tidak menemukan bukti seismik yang menunjukkan segmen paling barat Sesar Baribis sedang bergerak.
Catatan sejarah yang juga sunyi
Hasil lapangan itu diperkuat oleh penelusuran katalog gempa historis dari Pusat Studi Gempa Nasional. Tidak ada catatan gempa kerak dangkal yang berasal dari segmen tersebut selama lebih dari satu abad.
Kondisi itu membuat segmen ini tampak sangat tenang dalam waktu yang panjang. Tetapi bagi peneliti, ketenangan justru menjadikannya misteri geologi yang belum terjawab tuntas.
Data deformasi kerak bumi berbasis Global Positioning System atau GPS juga memberi petunjuk serupa. Nilai dilatasi positif di wilayah segmen barat menunjukkan kerak bumi tidak sedang mengalami tekanan kompresi yang biasanya mendorong aktivitas sesar naik.
Mengapa bisa tampak diam
Ada beberapa kemungkinan yang menjelaskan mengapa segmen ini terlihat sunyi. Salah satunya, laju pergerakan sesar sangat lambat sehingga pelepasan energi baru terjadi dalam rentang ratusan hingga ribuan tahun.
Kemungkinan lain adalah deformasi berlangsung perlahan tanpa memunculkan gempa yang terdeteksi, atau dikenal sebagai aseismic creep. Ada juga kemungkinan segmen itu justru terkunci, sehingga tegangan menumpuk tanpa pelepasan dalam bentuk gempa.
Peneliti juga menyebut kemungkinan adanya stress shadow atau bayangan tegangan dari sistem sesar lain di sekitarnya. Kondisi itu dapat membuat aktivitas gempa tampak mereda untuk sementara waktu.
Sinyal tektonik yang lebih rumit
Studi ini juga mengarah pada dugaan adanya reorganisasi sistem tektonik di bagian barat Pulau Jawa. Berdasarkan pola gempa, data GPS, dan bukti geomorfologi, sebagian deformasi yang sebelumnya dikaitkan dengan Sesar Baribis diduga bergeser ke selatan, terutama ke wilayah Bogor.
Peneliti juga melihat kemungkinan adanya interaksi antara sistem tektonik Sumatera dan Jawa di bagian barat Pulau Jawa. Temuan ini menunjukkan distribusi tegangan di kawasan tersebut lebih rumit dari yang selama ini dipahami.
Meski segmen paling barat Sesar Baribis tampak tenang, para peneliti menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan. Wilayah itu tetap bagian dari sistem sesar naik belakang busur yang aktif secara regional dan berada di kawasan dengan kerentanan tinggi terhadap bencana gempa.
Jakarta belum bisa dianggap aman begitu saja
Pengamat gempa bumi Daryono juga mengingatkan bahwa sesar yang lama diam justru layak dipantau serius. Ia menilai energi tektonik bisa terus terkumpul di dalam kerak bumi meski tidak sering memunculkan gempa.
“Dalam kebencanaan, yang paling berbahaya sering kali bukan sesar yang sering gempa, melainkan sesar yang lama diam tetapi terus mengakumulasi energi,” ujarnya kepada Beritasatu.com. Ia menegaskan bahwa tidak adanya gempa selama puluhan hingga ratusan tahun bukan bukti keamanan.
Pernyataan itu sejalan dengan temuan studi terbaru yang tidak menemukan aktivitas seismik pada segmen paling barat Sesar Baribis, baik selama masa pengamatan maupun dalam catatan sekitar 100 tahun terakhir. Peneliti tetap tidak menutup kemungkinan adanya aktivitas sesar di masa mendatang.
Karena itu, survei geologi yang lebih baru, pemetaan sesar yang lebih rinci, serta penguatan jaringan pemantauan gempa dan GPS dinilai penting. Langkah itu dibutuhkan untuk memahami dinamika sesar dan memperkuat kesiapsiagaan bencana di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Source: www.beritasatu.com




