Rasa syukur kerap dipahami sebagai ucapan terima kasih, padahal kebiasaan ini juga dapat mengubah cara seseorang memandang hidup. Saat perhatian tidak terus tertuju pada masalah dan kekurangan, hal-hal sederhana yang masih berjalan baik bisa terasa lebih berarti.
Perubahan sudut pandang tersebut berkaitan dengan kebahagiaan, kepuasan hidup, dan perasaan memiliki tujuan. Bersyukur bukan berarti menuntut diri agar selalu ceria, melainkan memberi ruang untuk melihat nilai di tengah situasi yang tidak selalu mudah.
Kebahagiaan Tidak Hanya Berarti Perasaan Senang
Psikolog positif sekaligus profesor University of California, Riverside, Sonja Lyubomirsky menjelaskan bahwa kebahagiaan bukan hanya emosi menyenangkan yang muncul sesaat. Konsep ini juga mencakup kepuasan terhadap hidup, tujuan yang dirasakan, serta pengalaman emosi positif yang hadir secara konsisten.
Rasa syukur dapat membantu seseorang memindahkan fokus dari hal yang belum dicapai ke hal yang telah dimiliki. Dukungan dari orang terdekat, kesempatan menjalani rutinitas, atau momen tenang dalam keseharian dapat menjadi pengalaman yang lebih dihargai.
Sikap ini tidak mengharuskan seseorang mengabaikan kekecewaan, tekanan, maupun masalah yang sedang dihadapi. Sebaliknya, rasa syukur dapat menjadi jeda dari pola pikir yang sepenuhnya berpusat pada kekurangan.
Dr. Amy E. Keller, PsyD, psikolog sekaligus terapis pernikahan dan keluarga, menilai rasa syukur mendukung unsur-unsur penting dalam kehidupan yang memuaskan. Unsur tersebut meliputi tujuan hidup, kedekatan dengan orang lain, harga diri, kepuasan, dan kemampuan menikmati momen menyenangkan.
“Ketika saya berbicara tentang kebahagiaan dengan klien, saya menekankan pentingnya memiliki tujuan hidup, merasa terhubung dengan orang lain, menumbuhkan kepuasan, harga diri, dan tentu saja menikmati momen-momen menyenangkan. Rasa syukur mendukung semua aspek tersebut,” kata Keller, seperti dikutip Kompas.com dari Verywell Mind.
Membantu Menguatkan Hubungan dengan Orang Lain
Rasa syukur juga berkaitan dengan kualitas relasi sosial karena seseorang menjadi lebih sadar atas bantuan, perhatian, dan kebaikan yang diterimanya. Ketika penghargaan itu disampaikan secara tulus, kepercayaan dan kedekatan dalam hubungan dapat tumbuh.
Menurut Keller, pengalaman bersyukur melibatkan neurotransmiter yang terkait dengan suasana hati serta ikatan sosial. Dopamin dikaitkan dengan rasa senang, serotonin membantu mengatur suasana hati, sedangkan oksitosin berhubungan dengan rasa percaya, kedekatan, dan ikatan sosial.
Dalam sisi psikologis, kebiasaan ini dikaitkan dengan optimisme yang lebih baik dan harga diri yang lebih kuat. Seseorang juga dapat lebih terbantu dalam mengelola emosi negatif ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan.
Hal penting yang perlu dipahami, rasa syukur bukanlah bentuk penyangkalan terhadap pengalaman sulit. Praktik ini dapat berjalan berdampingan dengan pengakuan bahwa seseorang sedang lelah, sedih, kecewa, atau membutuhkan bantuan.
Dampak yang Dikaitkan dengan Kondisi Fisik
Manfaat bersyukur tidak hanya dirasakan dalam emosi dan hubungan sosial. Berbagai penelitian mengaitkan kebiasaan ini dengan perhatian yang lebih besar terhadap tubuh, termasuk melalui olahraga, pola makan yang lebih baik, dan kepedulian terhadap kesehatan.
Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang dan tidak menggantikan upaya menjaga kondisi tubuh maupun mencari pertolongan profesional saat dibutuhkan. Namun, sejumlah manfaat berikut dikaitkan dengan kebiasaan bersyukur dalam kehidupan sehari-hari.
- Mengurangi tingkat stres.
- Membantu menurunkan tekanan darah.
- Meningkatkan kualitas tidur.
- Mengurangi persepsi terhadap rasa nyeri.
- Mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh.
- Membantu menjaga kesehatan jantung.
Dalam konteks kesehatan mental, rasa syukur dapat menjadi cara sederhana untuk membangun pijakan emosional saat tekanan datang. Seseorang dapat mulai memperhatikan satu atau beberapa hal kecil yang masih memberi dukungan tanpa perlu memaksa diri untuk merasa baik-baik saja.
Kebiasaan tersebut juga dapat membantu membangun ketangguhan ketika menghadapi masa sulit. Kemampuan menemukan sisi yang tetap bernilai di tengah tantangan dapat membuat seseorang menghadapi tekanan dengan lebih tenang.
Rasa syukur pada akhirnya merupakan latihan untuk menyadari nilai hubungan, pengalaman, serta hal sederhana yang kerap terlewat dalam rutinitas. Dengan cara ini, menikmati hidup tidak hanya bergantung pada pencapaian besar, tetapi juga pada kemampuan menghargai apa yang hadir hari ini.







