Google Cloud Soroti 2 Keunggulan Manusia, AI Belum Bisa Meniru Empati dan Adaptasi

Kemajuan kecerdasan artifisial terus mengubah cara kerja, tetapi Google Cloud menilai manusia masih memiliki dua keunggulan yang sulit ditiru AI. Dua kemampuan itu adalah empati dalam memahami orang lain serta adaptasi untuk menemukan cara baru menghadapi perubahan.

Pandangan tersebut menempatkan AI bukan sebagai pengganti seluruh peran manusia, melainkan alat yang dapat membantu pekerjaan. Peran manusia tetap penting ketika sebuah situasi membutuhkan pemahaman emosi, konteks sosial, dan penalaran yang tidak semata-mata berangkat dari data.

Dua Kemampuan yang Disorot Google Cloud

KemampuanKeunggulan ManusiaRelevansinya di Era AI
EmpatiMemahami emosi dan kondisi orang lainMembantu membangun koneksi serta merespons situasi sosial dengan tepat
AdaptasiMenciptakan pendekatan baru dalam bekerjaMemanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks

Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, Moe Abdula, mengatakan kemampuan manusia telah melewati berbagai gelombang perubahan teknologi. Menurutnya, teknologi dapat mendukung banyak tugas, namun tidak sepenuhnya menggantikan sisi manusia dalam menjalin koneksi.

“Saya pikir ada keterampilan manusia yang akan bertahan, dan mereka telah melewati semua pergeseran teknologi di masa lalu. Kemampuan kita untuk memiliki empati dan koneksi adalah hal yang sangat manusiawi,” kata Moe pada Rabu (15/7/2026).

Empati Menjadi Pembeda dalam Interaksi Nyata

Empati Manusia terlihat dalam kemampuan merasakan kondisi orang lain, memahami emosi, lalu memberikan respons yang sesuai. Kemampuan ini menjadi penting saat seseorang harus berinteraksi langsung dalam keadaan yang rumit atau penuh tekanan.

Moe mencontohkan pekerjaan kepolisian yang sering berhadapan dengan masyarakat dalam situasi sulit. Upaya meredakan ketegangan, memahami persoalan, dan membantu seseorang menentukan langkah dinilai membutuhkan penalaran serta kepekaan manusia.

Situasi semacam itu tidak hanya berkaitan dengan jawaban yang tepat secara teknis. Ada kebutuhan untuk membaca kondisi sosial dan memilih cara berkomunikasi yang sesuai dengan orang yang dihadapi.

Karena itu, pekerjaan yang bertumpu pada interaksi sosial masih memerlukan peran manusia. Google Cloud memandang empati sebagai salah satu alasan AI belum dapat mengambil alih seluruh fungsi yang selama ini dijalankan manusia.

Adaptasi Membuka Cara Kerja Baru

Keunggulan lain yang disorot adalah Adaptasi Manusia, yaitu kemampuan untuk terus menyesuaikan diri sekaligus menciptakan pendekatan baru. AI bekerja berdasarkan data dan instruksi yang diberikan manusia, sehingga responsnya berkaitan dengan hal-hal yang telah dipelajari.

Manusia dapat melangkah lebih jauh dengan mencari cara baru untuk menggunakan teknologi dalam pekerjaan. Kemampuan itu dinilai makin penting ketika perubahan teknologi datang semakin cepat.

Moe mengaitkan hal tersebut dengan perubahan transportasi, dari penggunaan hewan sebagai alat angkut hingga hadirnya kendaraan modern. Perubahan itu menunjukkan manusia tidak berhenti pada satu cara, melainkan terus membangun pilihan baru seiring perkembangan teknologi.

Contoh lain muncul dalam pendidikan dan pekerjaan saat kalkulator mengubah cara manusia berhitung. Kehadiran alat tersebut tidak menghapus kebutuhan manusia, melainkan mendorong penyelesaian persoalan yang lebih kompleks.

“Manusia terus menemukan cara baru untuk bekerja dan memanfaatkan teknologi. Itu adalah keterampilan yang hanya dimiliki manusia,” kata Moe.

Dalam pandangan Google Cloud, nilai manusia di era AI tidak hanya terletak pada kemampuan menjalankan tugas. Empati dan adaptasi akan tetap menjadi pembeda ketika teknologi dipakai untuk membantu manusia menghadapi kebutuhan yang terus berubah.

Source: www.beritasatu.com
Terkait