Hampir 1 dari 4 Balita di Indonesia Alami Anemia, Tanda Ringan Ini Perlu Diwaspadai

Anemia pada anak kerap tidak langsung terlihat sebagai masalah serius. Anak yang tampak pucat, cepat lelah, atau tidak seaktif biasanya bisa saja sedang mengalami kekurangan hemoglobin.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena anemia berisiko mengganggu pasokan oksigen ke jaringan tubuh. Bila berlangsung tanpa penanganan, dampaknya dapat menjalar ke perkembangan otak, kemampuan belajar, daya tahan tubuh, dan tumbuh kembang anak.

Angka Anemia pada Balita Masih Tinggi

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi anemia pada balita mencapai 23,8 persen. Angka tersebut berarti hampir satu dari empat balita di Indonesia menghadapi risiko kondisi yang dapat menghambat aktivitas dan perkembangannya.

Masalah anemia juga terjadi pada kelompok ibu hamil dengan prevalensi yang lebih tinggi. Pencegahan sejak kehamilan penting karena pemenuhan nutrisi pada awal kehidupan ikut menentukan kondisi kesehatan anak.

KelompokPrevalensi Anemia
Balita23,8 persen
Ibu hamil27,7 persen

Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Ketika jumlah hemoglobin tidak mencukupi, kebutuhan oksigen jaringan dapat terganggu dan anak lebih mudah mengalami keluhan.

Tanda yang Sering Dianggap Kelelahan Biasa

Wajah, bibir, atau bagian dalam kelopak mata yang tampak pucat termasuk tanda fisik yang perlu diperhatikan. Orang tua juga perlu mencermati bila anak berulang kali tampak lemas atau cepat kehilangan tenaga saat bermain dan beraktivitas.

Perubahan perilaku dapat muncul bersamaan dengan keluhan fisik tersebut. Anak dapat terlihat kurang aktif, nafsu makannya menurun, atau lebih sulit berkonsentrasi dibandingkan kebiasaannya.

Daya tahan tubuh yang menurun juga dapat membuat anak lebih mudah sakit. Gejala-gejala ini tidak selalu berarti anemia, tetapi perubahan yang terjadi berulang sebaiknya tidak diabaikan.

Deteksi dini menjadi penting agar anak yang berisiko dapat memperoleh penanganan sebelum dampaknya meluas. Skrining risiko kekurangan zat besi juga perlu dilakukan sejak masa kehamilan, bukan hanya saat anak sudah menunjukkan keluhan.

Kekurangan Zat Besi Menjadi Pemicu Utama

Jenis anemia yang paling sering terjadi adalah anemia defisiensi besi. Kondisi ini muncul ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga produksi hemoglobin tidak dapat berjalan secara optimal.

Dokter spesialis gizi dr Dian Novita Chandra, M Gizi, menyebut kurangnya asupan zat besi sehari-hari menjadi pemicu utama banyak kasus anemia di Indonesia. Ia menekankan pemenuhan gizi sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Menurut dr Dian, kebutuhan zat besi dapat dipenuhi melalui pola makan bergizi seimbang dengan sumber protein hewani yang kaya zat besi. “Untuk memenuhi asupan zat besi yang optimal, dapat dilakukan dengan memberikan asupan gizi seimbang yang banyak bersumber dari protein hewani yang kaya zat besi,” ujarnya dalam keterangannya.

Vitamin C turut berperan dalam membantu penyerapan zat besi di dalam tubuh. Konsumsi zat besi yang disertai vitamin C, menurut dr Dian, dapat meningkatkan penyerapannya hingga dua kali lipat.

Pangan yang telah difortifikasi zat besi dan vitamin C dapat menjadi pelengkap kebutuhan nutrisi harian anak. Namun, produk tersebut tidak menggantikan peran utama pola makan keluarga yang bergizi seimbang.

Pencegahan Memerlukan Perhatian Bersama

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi menilai tingginya angka anemia pada ibu hamil dan balita menunjukkan perlunya penguatan edukasi gizi seimbang. Pencegahan anemia membutuhkan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, serta masyarakat.

Perhatian terhadap asupan zat besi, vitamin C, dan perubahan kondisi anak dapat membantu mengenali risiko lebih cepat. Langkah pencegahan serta skrining yang dilakukan sejak dini diharapkan menjaga tumbuh kembang anak agar tidak terganggu oleh anemia yang terlambat disadari.

Terkait