Ponorogo mulai menunjukkan cara berbeda dalam mengerek produktivitas jagung. Bukan sekadar memperluas lahan, daerah ini mengandalkan kolaborasi pemerintah, swasta, dan petani untuk mendorong hasil panen yang lebih tinggi di tengah tekanan perubahan iklim dan keterbatasan lahan.
Model kerja sama itu terlihat dalam panen raya jagung di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Ponorogo, Jawa Timur, yang melibatkan Bayer Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Kehadiran pejabat pemerintah, akademisi, perusahaan, dan kelompok tani memperlihatkan bahwa penguatan pangan kini bertumpu pada kerja bersama di lapangan.
Teknologi jadi kunci utama
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa target swasembada pangan nasional menuntut peningkatan produktivitas. Ia menilai perluasan lahan saja tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan produksi yang semakin kompleks.
“Penguatan ketahanan pangan tidak cukup hanya melalui perluasan lahan tanam. Kita perlu meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi pertanian,” ujar Hanif dalam keterangan tertulis. Ia juga menyebut kolaborasi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta seperti Bayer sebagai contoh yang bisa memperkuat sentra produksi daerah.
Pendekatan itu diterapkan lewat penggunaan varietas jagung hibrida Dekalb DK19C di lahan Ponorogo. Evaluasi teknis di Desa Pijeran disebut menunjukkan performa agronomi yang baik dan memberi gambaran bahwa inovasi benih bisa langsung dipakai di tingkat petani.
Ponorogo punya modal besar
Data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menunjukkan produksi jagung nasional masih bergerak positif. Pada Januari 2026, luas panen jagung pipilan nasional mencapai 0,24 juta hektare, naik 11,17 persen dibanding Januari 2025 yang sebesar 0,22 juta hektare.
Dalam periode yang sama, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen diperkirakan mencapai 1,38 juta ton. Angka itu naik 11,09 persen dari 1,25 juta ton pada Januari 2025.
| Indikator | Januari 2025 | Januari 2026 |
|---|---|---|
| Luas panen jagung pipilan nasional | 0,22 juta hektare | 0,24 juta hektare |
| Produksi jagung pipilan kering 14% | 1,25 juta ton | 1,38 juta ton |
Di tingkat daerah, Ponorogo masuk jajaran 10 besar penghasil jagung di Jawa Timur. Luas panen jagung di wilayah ini mencapai sekitar 39.046 hektare dengan produksi 284.242 ton pada 2025, atau produktivitas rata-rata 7,28 ton per hektare.
Posisi itu membuat Ponorogo dipandang punya peran penting dalam mendukung target swasembada pangan nasional. Karena itu, dorongan peningkatan hasil tidak hanya ditujukan pada kuantitas panen, tetapi juga efisiensi biaya dan kualitas hasil yang diterima petani.
Benih unggul dan manfaat ekonomi
Dari sisi perusahaan, Bayer menempatkan inovasi benih sebagai alat untuk memperbaiki hasil usaha tani. Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia, Aditia Rusmawan, mengatakan inovasi pertanian harus memberi manfaat langsung bagi petani.
“Melalui teknologi benih jagung hibrida Dekalb, kami ingin membantu petani meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil panen yang bernilai ekonomi lebih baik,” kata Aditia.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan Dekalb DK19C menunjukkan bagaimana inovasi berbasis sains bisa diterapkan di lapangan untuk mendorong pertanian jagung yang lebih maju dan berkelanjutan. Bayer juga menyampaikan rencana memperkenalkan benih jagung Dekalb DK 19S dan DK 09S yang memiliki teknologi bioteknologi untuk melindungi tanaman dari hama di atas permukaan tanah seperti penggerek jagung dan ulat grayak.
Benih DK19S dan DK09S juga disebut memiliki toleransi terhadap herbisida Roundup Ready 2. Bagi petani, keunggulan teknologi semacam ini dinilai penting karena rendemen yang tinggi dan kadar air yang rendah saat panen dapat memangkas biaya pengeringan.
Pengalaman petani di lapangan
Manfaat penggunaan benih unggul juga dirasakan langsung oleh petani. Miswanto, petani jagung asal Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo, menyebut pertumbuhan tanaman lebih seragam setelah memakai benih Dekalb DK19C.
“Selain produksinya lebih tinggi, biaya juga lebih efisien karena kualitas panennya baik. Pendampingan budidaya dari Bayer juga membuat kami lebih percaya diri menerapkan teknologi baru di lahan,” ujarnya.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa produktivitas tidak hanya diukur dari tonase panen, tetapi juga dari kemampuan menekan input dan memperbesar margin keuntungan bersih. Dalam konteks pertanian jagung, hasil maksimal dengan biaya yang lebih terkendali menjadi indikator penting bagi keberlanjutan usaha tani.
Model yang bisa diperluas
Kehadiran pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, perusahaan, dan kelompok tani dalam panen raya di Pijeran memperlihatkan model kolaborasi yang dapat diperluas ke sentra produksi lain. Pola seperti ini menempatkan petani bukan sekadar penerima teknologi, tetapi bagian dari proses inovasi yang diuji langsung di lahan.
Di Ponorogo, kerja sama semacam itu menjadi relevan karena daerah ini sudah memiliki basis produksi jagung yang kuat. Dengan dukungan teknologi benih, pendampingan budidaya, dan kebijakan yang mendorong efisiensi, upaya meningkatkan produktivitas jagung bisa berjalan lebih terarah dan memberi dampak ekonomi yang lebih nyata bagi petani.
Source: www.viva.co.id






