Gelombang Panas Mematikan di Eropa, Pejabat Paris Salahkan Emisi AS dan Budaya AC

Gelombang panas ekstrem yang menyapu Eropa kembali memicu perdebatan soal siapa yang paling bertanggung jawab atas krisis iklim. Di Prancis, suhu yang melampaui 40 derajat Celsius telah dikaitkan dengan sedikitnya 1.300 kematian berlebih sejak akhir Juni.

Di tengah situasi itu, pejabat Paris Audrey Pulvar justru menyorot kebiasaan energi di Amerika Serikat, terutama penggunaan pendingin udara yang sangat masif. Pulvar menilai emisi gas rumah kaca dari AS ikut memperburuk pemanasan global yang kini membuat gelombang panas di Eropa semakin mematikan.

Sorotan Pulvar ke Amerika Serikat

Pulvar, yang menjabat Wakil Wali Kota Paris untuk hubungan internasional, menyampaikan kritiknya lewat media sosial. Ia menegaskan bahwa negara-negara penghasil emisi besar punya tanggung jawab atas dampak iklim yang kini dirasakan Prancis dan kawasan Eropa.

Ia juga menanggapi sindiran sejumlah turis Amerika yang mengejek minimnya fasilitas pendingin udara di Prancis saat suhu udara mencapai 104 derajat Fahrenheit. Menurut Pulvar, kritik seperti itu tak cukup jika tidak dibarengi perubahan perilaku yang nyata.

Pesan utamanya jelas, yaitu warga Amerika diminta berhenti menggurui dan mulai bertindak menghadapi krisis iklim. Dalam pernyataannya, Pulvar menempatkan emisi besar dan budaya penggunaan energi sebagai bagian dari persoalan yang sama.

Perdebatan soal AC di Prancis

Prancis selama ini dikenal lambat mengadopsi pendingin udara. Sekitar 25 persen rumah tangga di negara itu memiliki AC, dan angka rendah tersebut dipengaruhi faktor lingkungan, budaya, serta aturan bangunan.

Namun, gelombang panas yang makin sering dan makin ekstrem mulai mengubah pandangan itu. Kebutuhan akan AC meningkat, meski penggunaannya tetap menuai perdebatan karena dinilai bisa menambah beban lingkungan.

Fakta UtamaData dari Prancis
Kematian berlebihSetidaknya 1.300 sejak akhir Juni
Suhu yang disebutMelampaui 40 derajat Celsius
Rumah tangga dengan ACSekitar 25 persen
Korban yang paling banyak terdampakKelompok lanjut usia

Dampak kesehatan dan peringatan otoritas

Badan kesehatan publik Prancis menyebut sebagian besar korban meninggal merupakan lansia. Otoritas setempat juga memperingatkan jumlah korban berpotensi terus bertambah selama suhu ekstrem masih berlangsung.

Para ilmuwan menilai gelombang panas kali ini termasuk yang terburuk dalam sejarah Eropa. Laporan World Weather Attribution bahkan menyebut fenomena itu hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim.

Perbandingan dengan tragedi sebelumnya membuat situasinya terlihat semakin berat. Kondisi saat ini disebut melampaui gelombang panas mematikan pada 2003 yang menewaskan sekitar 15.000 orang di Prancis, sehingga tekanan untuk beradaptasi kian besar.

Source: www.suara.com
Terkait