Banyak orang salah paham saat pasangan atau diri sendiri ingin mendapat kejelasan dalam hubungan. Menurut psikolog klinis Sabrina Romanoff, sikap itu tidak otomatis berarti clingy, melainkan bisa menjadi tanda bahwa hubungan sedang berjalan sehat dan ada keterlibatan emosional yang nyata.
Kesalahpahaman ini makin mudah muncul di budaya kencan modern, terutama di era aplikasi kencan yang membuat banyak orang memilih tampil santai dan menahan perasaan. Akibatnya, kebutuhan untuk bicara terbuka sering dianggap berlebihan, padahal justru bisa membantu hubungan tetap jelas sejak awal.
Mengapa permintaan kepastian sering disalahartikan
Dalam budaya “swipe”, sikap cuek kerap dipuji sebagai cara aman untuk memulai hubungan. Di sisi lain, keterbukaan sering dicurigai sebagai tanda keputusasaan, meski kenyataannya tidak selalu demikian.
Romanoff menjelaskan bahwa hubungan baru bisa memicu luka lama, termasuk rasa pengabaian dan penolakan. Karena itu, wajar bila seseorang merasa cemas dan ingin tahu dengan pasti posisi hubungan yang sedang dijalani.
Keinginan meminta kepastian justru menunjukkan bahwa hubungan tersebut penting. Sikap itu juga menandakan seseorang peduli, terlibat, dan sedang mengandalkan instingnya untuk membaca situasi.
| Perilaku | Ciri Utama | Dampak pada Hubungan |
|---|---|---|
| Pencarian kepastian yang sehat | Mengenali rasa tidak aman, menyebutkannya, lalu menyampaikan perasaan dengan percaya diri | Membantu hubungan tetap jelas dan terbuka |
| Clingy | Terus mencari validasi dari luar tanpa pernah benar-benar puas | Memicu overthinking dan pertengkaran |
Bedanya sehat dan berlebihan
Romanoff membedakan pencarian kepastian yang sehat dari perilaku clingy dengan cukup tegas. Langkah yang sehat dimulai dari mengenali saat diri merasa tidak aman, lalu menyebutkan perasaan itu, dan kemudian menyampaikannya kepada pasangan dengan tenang.
Sebaliknya, clingy digambarkan seperti rasa lapar yang tidak pernah selesai terhadap validasi dari luar. Apa pun respons yang diterima, kebutuhan itu tidak pernah benar-benar terpuaskan dan justru bisa memicu overthinking.
Situasi ini sering berujung pada pertengkaran karena seseorang terus mencari bukti bahwa pasangannya peduli. Di baliknya, ada pertanyaan yang sering tidak diucapkan langsung, yakni apakah pasangan benar-benar menginginkan kehadirannya.
Keterbukaan membantu hubungan tetap nyata
Menurut Romanoff, menutup perasaan dan terus menampilkan sisi terbaik bisa membuat hubungan terasa semu. Jika pola ini dibiarkan, hubungan juga bisa menjadi melelahkan karena tidak ada ruang untuk kerentanan yang wajar.
Keamanan emosional muncul ketika kebutuhan disampaikan dengan cara yang bisa didengar pasangan. Cara ini membantu kedua pihak membahas hal penting tanpa membuat salah satu merasa diserang.
Contohnya, seseorang bisa mengatakan bahwa ia belum yakin dengan arah hubungan dan ingin membicarakannya. Contoh lain, seseorang bisa menjelaskan bahwa ia merasa cemas jika tidak mendapat kabar selama lebih dari 24 jam.
Pendekatan seperti itu memberi ruang bagi pasangan untuk merespons dengan tenang. Di saat yang sama, hubungan juga tetap jelas, terbuka, dan tidak dipenuhi asumsi.
Tanda kematangan emosional, bukan kelemahan
Romanoff menilai keberanian meminta apa yang dibutuhkan sebagai hal yang kuat dalam hubungan. Ia menyebut sikap itu sebagai tanda kematangan emosional, bukan kelemahan.
Bagi banyak orang, masalahnya bukan terlalu banyak bicara, melainkan takut terlihat rapuh. Padahal, keterbukaan yang tepat justru dapat membantu pasangan membangun rasa aman bersama sejak awal.
Di tengah budaya kencan yang sering mendorong orang untuk terlihat santai, kemampuan mengungkapkan kebutuhan dengan jujur menjadi pembeda penting. Justru dari situlah hubungan bisa dibangun dengan lebih jernih, tanpa harus menyamarkan perasaan yang memang sedang ada.
Source: www.beautynesia.id






