Vietnam kini berada di posisi teratas Asia Tenggara dalam pemanfaatan AI di dunia kerja. Data terbaru Microsoft menunjukkan 39% tenaga kerja di Vietnam masuk kategori AI-forward professionals, jauh di atas rata-rata global yang hanya 16%.
Angka itu menandakan AI di Vietnam sudah bergerak melewati tahap uji coba. Teknologi ini mulai dipakai sebagai bagian dari alur kerja harian, tetapi di saat yang sama juga memunculkan tekanan besar agar pekerja dan perusahaan bisa beradaptasi lebih cepat.
Adopsi yang Melaju Lebih Cepat dari Banyak Negara
Microsoft sebelumnya juga menempatkan Vietnam di peringkat kedua Asia Tenggara dalam adopsi AI lewat laporan Global AI Diffusion. Posisi itu menguatkan gambaran bahwa Vietnam menjadi salah satu pasar paling aktif untuk AI di kawasan.
Laporan terbaru Microsoft ini memakai analisis khusus untuk Vietnam, dengan data yang bersumber dari produktivitas anonim Microsoft 365 dan survei terhadap 2.000 pekerja berbasis pengetahuan di negara tersebut. Dari hasil itu, terlihat bahwa penggunaan AI tidak lagi terbatas pada kelompok kecil pekerja teknologi.
AI Memberi Ruang Kerja yang Lebih Luas
Microsoft mencatat 76% responden di Vietnam mengaku kini mampu menghasilkan pekerjaan atau capaian yang sebelumnya tidak bisa mereka lakukan setahun lalu. Di kelompok AI-forward professionals, angkanya bahkan mencapai 83%.
Temuan itu menunjukkan AI mulai membantu pekerja memperluas kapasitas kerja mereka. Namun, pemanfaatannya belum berarti pekerja menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.
Sebanyak 89% responden mengatakan hasil dari AI hanya menjadi titik awal untuk berpikir, bukan jawaban akhir. Mereka tetap mengevaluasi, menganalisis, dan memikul tanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Pekerja Masih Menjaga Kemampuan Manual
Di tengah penggunaan AI yang tinggi, lebih dari separuh responden tetap mengerjakan sejumlah tugas tanpa bantuan AI agar kemampuan profesional mereka tidak menurun. Mereka juga menilai dengan cermat pekerjaan mana yang layak didelegasikan ke AI dan mana yang harus tetap ditangani manusia.
Pola itu memperlihatkan bahwa AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti penuh peran pekerja. Bagi banyak profesional, menjaga ketajaman keterampilan manual tetap dianggap penting meski teknologi semakin dominan.
Pemimpin Perusahaan Mulai Memberi Arah
Dari sisi organisasi, Microsoft mencatat 48% pemimpin perusahaan di Vietnam memiliki arah yang jelas dan konsisten dalam penerapan AI. Angka ini jauh melampaui rata-rata global yang sebesar 26%.
Selain itu, satu dari tiga responden mengatakan mereka mendapat pengakuan atau penghargaan saat mencoba cara baru dalam memakai AI, meski hasilnya belum langsung terlihat. Kondisi ini memberi sinyal bahwa sebagian perusahaan mulai membuka ruang untuk eksperimen teknologi di tempat kerja.
Tekanan Adaptasi Tidak Kalah Besar
Meski pemakaian AI tumbuh cepat, tekanan untuk ikut beradaptasi juga makin terasa. Empat dari lima responden di Vietnam mengaku khawatir tertinggal jika tidak segera menyesuaikan diri dan menggunakan AI dalam pekerjaan mereka.
Microsoft menyebut situasi ini sebagai transformation paradox, ketika pekerja ingin bergerak cepat tetapi sistem evaluasi, proses kerja, dan insentif perusahaan belum ikut berubah dengan kecepatan yang sama. Akibatnya, adopsi AI berjalan lebih cepat daripada pembaruan tata kelola organisasi.
Managing Director Microsoft untuk pasar berkembang, termasuk Vietnam, Dhanawat Suthumpun, menilai laju adopsi AI di Vietnam mencerminkan potensi besar tenaga kerja dan ekonominya. Ia juga menegaskan bahwa teknologi tidak otomatis menghasilkan transformasi jika perusahaan tidak memperbarui sistem operasional dan tata kelolanya.
“Organisasi yang memimpin di era AI adalah mereka yang menggunakan AI untuk membentuk kembali cara bekerja, membuka model produktivitas baru, dan menciptakan nilai lebih bagi karyawan maupun pelanggan,” ujar Dhanawat.
Dengan tingkat adopsi yang tinggi, dukungan pemimpin perusahaan yang mulai lebih jelas, dan pekerja yang tetap kritis terhadap peran AI, Vietnam kini tampil sebagai contoh paling menonjol tentang bagaimana AI masuk ke dunia kerja di Asia Tenggara.
