Kemasan Dari Cangkang Udang Ini Bikin Sayur Tahan Dua Kali Lebih Lama, Hancur Dalam Minggu

Kemasan baru berbahan dasar hasil laut ini menarik perhatian karena menjanjikan dua keuntungan yang jarang hadir bersamaan: membuat buah dan sayuran lebih lama segar, sekaligus hancur dalam hitungan minggu. Jika masuk pasar sesuai target, material ini berpeluang menjadi alternatif serius untuk plastik sekali pakai di kemasan produk segar.

Tim peneliti dari University of Maryland menyebut bahan kemasan biodegradable itu berpotensi mulai hadir dalam kemasan komersial pada akhir tahun ini. Laporan 7News menyebut material tersebut dirancang agar punya performa setara plastik, tetapi tanpa meninggalkan limbah yang bertahan sangat lama.

Dirancang dengan kecerdasan buatan dan bahan alami

Pengembangannya menggabungkan kecerdasan buatan, machine learning, robotik, serta bahan alami seperti selulosa dan chitosan. Chitosan berasal dari cangkang udang dan kepiting, yang dipilih sebagai bagian dari upaya mencari formula pengganti plastik yang tetap kuat dan fungsional.

Project lead Dr. Po-Yen Chen mengatakan AI memangkas proses yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun menjadi sekitar tiga bulan. Sistem itu membantu menyaring banyak kombinasi material dengan cepat sampai tim menemukan formula yang dianggap cocok.

Biomolecular engineer Dr. Abhishek Sose mengatakan timnya telah menemukan material yang dicari dan berharap bisa segera melihatnya hadir di pasar. Chen juga menyebut tim sudah bekerja sama dengan mitra industri, dengan target material itu mulai terlihat di beberapa saluran distribusi, terutama untuk kemasan produk segar, pada akhir tahun.

Lebih awet dari cling film plastik biasa

Kemasan makanan harus memenuhi banyak syarat sekaligus. Bahan itu perlu tahan air, minyak, dan lemak, sambil tetap cukup kuat untuk pengiriman dan penyimpanan.

Dalam pengujian, tim mengatakan material baru ini memenuhi tuntutan tersebut. Produce yang dibungkus dengan bahan itu disebut bertahan sekitar dua kali lebih lama dibanding produce yang ditutup dengan cling film plastik biasa.

Keunggulan itu penting karena kemasan bukan hanya soal perlindungan fisik. Bagi konsumen, masa simpan yang lebih panjang bisa berarti lebih sedikit makanan terbuang, terutama untuk buah dan sayuran yang sering cepat rusak di rumah maupun di toko.

Mengapa pengganti plastik ini jadi sorotan

Plastik konvensional bisa bertahan selama ratusan tahun dan perlahan terpecah menjadi mikroplastik. Partikel kecil itu telah ditemukan di tanah, air, makanan, hingga tubuh manusia, sementara para ilmuwan masih terus mempelajari dampak kesehatannya secara menyeluruh.

Karena itu, penggantian di titik awal seperti kemasan makanan dianggap sangat berarti. Jika bahan baru ini diproduksi luas, dampaknya bisa mencakup pengurangan sampah plastik, penurunan paparan terhadap polusi plastik yang menetap, dan berkurangnya limbah makanan.

Sose menyebut plastik sebagai “a design problem” karena sering dipakai hanya beberapa menit, tetapi bertahan selama berabad-abad. Ia juga mengatakan material baru ini berpotensi jauh lebih murah dibanding banyak pilihan ramah lingkungan yang sudah ada.

Peluang bagi konsumen dan pasar

Bagi rumah tangga, manfaat yang paling langsung mungkin datang dari dua sisi: makanan yang lebih awet dan pengeluaran yang lebih efisien. Jika produce bertahan lebih lama, keluarga bisa lebih mudah mengatur belanja dan mengurangi pemborosan.

Namun, tantangan bagi bahan pengganti plastik tetap besar. Para peneliti selama ini mencari alternatif yang murah, efektif, dan cepat terurai, tetapi sangat sedikit yang mampu menyamai kinerja plastik konvensional sekaligus memperpanjang kesegaran produk.

Dorongan pribadi di balik proyek ini juga datang dari pengalaman lapangan. Chen mengatakan arah risetnya terbentuk saat melihat seekor penyu laut mencoba memakan kantong plastik yang mengapung ketika sedang menyelam di Palau, dan pengalaman itu sangat mengejutkannya.

Exit mobile version