Pemerintah menempatkan pengendalian inflasi 2027 sebagai prioritas yang tidak bisa dipisahkan dari stabilitas fiskal dan nilai tukar. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan target inflasi berada di rentang 1,5% hingga 3,5%, dengan perhatian utama pada pangan dan energi.
Target itu muncul di tengah tekanan harga yang masih terasa pada 2026, saat rupiah juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat risiko imported inflation ikut masuk dalam radar kebijakan pemerintah.
Harga pangan dan energi jadi titik rawan
Purbaya menekankan bahwa pengendalian inflasi harus dijalankan lewat sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Tujuannya menjaga harga tetap terkendali tanpa menekan pasar keuangan dan likuiditas.
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, ia juga menyoroti perlunya koordinasi yang lebih kuat dengan otoritas moneter agar kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras. Pemerintah ingin menghindari crowding out effect yang bisa muncul bila dua kebijakan itu tidak terjaga harmoninya.
Tekanan harga masih meluas
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 3,08% secara tahunan, naik dari 2,42% pada April. Indeks Harga Konsumen juga bergerak dari 108,07 pada Mei 2025 menjadi 111,4 pada Mei 2026.
Angka itu lebih tinggi dari konsensus yang memperkirakan inflasi Mei 2026 sebesar 2,94%. Kenaikan harga juga tidak terkonsentrasi di satu kelompok saja, melainkan menyebar ke hampir seluruh kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan dan minuman naik 4,94%, transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,70%, dan pendidikan 1,15%. Kelompok perawatan pribadi mencatat lonjakan tertinggi, yakni 10,35%.
Postur fiskal 2027 disusun lebih hati-hati
Selain target inflasi, pemerintah juga menyiapkan sejumlah indikator makroekonomi untuk menjaga ketahanan fiskal. Defisit APBN 2027 dipatok pada kisaran 1,80% hingga maksimal 2,40% dari PDB.
Pendapatan negara ditargetkan berada pada 11,82% hingga 12,40% dari PDB, sementara belanja negara diproyeksikan 13,62% hingga 14,80% dari PDB. Pemerintah juga menetapkan suku bunga SBN tenor 10 tahun di rentang 6,5% hingga 7,3%.
| Indikator 2027 | Target |
|---|---|
| Inflasi | 1,5%–3,5% |
| Defisit APBN | 1,80%–2,40% dari PDB |
| Pendapatan negara | 11,82%–12,40% dari PDB |
| Belanja negara | 13,62%–14,80% dari PDB |
| Suku bunga SBN 10 tahun | 6,5%–7,3% |
Pertumbuhan dan energi ikut menopang arah kebijakan
Pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% sebagai landasan menuju target 8% pada 2029. Di sektor energi, asumsi harga minyak mentah Indonesia atau ICP dipasang pada kisaran US$70 hingga US$95 per barel.
Postur itu juga memuat target lifting minyak bumi 602.000 hingga 615.000 barel per hari dan lifting gas bumi 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak per hari. Seluruh asumsi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah ingin menjaga inflasi tetap jinak sambil mempertahankan ruang pertumbuhan ekonomi.







