Kenaikan berat badan pada pengguna antipsikotik dapat membawa dampak yang melampaui persoalan penampilan. Kondisi ini berkaitan dengan risiko obesitas, gangguan gula darah, tekanan darah, hingga perubahan kadar lemak darah yang perlu diperhatikan selama pengobatan.
Sebuah studi acak pada pasien skizofrenia dengan prediabetes dan obesitas atau kelebihan berat badan menunjukkan adanya peluang penanganan risiko tersebut. Kelompok yang menerima semaglutide mengalami penurunan berat badan rata-rata 9,21 kilogram pada akhir penelitian tanpa perburukan gejala kejiwaan yang ditemukan selama masa studi.
Temuan pada Kelompok Pasien yang Spesifik
Penelitian bertajuk Semaglutide Treatment of Antipsychotic-Treated Patients With Schizophrenia, Prediabetes, and Obesity: The HISTORI Randomized Clinical Trial dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry. Studi ini melibatkan 154 pasien berusia 18 hingga 60 tahun yang didiagnosis skizofrenia atau gangguan terkait.
Seluruh peserta menggunakan antipsikotik generasi kedua serta memiliki prediabetes dan obesitas atau kelebihan berat badan. Karakteristik tersebut penting karena hasil penelitian ini belum dapat diterapkan begitu saja pada seluruh pasien dengan gangguan jiwa atau semua pengguna antipsikotik.
| Aspek | Data Studi | Temuan |
|---|---|---|
| Jumlah peserta | 154 pasien | Usia 18-60 tahun dengan skizofrenia atau gangguan terkait |
| Berat badan | Turun rata-rata 9,21 kilogram | Terjadi pada kelompok penerima semaglutide di akhir penelitian |
| HbA1c | Turun 0,46 persen | Menunjukkan perbaikan pengendalian gula darah |
| Profil lemak darah | Membaik | Bagian dari perbaikan kondisi metabolik yang dilaporkan |
Selain perubahan berat badan, kelompok penerima semaglutide juga mengalami penurunan kadar HbA1c sebesar 0,46 persen. Profil lemak darah kelompok ini turut dilaporkan membaik, sehingga perhatian terhadap kondisi metabolik menjadi bagian yang relevan dalam perawatan kesehatan jiwa.
Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti semaglutide otomatis sesuai untuk setiap pasien. Penggunaan terapi apa pun tetap perlu mempertimbangkan kondisi medis, riwayat pengobatan, serta pengawasan dari tenaga kesehatan yang menangani pasien.
Antipsikotik Dapat Memengaruhi Nafsu Makan dan Energi
Antipsikotik generasi kedua dapat memengaruhi sejumlah sistem di otak dan tubuh. Dampaknya dapat mencakup peningkatan nafsu makan serta perubahan metabolisme energi yang membuat berat badan lebih mudah bertambah.
Pertambahan berat badan kemudian dapat menjadi masalah berlapis bagi pasien. Selain meningkatkan risiko metabolik, efek samping ini dapat membuat sebagian pasien enggan meneruskan terapi antipsikotik yang dibutuhkan untuk menjaga kondisi kejiwaan tetap stabil.
Terputusnya pengobatan berisiko mengganggu stabilitas kondisi pasien. Karena itu, pengendalian gejala kejiwaan perlu berjalan seiring dengan perhatian terhadap perubahan fisik yang muncul selama terapi.
Pemantauan Tidak Cukup Hanya dari Angka Timbangan
Berat badan merupakan salah satu penanda yang mudah dilihat, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesehatan pasien yang memakai antipsikotik. Pemantauan rutin juga perlu mencakup gula darah, tekanan darah, dan profil lipid untuk mengenali risiko metabolik lebih awal.
Berbagai organisasi kesehatan internasional mendorong evaluasi fisik sebagai bagian dari layanan rutin bagi pasien. Pendekatan ini menempatkan kesehatan fisik dan mental sebagai dua hal yang perlu ditangani secara bersamaan, bukan terpisah.
Perubahan pada berat badan, HbA1c, tekanan darah, maupun lemak darah dapat menjadi bagian dari perjalanan pengobatan. Pencatatan dan evaluasi teratur memberi dasar bagi tenaga kesehatan untuk menyesuaikan penanganan sesuai kebutuhan pasien.
Peran Tim Kesehatan dalam Perawatan Pasien
Penanganan kenaikan berat badan dan risiko metabolik membutuhkan pendekatan multidisiplin. Psikiater dapat bekerja bersama dokter penyakit dalam atau endokrinolog, ahli gizi, perawat, psikolog, serta tenaga kesehatan lain sesuai kondisi pasien.
Kolaborasi ini membantu agar perhatian tidak berhenti pada gejala mental saja. Pasien juga dapat memperoleh pemantauan kondisi fisik yang berkelanjutan tanpa mengabaikan pentingnya terapi untuk gangguan kejiwaan.
Studi semaglutide memberi gambaran bahwa pengelolaan obesitas dan risiko metabolik dapat dipertimbangkan dalam kelompok pasien tertentu. Namun, pemilihan langkah perawatan tetap perlu dilakukan secara individual dengan mempertimbangkan kondisi tiap pasien.







