Kepolisian di ibu kota Peru, Lima, menggerebek rumah mantan kepala lembaga pemilu nasional di tengah meningkatnya kemarahan publik atas lambatnya penghitungan suara pemilihan presiden. Operasi itu berlangsung saat hasil akhir pemilu pada 12 April belum juga tuntas, meski 95 persen surat suara sudah dihitung.
Penggerebekan tersebut menambah tekanan pada otoritas pemilu yang sedang menjadi sorotan karena tuduhan kecurangan dan proses rekapitulasi yang berjalan lambat. Di saat yang sama, misi pemantau pemilu Uni Eropa di Peru menyatakan tidak menemukan indikasi penipuan.
Penggerebekan terhadap mantan pimpinan pemilu
Aparat masuk ke rumah Piero Corvetto, mantan kepala National Office of Electoral Processes atau ONPE, berdasarkan surat perintah pengadilan. Menurut laporan media lokal RPP, unit polisi antikorupsi juga membawa telepon genggam, laptop, dan sejumlah dokumen dari lokasi tersebut.
Langkah itu tidak berhenti di satu tempat. Polisi juga menggeledah kediaman lima pejabat lain, sementara kantor Galaga, perusahaan swasta yang mengangkut surat suara pemilu, ikut menjadi sasaran operasi yang sama.
Corvetto kemudian mengundurkan diri pada Selasa. Ia membantah adanya kesalahan atau penyimpangan dalam proses pemilu dan menyebut keputusannya diambil dengan harapan bisa membantu meningkatkan kepercayaan publik.
Kritik menguat di tengah tuduhan kecurangan
Operasi polisi muncul saat suasana politik di Peru memanas akibat minimnya selisih suara di papan atas dan lambatnya penghitungan akhir. Tuduhan bahwa pemilu tidak sah makin ramai dibicarakan, terutama karena proses rekapitulasi belum juga selesai ketika hampir seluruh surat suara telah masuk hitungan.
Namun, tuduhan itu belum didukung bukti kuat dari pihak yang menggugat. Meski demikian, beberapa tokoh politik tetap melontarkan serangan keras terhadap penyelenggara pemilu, sehingga tekanan terhadap lembaga terkait terus membesar dari hari ke hari.
Salah satu suara paling keras datang dari Rafael Lopez Aliaga, mantan wali kota sayap kanan ekstrem Lima, yang masih bersaing ketat untuk posisi kedua. Ia menuduh Corvetto sebagai “penjahat” dan berjanji akan mengejarnya “sampai dia mati”, pernyataan yang memperuncing ketegangan politik menjelang putaran berikutnya.
Peta persaingan suara masih ketat
Dengan 95 persen suara sudah dihitung, kandidat sayap kanan sekaligus mantan ibu negara Keiko Fujimori berada di posisi teratas dengan 17 persen suara. Hasil itu membuatnya hampir pasti melaju ke putaran kedua yang dijadwalkan berlangsung pada 7 Juni.
Di belakangnya, Roberto Sanchez dari kubu kiri menempati posisi kedua tipis dengan 12,03 persen. Lopez Aliaga menyusul amat dekat di bawahnya dengan 11,9 persen, atau sekitar 20.000 suara dari Sanchez, sehingga persaingan untuk tempat kedua menjadi sangat ketat.
Selama proses itu berlangsung, Lopez Aliaga terus menyebut pemilu tidak sah meski belum menunjukkan bukti untuk memperkuat klaim tersebut. Kondisi ini membuat perhatian publik tertuju bukan hanya pada siapa yang memimpin perolehan suara, tetapi juga pada kredibilitas lembaga yang mengawasi pemilu.
Menurut pengacara Corvetto, Ricardo Sanchez Carranza, hakim telah mengesahkan penggerebekan itu, tetapi menolak permintaan jaksa agar Corvetto ditahan sementara. Ia menyebut proses hukum tetap berjalan di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap penghitungan suara yang belum rampung.
Hasil akhir penghitungan suara dijadwalkan keluar pada 15 Mei, dan sampai saat itu tensi politik di Peru masih berpotensi terus naik. Persaingan yang rapat, tuduhan yang saling bertentangan, serta penyelidikan kepolisian membuat situasi pemilu Peru tetap berada dalam fase paling sensitif.







