Pelemahan saham teknologi di Wall Street langsung merembet ke pasar global dan menekan bursa Asia serta Eropa. Di saat yang sama, ketegangan Amerika Serikat dan Iran membuat investor semakin berhati-hati, sementara harga minyak ikut menguat.
Perpaduan dua sentimen itu membuat pergerakan aset berisiko cenderung rapuh. Pasar kini menimbang dampak geopolitik yang kembali meningkat, di tengah aksi jual yang lebih dulu menghantam sektor teknologi.
Tekanan dari Wall Street menyebar cepat
Aksi jual saham teknologi di Wall Street menjadi pemicu awal pelemahan di berbagai kawasan. Indeks-indeks utama Asia dan Eropa dibuka dengan kecenderungan turun, mencerminkan kekhawatiran yang masih kuat di kalangan pelaku pasar.
Tekanan itu semakin besar setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. Menurut laporan AP, langkah tersebut dilakukan setelah sebuah helikopter militer AS jatuh di dekat Selat Hormuz dan Presiden Donald Trump menyebut insiden itu disebabkan oleh tindakan Iran.
Eropa dibuka beragam, tetapi arah umum tetap melemah
Di bursa Eropa, FTSE 100 Inggris turun 0,1% ke 10.223,39. DAX Jerman melemah 0,3% menjadi 24.368,28, sedangkan CAC 40 Prancis naik tipis kurang dari 0,1% ke 8.210,03.
Pergerakan yang tidak seragam itu menunjukkan pasar masih mencari arah di tengah tekanan eksternal. Namun, sentimen umum di kawasan tersebut tetap cenderung negatif.
Kospi jadi yang paling terpukul di Asia
Pasar Asia mencatat pelemahan yang lebih tajam, terutama di Korea Selatan. Indeks Kospi anjlok 4,5% ke 7.730,82 setelah sehari sebelumnya sempat melonjak tajam.
Tekanan besar datang dari saham teknologi unggulan. Samsung Electronics turun 6,1%, sementara SK Hynix merosot 7,5%, menandakan aksi ambil untung sekaligus kekhawatiran yang membebani sektor chip.
Di Jepang, Nikkei 225 turun 1,9% menjadi 64.179,27. Pelemahan itu terjadi setelah data menunjukkan indeks harga produsen Jepang naik 6,3% pada Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun.
Pergerakan lain masih campuran
Di Hong Kong, Hang Seng melemah 0,6% ke 24.407,96. Shanghai Composite China juga turun 0,4% menjadi 3.993,23, menandakan tekanan masih terasa di pasar daratan.
Di kawasan Asia Pasifik lainnya, S&P/ASX 200 Australia justru menguat 0,6%. Bursa Taiwan turun 3,3%, sedangkan Sensex India naik 0,8%, memperlihatkan pola yang masih campuran meski kecenderungan umumnya melemah.
Ketegangan AS-Iran dan penguatan minyak membuat investor menahan diri lebih lama. Dalam kondisi seperti ini, volatilitas pasar global tetap tinggi, terutama pada saham-saham teknologi dan aset yang sensitif terhadap sentimen risiko.
Source: www.beritasatu.com






