NEOMIR Didesain Memburu Asteroid di Silau Matahari, Celah yang Selama Ini Sulit Dipantau

Author: Cung Media

Ancaman asteroid tidak hanya datang dari benda langit yang mudah dilacak. Yang paling sulit justru adalah objek yang bergerak dari arah Matahari, karena kilau terang membuat pantulan cahayanya nyaris tenggelam dari pandangan.

Situasi itu menjadi perhatian serius karena asteroid tidak memancarkan cahaya sendiri. Dari Bumi, objek semacam ini baru terlihat jika ada cukup cahaya Matahari yang dipantulkannya, dan pada sudut tertentu sinyal itu bisa hilang di balik silau yang sangat kuat.

Celah pengamatan yang ingin ditutup ESA

Selama ini, sistem pemantauan luar angkasa yang dipakai badan antariksa seperti NASA disiapkan untuk mendeteksi asteroid berbahaya sebelum mendekat ke Bumi. Jika objek itu ditemukan cukup awal, wahana antariksa bahkan bisa dikirim untuk mencegat dan mengubah arahnya.

Masalahnya, sistem semacam itu jauh lebih efektif untuk objek yang sudah terlihat sejak awal. Asteroid yang melintas di depan cakram Matahari atau terlalu dekat ke arah itu jauh lebih sulit dipantau, sehingga ancamannya bisa luput dari pengamatan.

Untuk menutup celah tersebut, Badan Antariksa Eropa atau ESA sedang mengembangkan misi Near-Earth Object Mission in the Infrared, atau NEOMIR. Misi ini dirancang khusus untuk menemukan asteroid yang tersembunyi di dekat arah Matahari dan tidak mudah terlihat dari Bumi.

Orbit L1 dan pengamatan inframerah

NEOMIR akan ditempatkan di titik Lagrange pertama atau L1, di antara Matahari dan Bumi. Posisi ini memberi sudut pandang yang tepat untuk mengamati asteroid yang datang dari arah Matahari, dengan konfigurasi yang juga digunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb.

Keunggulan NEOMIR tidak hanya ada pada orbitnya. Teleskop ini akan memakai pengamatan inframerah, bukan cahaya tampak, sehingga tanda panas dari asteroid bisa ditangkap meski objeknya gelap dan sulit terlihat dalam spektrum biasa.

Pendekatan itu penting karena tidak semua asteroid memantulkan cahaya dengan cara yang sama. Ada yang lebih terang, tetapi ada juga yang jauh lebih gelap, dan kelompok terakhir inilah yang paling sulit ditemukan dengan teleskop optik.

Misi Fokus Jadwal Ciri Utama
NEOMIR Asteroid dari arah Matahari Target peluncuran sekitar 2030 Orbit L1 dan inframerah
Near-Earth Object Surveyor Asteroid dan komet berbahaya Jadwal meluncur pada 2027 Inframerah, target 30 juta mil dari orbit Bumi

Bekerja bersama misi NASA

ESA menyebut NEOMIR akan bekerja berdampingan dengan Near-Earth Object Surveyor milik NASA. Misi NASA itu dijadwalkan meluncur pada 2027 dan juga memakai inframerah untuk menemukan asteroid serta komet berbahaya.

NEO Surveyor ditargetkan mengidentifikasi objek yang melintas dalam jarak 30 juta mil dari orbit Bumi. Misi itu juga dibangun untuk menemukan 90 persen objek dekat Bumi yang berdiameter lebih dari 140 meter.

NEOMIR memiliki peran berbeda karena dirancang untuk mencari objek dari ukuran apa pun selama berpotensi menjadi ancaman. Dengan kata lain, keduanya saling melengkapi dalam membangun lapisan deteksi yang lebih rapat.

Pengembangan teknologi masih berjalan

NEOMIR sendiri belum dibangun dan masih berada dalam tahap pengembangan. ESA saat ini menyiapkan teknologi intinya, termasuk detektor dan sistem elektronik yang dibutuhkan untuk misi tersebut.

Rencananya, teleskop yang dikembangkan akan berukuran setengah meter dengan detektor untuk dua kanal inframerah pada rentang gelombang 5–10 mikrometer. Kombinasi itu diharapkan membuat pengamatan cincin dekat Matahari menjadi lebih efektif dibanding pemantauan dari permukaan Bumi.

Bila seluruh rencana berjalan sesuai target, NEOMIR akan mengisi area pengamatan yang selama ini sulit dijangkau teleskop biasa. Lapisan deteksi tambahan ini memberi peluang lebih besar untuk menemukan asteroid berbahaya sebelum objek itu bergerak terlalu dekat ke Bumi.

Terbaru