Di Pemakaman Khamenei, Seruan Kematian Trump Menggema di Tengah Lautan Pelayat

Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Tehran berubah menjadi panggung politik yang keras. Di tengah lautan pelayat, seruan kematian Donald Trump menggema dan langsung disambut sorakan massa.

Momen itu memperlihatkan bagaimana suasana duka bercampur dengan kemarahan lama terhadap Amerika Serikat dan Israel. Poster, coretan, hingga slogan yang menyerukan kekerasan terhadap Trump dan Benjamin Netanyahu tampak di antara kerumunan berbaju hitam.

Seruan anti-Amerika mendominasi prosesi

Penyair Iran, Mohammad Rasouli, memimpin massa meneriakkan slogan “Matilah Amerika!” dan “Matilah Israel!” sebelum menyebut Trump secara langsung melalui pengeras suara. Ia juga bertanya, “Mengapa manusia paling bejat di dunia itu masih hidup?”

Ucapannya disambut sorak-sorai para pelayat, dan massa kembali bergemuruh saat ia menegaskan bahwa dunia tidak lagi menjadi tempat yang baik bagi Trump. Di prosesi itu, pesan perlawanan terhadap Washington dan Tel Aviv terdengar sangat dominan.

Jumlah pelayat meningkat, pesan politik makin tegas

Jumlah peserta pada Minggu disebut jauh lebih besar dibandingkan sehari sebelumnya. Ribuan warga berjalan menuju lokasi sambil membawa spanduk dan bendera untuk menghormati Khamenei.

Sejumlah peserta juga membawa poster yang berisi seruan agar Trump dibunuh. Kehadiran massa dalam jumlah besar membuat prosesi ini terlihat bukan hanya sebagai momen berkabung, tetapi juga ruang untuk menunjukkan solidaritas politik terhadap arah baru kepemimpinan Iran.

Di waktu yang sama, Trump berbicara di Washington dalam rangka peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat. Dalam pidatonya, ia mengatakan, “Dalam beberapa waktu terakhir kami meraih keberhasilan yang luar biasa. Lihat Venezuela, lihat Iran. Kami menghancurkannya, kami melumpuhkan kekuatan militernya.”

Latar konflik Iran dan Amerika Serikat belum mereda

Ancaman terhadap Trump bukan hal baru dalam hubungan tegang antara kedua negara. Otoritas federal Amerika Serikat disebut telah memantau berbagai ancaman dari Iran terhadap Trump dan sejumlah pejabat pemerintahannya selama beberapa tahun terakhir.

Latar ketegangan itu berkaitan dengan keputusan Trump pada 2020 yang memerintahkan serangan hingga menewaskan Jenderal Qassem Soleimani. Soleimani adalah komandan Pasukan Quds, bagian dari Garda Revolusi Iran, dan kematiannya menjadi titik penting dalam permusuhan antara Teheran dan Washington.

Pemerintah Iran berulang kali membantah memiliki rencana untuk membunuh Trump. Namun, berbagai materi propaganda dari kelompok garis keras di Iran selama bertahun-tahun kerap menampilkan Trump sebagai salah satu target mereka.

Di sisi lain, Trump juga beberapa kali melontarkan ancaman terhadap Iran selama perang berlangsung. Salah satu pernyataannya bahkan menyebut akan menghancurkan peradaban negara tersebut, yang makin memperkeruh hubungan kedua pihak.

Pemakaman Khamenei menjadi panggung politik baru

Prosesi pemakaman Khamenei dinilai bukan hanya acara duka, tetapi juga panggung politik yang berpotensi memperkuat posisi pemerintahan teokrasi Iran. Acara itu juga disebut dapat meningkatkan dukungan terhadap pemimpin tertinggi yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang merupakan putra Khamenei.

Kondisi ini menjadi penting karena Iran tengah berupaya memanfaatkan pengaruhnya atas Selat Hormuz dalam perundingan dengan Amerika Serikat mengenai penghentian perang secara permanen. Di saat bersamaan, kekhawatiran tetap muncul bahwa Israel bisa kembali melancarkan serangan.

Khamenei sendiri memimpin Iran selama beberapa dekade sebelum tewas pada usia 86 tahun akibat serangan udara pada 28 Februari, di awal pecahnya perang Iran. Prosesi pemakamannya pun berubah menjadi cerminan suasana politik Iran saat ini, dengan pesan keras terhadap musuh-musuh regional dan internasional yang masih terus menggema di tengah kerumunan besar pelayat.

Source: www.viva.co.id
Terkait