RayNeo mencoba menaikkan kelas kacamata pintar lewat X3 Pro, model flagship yang menggabungkan Gemini AI dengan layar dual micro LED waveguide. Hasilnya adalah perangkat yang terdengar sangat maju, tetapi belum tentu mudah dijangkau banyak orang.
Masalah utamanya bukan di fitur, melainkan di akses pasar dan distribusi. Di saat RayNeo mendorong kemampuan seperti pengenalan wajah, identifikasi objek, dan estimasi kalori, ketersediaan perangkat ini masih menjadi penghambat terbesar untuk adopsi yang lebih luas.
X3 Pro di posisi paling premium
Di ajang AWE 2026, RayNeo memperkenalkan tiga model kacamata pintar canggih dengan fokus pada layar bertenaga AI, teknologi micro LED waveguide, dan fungsi extended reality atau XR. Dari tiga perangkat itu, X3 Pro ditempatkan sebagai model paling premium.
Perangkat ini dirancang untuk pengguna yang menginginkan pengalaman visual tinggi dalam format yang ringkas dan portabel. Dual micro LED waveguide displays dipakai untuk mengejar kejernihan gambar yang lebih baik dan field of view yang luas.
Gemini AI membuat fungsinya jauh lebih praktis
Integrasi Gemini AI menjadi nilai jual utama X3 Pro karena kacamata ini tidak hanya menampilkan informasi, tetapi juga memahami lingkungan sekitar pengguna. Kemampuan itu membuka fungsi seperti facial recognition, object identification, dan calorie estimation langsung dari perangkat yang dikenakan di wajah.
RayNeo menempatkan fitur-fitur itu untuk skenario yang cukup luas, mulai dari navigasi perkotaan, pelacakan kebugaran, hingga kebutuhan profesional. Pendekatannya jelas: menjadikan kacamata pintar sebagai alat bantu harian, bukan sekadar aksesori teknologi.
Tetap menarik, tapi tidak untuk semua kantong
Posisi premium juga membawa konsekuensi yang tidak kecil. Harga yang tinggi disebut bisa membatasi minat pengguna yang mencari opsi lebih terjangkau, meski perangkat ini menawarkan kemampuan yang lebih lengkap.
Dengan kata lain, X3 Pro memang menjadi sorotan utama karena kombinasi AI dan visualnya, tetapi daya tarik itu masih sangat bergantung pada seberapa siap pasar menerima banderol premium.
GT Max lebih murah, namun hambatannya belum hilang
RayNeo juga menyiapkan GT Max sebagai opsi yang lebih ramah anggaran untuk masuk ke dunia XR. Model ini membawa 3 Degrees of Freedom tracking, field of view 59 derajat, dan audio Bang & Olufsen.
GT Max diposisikan untuk pemakaian kasual dan penggunaan harian, sehingga portofolio RayNeo terlihat lebih seimbang antara model premium dan model yang lebih mudah dijangkau. Namun, masalah distribusi tetap menjadi batu sandungan utama.
Saat ini GT Max hanya tersedia di pasar China, sehingga konsumen internasional harus menempuh jalur impor yang rumit atau mencari akses lewat perjalanan ke luar negeri. Kondisi itu membuat akses global masih jauh dari ideal.
Rencana berikutnya masih samar
RayNeo juga memberi petunjuk soal model masa depan yang disebut akan melanjutkan keberhasilan Inmo Go 3. Perangkat itu dikabarkan akan membawa layar ringkas dan kemampuan berbasis AI, dengan spekulasi rilis pada 2027.
Detailnya masih sangat terbatas, termasuk soal fitur final, harga, dan pasar peluncuran. Sampai masalah distribusi benar-benar dibenahi, keunggulan Gemini AI di X3 Pro tetap datang bersama satu catatan besar: perangkat ini menarik, tetapi belum tentu mudah dibeli di banyak wilayah.







