Malam Ini Gerhana Bintang, Jejak Strenua Jadi Cara Baru Mengukur Ukurannya

Author: Cung Media

Observatorium Bosscha menyoroti fenomena okultasi asteroid (1201) Strenua yang akan melintas di depan bintang HIP 35933 (HD 58050). Peristiwa ini kerap disebut “gerhana bintang” karena cahaya bintang akan tampak hilang sesaat ketika tertutup asteroid dari sudut pandang Bumi.

Fenomena langka ini menarik perhatian bukan hanya karena visualnya, tetapi juga karena nilai ilmiahnya. Dari hilangnya cahaya bintang selama beberapa detik, astronom dapat memperoleh petunjuk penting untuk mengukur ukuran langsung dan bentuk asteroid dengan lebih akurat.

Okultasi yang memberi data penting

Okultasi asteroid terjadi saat sebuah asteroid melintas tepat di depan bintang latar. Dalam kasus Strenua, cahaya HIP 35933 akan padam sementara lalu muncul kembali setelah asteroid bergeser dari garis pandang.

Observatorium Bosscha menjelaskan, peristiwa semacam ini bisa diibaratkan seperti lampu jauh yang tertutup benda bergerak di depannya. Meski berlangsung singkat, momen itu menyimpan informasi ilmiah yang sulit didapat dari pengamatan biasa.

Data yang terkumpul dapat membantu peneliti memahami objek kecil di tata surya secara lebih detail. Informasi tentang ukuran, bentuk, dan posisi asteroid menjadi lebih presisi ketika pengamatan dilakukan dari banyak lokasi.

Pengamatan melibatkan banyak titik di Indonesia

Pengamatan Strenua tidak hanya dilakukan dari satu tempat, melainkan melibatkan 44 titik yang tersebar di 34 institusi, komunitas, dan pengamat individu. Skema ini membuat kampanye pengamatan tersebut menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia dalam kategori berbasis publik.

Keterlibatan banyak titik penting karena tiap lokasi dapat merekam bagian berbeda dari lintasan bayangan asteroid. Semakin luas sebaran pengamat, semakin kuat pula hasil untuk menentukan dimensi dan bentuk objek yang diamati.

Tim pengamat ditempatkan di beberapa lokasi strategis, termasuk Lembang yang mencakup Observatorium Bosscha dan Jayagiri, Ciater di Subang, serta Kupang di Nusa Tenggara Timur. Kupang dipilih karena kondisi cuaca dinilai lebih cerah dan berpeluang mendukung pengamatan yang lebih optimal.

Mengapa Strenua jadi target pengamatan

Asteroid (1201) Strenua berada di sabuk utama, yaitu wilayah antara Mars dan Jupiter. Objek ini tergolong redup, sehingga metode okultasi menjadi cara yang efektif untuk mempelajarinya.

Salah satu alasan utama pengamatan seperti ini penting adalah karena asteroid redup sulit diukur secara langsung dengan cara biasa. Dengan memanfaatkan hilangnya cahaya bintang secara singkat, astronom dapat menelusuri profil asteroid secara lebih akurat.

Bintang yang menjadi target dalam peristiwa ini adalah HIP 35933 (HD 58050). Data teknis yang tercantum untuk pengamatan menunjukkan koordinat RA (J2000) 07h 24m 27.648s dan Dec (J2000) 15° 31′ 1.89".

Jejaring pengamatan untuk riset bersama

Kampanye pengamatan ini juga dirancang untuk mengoordinasikan jejaring okultasi asteroid di Indonesia. Melalui pendekatan tersebut, data ilmiah dapat dikumpulkan dari beragam wilayah sekaligus melibatkan komunitas astronomi dan pengamat amatir.

Model pengamatan berbasis publik memberi ruang bagi kolaborasi yang lebih luas dalam riset astronomi. Selain memperkaya data, langkah ini juga memperkuat kemampuan nasional dalam mengamati fenomena langit langka dengan metode yang terukur.

Waktu okultasi yang dicatat untuk Observatorium Bosscha adalah 12:41.8 UT. Karena durasinya sangat singkat, ketepatan pengamatan menjadi kunci agar momen hilangnya cahaya HIP 35933 benar-benar menghasilkan data yang berguna untuk menganalisis Strenua.

Jika pengamatan berjalan baik, peristiwa singkat pada 26 April 2026 itu dapat menjadi bahan penting untuk memperbaiki pemahaman tentang asteroid sabuk utama ini. Dari satu kilatan hilang di langit, peneliti bisa mendapat ukuran langsung yang jauh lebih jelas daripada sekadar pengamatan biasa.

Source: teknologi.bisnis.com
Terbaru