Polusi udara selama ini sering dipandang sebagai ancaman bagi paru-paru dan jantung. Namun, udara yang kotor juga bisa ikut mengganggu kondisi psikologis, dari stres hingga depresi.
Sejumlah temuan menunjukkan bahwa paparan yang berlangsung terus-menerus tidak hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga dapat menekan fungsi kognitif dan emosi. Dalam jangka panjang, kualitas udara yang buruk berpotensi mengubah cara seseorang menjalani hari-harinya.
Dampaknya meluas ke kesehatan mental
Psikolog Widya Solihat Eka Riani menilai kualitas lingkungan ikut membentuk emosi dan kualitas hidup sehari-hari. Dalam diskusi “Akademi Udara Bersih: From Wisdom to Impactful Action” yang diselenggarakan Bicara Udara dan Guidelight, ia menegaskan bahwa apa yang dihadapi seseorang di luar rumah ikut menentukan rasa aman dan kesejahteraan mental.
Pandangan itu sejalan dengan studi Air Pollution Effects on Mental Health Relationships: Scoping Review on Historically Used Methodologies to Analyze Adult Populations. Riset tersebut menunjukkan adanya kaitan antara paparan polusi udara dan penurunan kesehatan mental, termasuk meningkatnya risiko stres, kecemasan, dan depresi.
Udara kotor juga mengubah perilaku harian
Dampak polusi udara tidak selalu muncul dalam bentuk gangguan biologis yang langsung terasa. Kondisi udara yang buruk dapat membuat seseorang enggan beraktivitas di luar ruang, mengurangi interaksi sosial, dan lebih sering khawatir terhadap kesehatan diri maupun keluarga.
Rangkaian kebiasaan itu bisa menumpuk menjadi beban psikologis. Jika berlangsung lama, kualitas hidup ikut turun karena ruang gerak, kebiasaan sosial, dan rasa nyaman dalam beraktivitas menjadi terbatas.
Lingkungan yang sehat ikut menopang emosi
Widya menekankan bahwa kesehatan mental tidak hanya ditentukan oleh faktor internal. Lingkungan sekitar, termasuk udara yang dihirup setiap hari, ikut membentuk pengalaman emosional seseorang.
Ia juga mengatakan bahwa udara yang kotor dapat memicu suasana hati yang buruk dan memengaruhi kualitas hidup secara umum. Karena itu, upaya memperbaiki udara tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga kesehatan mental.
Perbaikan udara perlu dikerjakan bersama
Menurut Widya, menjaga kualitas lingkungan bukan hanya tugas individu. Ia menilai upaya itu membutuhkan keterlibatan bersama karena manusia hidup dalam ruang yang saling terhubung, bukan dalam lingkungan yang terpisah satu sama lain.
Ia menyoroti pentingnya dukungan sosial saat menghadapi persoalan lingkungan. “Kalau yang berjuang sendirian pasti capek. Tapi kalau dilakukan bersama-sama akan muncul connection,” ujarnya.
Keterlibatan kolektif bukan hanya membantu memperbaiki lingkungan, tetapi juga memperkuat hubungan antarmasyarakat. Dalam konteks kesehatan mental, rasa terhubung dan dukungan sosial bisa menjadi penopang penting saat kualitas udara terus menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari.
