Monyet Berbibir Oranye dari Kongo Jadi Spesies Baru, Habitatnya Terancam

Seekor monyet hitam dengan warna oranye mencolok di sekitar mulut dan hidung akhirnya diakui sebagai spesies baru dari Republik Demokratik Kongo. Primata bernama Colobus congoensis ini hidup di kawasan hutan terpencil yang persebarannya sangat terbatas.

Penemuan likweli, sebutan masyarakat setempat untuk primata tersebut, langsung memunculkan kekhawatiran konservasi. Habitatnya berada di wilayah yang rentan terdampak penyusutan hutan, sementara peneliti merekomendasikan status terancam punah dalam Daftar Merah IUCN.

Penemuan Langka dalam Studi Primata Afrika

Pengakuan Colobus congoensis sebagai spesies tersendiri menjadi peristiwa penting dalam kajian primata Afrika. Likweli disebut sebagai spesies monyet Afrika kelima yang baru diidentifikasi dalam 75 tahun terakhir.

Populasi ini ditemukan di kawasan antara Sungai Lomami dan Sungai Lualaba di Republik Demokratik Kongo. Letak yang terisolasi membantu menjelaskan mengapa primata tersebut lama tidak tercatat sebagai spesies berbeda.

Jenis primataWilayah yang disebutkanKeterangan
Colobus congoensisAntara Sungai Lomami dan Lualaba, Republik Demokratik KongoSpesies baru yang dikenal sebagai likweli
Monyet colobus hitamKamerun, Gabon, dan Pulau BiokoKerabat terdekat likweli

Wajah Oranye Menjadi Penanda Utama

Likweli memiliki bulu hitam mengilap yang membuat warna pada wajahnya terlihat semakin kontras. Area di sekitar mulut dan hidungnya berwarna oranye, sementara pipinya memperlihatkan kulit abu-abu tanpa bulu seperti topeng.

Ciri fisik khas lain berada di bagian belakang tubuhnya. Spesies ini memiliki bercak putih di sekitar anus yang dapat terlihat jelas ketika tubuhnya diamati dari belakang.

Antropolog Florida Atlantic University, Kate Detwiler, menyebut wajah dan bagian belakang tubuh sebagai dua pembeda utama likweli. “Kalau melihat wajahnya, akan terlihat kulit telanjang berwarna krem oranye ini. Kemudian kalau dilihat dari belakang, akan tampak bercak putih tersebut,” katanya.

Jejaknya Berawal dari Kamera di Hutan Lomami

Petunjuk awal keberadaan monyet ini muncul dari rekaman kamera yang buram di Taman Nasional Lomami pada 2008. Hewan serupa kembali tertangkap kamera sepuluh tahun kemudian, sehingga pencarian terhadap identitasnya dilakukan lebih serius.

Junior Amboko, peneliti Taman Nasional Lomami yang juga antropolog di Florida Atlantic University, membawa foto primata itu kepada warga sekitar taman. Tim lalu memperlihatkan gambar tersebut kepada penduduk di 52 desa.

Pengetahuan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam pelacakan karena warga mengenal fauna dan flora di hutan sekitar. Namun, hanya penduduk dari delapan desa yang mengenali monyet tersebut, termasuk pemburu yang memahami hewan buruan di wilayah itu.

Pengenalan terbatas di sejumlah desa itu memperkuat dugaan bahwa likweli bukan monyet colobus yang umum dikenal di kawasan lain. Menurut laporan Kompas.com, petunjuk dari warga kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan sampel biologis dan data pembanding.

Analisis Genetik Menepis Dugaan Populasi Lama

Peneliti menganalisis sampel jaringan dari monyet yang mati di tangan pemburu. Sampel tersebut lalu dibandingkan dengan koleksi museum serta data genetik dari monyet colobus lain.

Hasil pemeriksaan menunjukkan likweli bukan sekadar populasi lokal dari spesies yang telah diketahui sebelumnya. Bagian genom mitokondrianya dinilai sangat berbeda dibandingkan monyet colobus lain yang telah dianalisis.

Detwiler mengatakan laboratoriumnya menerima sampel jaringan untuk diuji secara genetik. “Kami terkejut melihat betapa berbedanya bagian genom mitokondria monyet ini dari monyet colobus lainnya,” ujarnya.

Terpisah Jutaan Tahun dari Kerabatnya

Kerabat terdekat likweli justru hidup sekitar 1.200 kilometer dari wilayah penemuannya. Monyet colobus hitam yang berkerabat dekat dengan spesies ini ditemukan di Kamerun, Gabon, dan Pulau Bioko.

Detwiler memperkirakan kedua garis keturunan itu berpisah antara 3,44 juta hingga 5,78 juta tahun lalu. Jarak pemisahan tersebut disebut sebagai yang terpanjang pernah tercatat dalam genus Colobus.

Persebaran yang kecil membuat kelangsungan hidup likweli sangat bergantung pada perlindungan hutan di antara Sungai Lomami dan Lualaba. Peneliti merekomendasikan C. congoensis masuk kategori terancam punah dalam Daftar Merah IUCN karena ancaman kehilangan habitat.

Terkait