Camilan Tanpa Bahan Kimia Makin Dilirik, Lemonilo Jadi yang Tumbuh Paling Cepat

Pilihan camilan kini tidak lagi hanya ditentukan oleh rasa dan harga. Semakin banyak konsumen mempertimbangkan produk yang dinilai lebih sehat, termasuk yang tidak memakai pengawet, pewarna buatan, serta penguat rasa tambahan.

Perubahan ini turut mendorong pertumbuhan camilan siap santap yang praktis dibawa dan dikonsumsi kapan saja. Di tengah persaingan kategori tersebut, Lemonilo tercatat sebagai merek dengan pertumbuhan tercepat dalam Brand Footprint 2026 di Indonesia.

Pertumbuhan dari Jangkauan Rumah Tangga

Penghargaan Fastest Growing On-the-Go Snack 2026 in Indonesia diraih Lemonilo dalam ajang Brand Footprint 2026. Pemeringkatan tahunan itu diselenggarakan oleh Worldpanel by Numerator untuk menilai merek Fast-Moving Consumer Goods atau FMCG di lebih dari 50 negara.

Penilaian Brand Footprint menggunakan Consumer Reach Points atau CRP. Metrik ini tidak sekadar melihat penjualan, tetapi juga mengukur seberapa luas sebuah merek menjangkau rumah tangga dan seberapa sering produk dibeli.

Komponen CRPYang Diukur
Populasi rumah tanggaBasis rumah tangga dalam pengukuran
Penetrasi pembelianJumlah rumah tangga yang membeli merek
Frekuensi belanjaSeberapa sering konsumen membeli produk

Laporan tersebut mencatat lonjakan signifikan CRP pada kategori camilan on-the-go untuk Lemonilo. Hasil itu menunjukkan peningkatan jangkauan sekaligus intensitas konsumen dalam memilih produk merek tersebut.

Sehat Kian Menjadi Kebutuhan Harian

Pasar makanan sehat dan kesehatan preventif kini tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan kelompok usia atau kalangan tertentu. Pemahaman bahwa kesehatan merupakan investasi telah meluas ke lebih banyak lapisan masyarakat.

Situasi itu membuka ruang pertumbuhan bagi pelaku usaha yang menawarkan makanan dengan pendekatan lebih sehat. Namun, klaim kesehatan saja dinilai belum cukup karena konsumen tetap memperhitungkan rasa, harga, dan kemudahan memperoleh produk.

Kategori camilan menjadi salah satu arena penting karena produk ini dekat dengan kebiasaan konsumsi sehari-hari. Produk yang praktis juga perlu tetap ramah di lidah dan terjangkau agar dapat diterima oleh lebih banyak keluarga.

Strategi Memperluas Akses Camilan

Lemonilo adalah perusahaan rintisan asal Jakarta Barat yang berdiri pada 2016. Perusahaan ini didirikan oleh Shinta Nurfauzia, Ronald Wijaya, dan Johannes Ardiant.

Sejak awal, Lemonilo berfokus pada makanan serta produk pendukung gaya hidup yang bebas dari material sintetis. Pada lini pangan, perusahaan tersebut menghadirkan produk tanpa pengawet, pewarna buatan, dan penguat rasa tambahan.

Fokus pada pilihan pangan yang lebih sehat kemudian diperkuat lewat pengembangan camilan siap santap. Portofolio produk juga diperluas bersamaan dengan percepatan akses pasar melalui jaringan General Trade atau pasar tradisional.

Ekspansi distribusi tersebut menjadi bagian dari upaya agar pilihan camilan lebih mudah dijangkau. Langkah itu berjalan seiring dengan kebutuhan konsumen terhadap produk yang menawarkan rasa serta harga yang tetap ekonomis.

Kepercayaan Konsumen Jadi Dorongan

Head of Consumer Insight & Marketing Intelligence Lemonilo, Lana Mutiasari, menyebut penghargaan tersebut sebagai dorongan untuk terus mengembangkan inovasi yang relevan. Menurutnya, kepercayaan masyarakat terhadap produk sehari-hari menjadi faktor penting dalam perjalanan perusahaan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan masyarakat Indonesia yang terus memilih Lemonilo sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan inovasi yang relevan, sehingga semakin banyak keluarga Indonesia memiliki akses terhadap pilihan camilan yang lebih enak dan lebih sehat tanpa harus mengorbankan rasa maupun aksesibilitas,” ujar Lana Mutiasari.

Pencapaian di Brand Footprint 2026 memperlihatkan bahwa produk yang mengurangi penggunaan bahan sintetis semakin mendapat tempat dalam konsumsi harian. Tantangan berikutnya bagi pelaku bisnis adalah menjaga keseimbangan antara inovasi, cita rasa, harga ekonomis, dan ketersediaan produk di berbagai saluran belanja.

Source: www.suara.com
Terkait